23🍃

1.8K 213 22
                                        

Please Vote & Comment


🍃


Hari demi hari, minggu demi minggu, dan bulan demi bulan. Berhasil mereka lewati walau jarak yang menyiksa. Suka dan tak lepas dari duka pun ikut turut serta dalam kisah cinta mereka selama menjalin hubungan jarak jauh. Tapi untungnya saja keduanya tidak memiliki ego yang tinggi, dan saling memberi kepercayaan penuh. Jadi itu adalah kunci mempertahankan suatu hubungan yang dipisahkan oleh jarak.

Sudah enam bulan lebih Yohan tinggal di Vancouver, Kanada. Perusahan yang ia pimpin berkembang pesat, hal tersebut membuat papahnya merasa bangga. Tanpa adanya bantuan dari papahnya, Yohan mampu untuk meminpin di perusahaan itu dengan baik. Bagaimana dengan keseharian Yohan? Sibuk, pastinya. Tapi sibuk tidak dijadikan alasan untuk Yohan tidak memberi kabar untuk sang kekasih. Sesibuk apapun, akan ia luangkan waktu untuk bertatap muka dengan Yolan melalui layar ponselnya, walau hanya sebentar saja.

Tidak jauh beda dengan Yohan, Yolan pun sama sibuknya. Mengingat sekarang ia sudah menjadi mahasiswa tingkat akhir yang mana sebentar lagi akan lulus. Namun sebelum itu, ia harus melewati masa sulitnya terlebih dahulu. Karena saat ini ia tengah disibukan dengan skripsinya yang sudah mengalami dua kali revisi.

Bahkan saat ini saja, ia masih berkutat dengan laptop dipangkuannya. Sekarang waktu sudah menunjukan pukul 11 malam. Memang belakangan ini Yolan bisa menghabiskan waktu sampai dini hari untuk menyelesaikan bab yang telah direvisi.

"Lo ga capek apa udah 3 jam melototin laptop gitu?" Tanya Guanlin, ia sudah ada apartemen sejak tadi Yolan menyuruhnya untuk membelikannya cemilan.

"Capek, banget. Terus gue harus gimana?"

"Ya istirahat dulu, nih makan." Guanlin mendorong box berisi donat itu.

"Sebentar ih."

Tak!!

Guanlin langsung menutup paksa laptop Yolan dan menjauhkannya dari pangkuan Yolan.

"Lih ih!"

"Makan!"

"Iya nanti gue makan abis ini."

"Sekarang. Kalo lo terus terusan kaya gini, lo bisa sakit. Kalo lo sakit lo ga bisa selesain skripsi lo. Skripsi lo ga kelar lo ga bakal sidang, otomatis lo ga akan wisuda. Mau lo?" Ocehan Guanlin panjang lebar.

"Ya lo jangan sumpahin gue gitu."

"Gue ga sumpahin lo, gue cuma kasih tau."

"Iyaa deh iyaa." Yolan memakan donat itu dengan lahapnya, membuat Guanlin yang gemas melihat pipinya yang mengembung penuh dengan donat.

"Pelan pelan makanya, keselek nanti mati lo, terus Yohan hyung jadi duda." Timpal Guanlin.

"Emangnya gue udah nikah sama hyung lo hah?"

"Belum sih, tapi secepatnya kan?"

"As soon as possible. Doain aja. Btw, lin lo kapan punya cewek? Ga bosen jomblo terus?" Tanya Yolan yang kembali mengambil satu donat untuk ia makan.

"Ga tau, gue belum kepikiran soal itu."

"Kenapa? Bukannya cewek banyak ya yang mau sama lo? Secara lo kan calon CEO muda nih."

"Iya emang banyak. Tapi, entahlah gue masih nyaman sama situasi kaya gini."

"Situasi kaya gimana maksud lo?"

"Sstt udahlah gue mau pulang nih udah malem." Alibi Guanlin yang mulai beranjak dan langsung memakai jaketnya.

"Hey! Lo belum jawab pertanyaan gue!" Teriak Yolan seraya melempar bantal kearah Guanlin yang sudah berada di ambang pintu.

𝐀𝐬𝐃𝐨𝐬 || 𝐊𝐢𝐦 𝐘𝐨𝐡𝐚𝐧Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang