26🍃

1.9K 177 14
                                        


Please vote & comment


🍃



Mobil yang ditumpangi oleh ketiga orang itu melaju dengan kecepatan sedang. Guanlin yang duduk dibagian kemudi, sedangkan Yohan dan Yolan duduk di kursi penumpang belakang. Di pagi buta seperti ini Yohan terpaksa harus kembali ke Kanada, semalam saja ia sampai tidak bisa tidur mendengar informasi yang ia dapatkan dari sekretarisnya.

"Hyung lo yakin, bisa ngatasin masalah perusahaan ini sedirian disana? Lo ga butuh bantuan papah ataupun gue gitu?" Guanlin melirik sebentar kearah kaca spion di dalam mobil untuk melihat bagaimana reaksi Yohan.

"Lo meragukan gue?"

"Engga. Bukan gitu hyung, niatnya gue cuma mau nawarin diri. Kalo semisal lo butuh bantuan, gue bisa ikut lo ke sana."

"Lo percayain semua urusan sama gue. Gue yakin perusahaan akan baik baik aja, kehilangan satu investor itu ga berdampak besar buat perusahaan kita."

"Ya gue percaya sama lo hyung."

"Jadi tugas lo itu disini aja, jagain Yolan sampai gue kembali lagi ke Korea dan ngelamar dia." Ujar Yohan mantap sembari menoleh kearah Yolan yang duduk disebelahnya.

Setibanya mereka dibandara, tidak seperti pertama kali saat mereka ingin berpisah waktu itu. Yohan mengecup pelan dahi Yolan sebelum ia berpamitan. Ada sedikit rasa kecewa yang saat ini Yolan rasakan, entah kenapa. Tapi dengan cepat ia menepis rasa itu, ia harus bisa memaklumi situasi saat ini.

"Ayo pulang, ga usah cemberut gitu gara gara ga dapet kiss." Seketika lamunan Yolan buyar mendengar celetukan Guanlin.

🍃

Hari ini Yolan tidak ada jadwal ke kampus, tapi dia ada janji dengan dosen pembimbing mengenai skripsi nya yang hampir rampung.

Matanya terasa sangat berat, bayangkan saja semalam ia benar benar tidak tidur usai kegiatan panas yang ia lakukan bersama Yohan, yang untung saja tidak berlanjut ke inti dan akhirnya mereka hanya saling bertukar cerita sampai pagi sebelum mengantar Yohan ke bandara.

"Mau kemana?" Tanya Guanlin begitu melihat Yolan keluar dari kamar dengan penampilan yang sudah rapih.

Jadi, sepulangnya mereka dari bandara Guanlin tidak langsung kembali ke apartemennya, melainkan duduk santai di sofa apartemen Yolan dengan setoples cemilan.

"Gue ada janji sama dosen pembimbing gue siang ini."

"Biar gue anter."

"Gue sendiri aja, udah lo pulang aja. Pasti capek kan." Yolan sedikit merapihkan beberapa kertas sebelum ia masukan kedalam tasnya.

"Tapi gue harus pastiin lo selamat sampai tujuan." Kekeh Guanlin yang sekarang sudah berdiri dan menaruh cemilan itu ke meja.

"Guanlin denger, lo itu adik dari pacar gue. Bukan bodyguard ataupun supir pribadi gue yang selalu anterin gue kemanapun. Gue ga mau terlalu bebanin lo."

"Gue ga merasa terbebani tuh."

Yolan mengela nafas sebentar. Satu fakta yang bisa Yolan tangkap, Guanlin itu pemaksa. Dan salah satu sifatnya itu ga jauh beda sama Yohan. Iyalah kan mereka adik kakak.

"Oke oke, kalo gitu bisa kita berangkat sekarang?"

"Tunggu." Yolan yang sudah siap menarik gagang pintu itu kembali berbalik dengan alis yang bertaut heran.

"Ada apa?"

"Lo bimbingan sama siapa aja kali ini?" Tanya Guanlin random.

"Eum.. temen gue katanya sakit, jadi kemungkinan gue bimbingan sendiri."

𝐀𝐬𝐃𝐨𝐬 || 𝐊𝐢𝐦 𝐘𝐨𝐡𝐚𝐧Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang