Malam itu,
Dengan langit malam yang tidak begitu gelap, serta cahaya bintang bintang yang tampak berkerlipan di langit,
Di sebuah rumah mewah dengan tipe minimalis,
'Tok. Tok'.
Sehun memejamkan mata. Masih sangat terlelap.
'Tok. Tok'.
Ia sedikit menggeliat. Menyadari jisoo turun dari tempat tidurnya.
Sehun mencoba membuka mata.
Melihat jisoo kembali menutup pintu dengan menggendong seorang anak lelaki kecil dengan piama spiderman.
Anak kecil itu menenggelamkan kepalanya di leher jisoo, membuat sehun tersenyum.
Jisoo duduk di tempat tidur sambil mengelus punggungnya menenangkan.
"Anak appa kenapa?". Tanya sehun kearahnya.
"Younghoon mimpi buruk appa". Sahut jisoo mewakilkan.
"Oh ya? Bagaimana bisa mimpi buruk? Siapa yang berani ganggu younghoon?"
Sehun mengelus rambut hitam lebat younghoon.
"Appa.., younghoon takut..". Lirihnya dengan netra coklat yg menatap sehun dengan polos.
"Ah yaampun anak appa...". Sehun mengambil alih younghoon dari jisoo. Memeluknya dan mengecup puncak kepala anak kecil ini.
Tanpa sadar beberapa buliran bening dari sudut mata namja ini mengalir begitu saja.
Ia membuka matanya.
Menyadari mimpi terindah yang baru saja dimimpikannya.
Sehun menghapus air matanya. Menatap kearah istrinya yang masih terbaring sangat lemah dihadapannya.
Merutuk kenapa ia tidak bisa menjadi kuat didepan jisoo.
Sementara itu, didepan pintu ruangan,
Eomma dan appa sehun terdiam sebentar didepan pintu kamar dengan nomor 77 itu, keduanya seakan menguatkan diri sebelum memasukinya.
Sudah empat hari menantu mereka terbaring tanpa tanda tanda apapun.
Appa sehun menggeser pintu, memandang lurus kearah namja yang sedang duduk di sofa dengan memejamkan matanya.
Eomma sehun meletakkan plastik berisi buah dan makanan keatas meja. Ia menghela pelan melihat ada makanan tadi malam yg belum tersentuh sama sekali.
"Hun, kau bersih bersih dulu sana. Sekalian makan". Tegur appa sehun.
"Aniya, sebentar lagi".
"Hun". Tegas lelaki paruh baya itu.
Sehun membuka matanya. Dengan terpaksa akhirnya ia berdiri dan beranjak pergi dari kamar itu dengan menatap kearah jisoo.
Sehun menutup pintu.
Berpapasan dengan dokter jeon yang baru saja ingin masuk.
"Tuan." tegurnya.
Tanpa disambung lebih lanjut sehun mengangguk dan mengikuti dokter jeon. Mereka berdua berjalan ke sudut bangunan kaca.
Sehun menunduk. Tidak siap sama sekali.
"Maaf sebelumnya, tapi saya akan langsung saja. Saya sudah mengatakan di awal. Dan sekarang kondisi nyonya semakin parah. Beliau bertahan hanya karena selang oksigen, tuan".
