"To-san kami pulang, dari kerja kelompok" ucap Seiji, mengetuk pintu kamar orang tuanya.
Lalu Seijuuro berjalan ke arah pintu dan membukanya,
"Oto-san tadaima" ucap Nagisa senang bisa melihat orang tuanya segera.
"Okaeri Nagisa, Seiya, Seiji?
Sebaiknya kita ke ruang makan,
kalian belum makan bukan?" ucap Seijuuro mengusap kepala anak anaknya lembut,
"Eh?
To-san itu bukannya, Kuroko sensei" ucap Seiya tak sengaja melihat ke dalam kamar orang tuanya,
Tampak Kuroko tengah terbaring di atas kasur, sedang Seishiro berada di sisinya,
Memasang wajah cemas, wajah yang tak pernah ke 3 anaknya lihat,
"Seiya, jangan sampai aku mengatakannya dua kali,
Ayo pergi ke ruang makan" ucap Seijuuro menutup pintu kamarnya,
Lalu berjalan mendahului anak anaknya,
Seketika ketiga anaknya tak ada yang berani berbicara apapun,
Ketika aura dingin dan menakutkan muncul, tak ada yang berani menentang seorang Akashi Seijuuro,
Karena bila ada yang berani maka bersiaplah, dengan gunting yang melayang padanya,
Sedang di dalam kamar, Kuroko yang masih belum sadarkan diri,
Seishiro cukup terkejut, ia masih bisa merasakan kekhawatiran sebesar ini, setelah 15 tahun berlalu.
"Egh~" ucap Kuroko mulai mencoba membuka matanya, meski sangat berat dan bau aneh yang memualkan itu masih ada,
"Kuroko-kun kau sudah bangun?" ucap Shiro lembut,
Namun begitu Kuroko membuka matanya, bau itu tiba tiba sangat menyengat,
Entah mengapa dia menciumnya keluar dari tubuh Seishiro, sedang dari tubuh Seijuuro, Kuroko tidak menciumnya,
"To-tolong jangan mendekat!" ucap Kuroko menjauh ke ujung kasur, hampir terjatuh.
"Ku-kuroko-kun?" ucap Seishiro kini tampak kecewa lagi,
"Entah mengapa Seishi-
Ueghhhhh!!!" Kuroko kembali memuntahkan isi perutnya sampai, tak ada lagi yang keluar dari mulutnya,
"Kuroko-kun kenapa kau terus menerus seperti ini?" ucap Seishiro, sedih.
"A-eugh
(Kuroko menutup mulut dan hidungnya)
Aku tak tahu kenapa, Seishiro-san bau aneh,
Baunya sangat mual,
Aku sendiri tak tahu kenapa!?" ucap Kuroko menjauh, mencoba keluar dari kamar.
"Bau!?" ucap Seishiro mengendus tubuhnya sendiri, namun dia tidak mencium apapun yang bau.
'Apa karena aku belum mandi,
Setelah aku tidur dengan dia?' ucap Seishiro di dalam hati, mulai menaruh kekesalan di dalam hatinya, pada pria teman tidur satu malamnya tadi.
"Gomen-" namun belum selesai ia berbicara Seishiro sudah beranjak dari tempatnya,
"Aku akan pergi membasuh tubuhku dahulu, kau tinggalah di sini dulu" ucap Seishiro,
Lalu kepala pelayan datang membersihkan muntahan Kuroko, dan pelayan di belakangnya membawakan makanan dan minuman hangat.
"Anno?" ucap Kuroko jadi bingung sendiri.
"Seishiro-sama habis menghabiskan waktu, dengan pria panggilannya semalam" ucap pelayan itu setelah kepala pelayan meninggalkan ruangan.
"Eh?"
'Apa karena dia tidur dengan orang lain?
Tapi di mimpiku dahulu aku memang sudah di gigit oleh mereka,
Jadi kalau salah satu dari kami tidur dengan yang bukan matenya mungkin saja, terjadi penolakan seperti ini.
Tapi kenyataannya aku tidak di gigit oleh mereka, lalu kenapa aku bisa merasakan reaksi penolakan seperti ini?' ucap Kuroko bingung,
"Itu mungkin karena Kuroko sama dan mereka merupakan fate mate" ucap kepala pelayan masuk kedalam ruangan, seolah bisa membaca pikirannya.
"Ke-kepala pelayan?" ucap pelayan wanita yang mulutnya ember itu,
"Kau pergilah, dan berharap lah besok masih bisa bekerja di sini" ucap Kepala pelayan itu berbisik.
Dengan ketakutan pelayan wanita itu berlari kecil saat keluar ruangan.
"Fate mate?
Tapi bukankah mereka berdua sudah menikah?" ucap Kuroko bingung, bagaimana dia bisa masih bisa di katakan fate mate, saat mereka berdua sudah memiliki pasangan.
"Eh?
Seijuuro-sama dan Seishiro-sama belum menikah kok" ucap kepala pelayan itu bingung.
"Eh?
Lalu Seiji, Seiya dan Nagisa?" ucap Kuroko tidak mengerti,
"Bochan tachi adalah anak angkat" ucap kepala pelayan itu dengan sopan.
"Bohong!?
Mereka sangat mirip dengan Shiro-san dan Sei-kun,
dan aku tak mungkinlah fate mate mereka,
Dahulu aku sudah melakukan hal yang begitu tak termaafkan pada mereka berdua" Ucap Kuroko termenung,
"Emp, tidak ada orang yang tidak pernah berbuat kesalahan,
Kalau misalnya ada itu namanya dewa,
Dan pasti bukan manusia" ucap pria tua itu, seketika Kuroko meneteskan air mata nya,
"Hai~" kepala pelayan itu memberikan saputangannya, agar Kuroko menghapus air matanya sendiri,
"Arigatou~" ucap Kuroko menerimanya dan segera mengusap air matanya.
Saat pintu dibuka, tampaklah Seijuuro terkejut, dengan Kuroko yang tengah menangis.
"Pak tua!?
Apa yang kau lakukan pada Tetsuya!?" ucap Seijuuro menatap dengan amarah,
"Ara ara?" ucap pria tua itu, dengan kedua tangan Seijuuro ada di kerah nya,
Kemarahannya mulai memuncak, sedangan kepala pelayan itu hanya diam saja,
"Sei-kun! Hentikan!?
Dia tidak melakukan apapun!?
Cepat lepaskan!?" ucap Kuroko langsung memisahkan Kepala pelayan itu dan Akashi Seijuuro.
"Lalu katakan kenapa kau menangis?" ucap Seijuuro memojokkan Kuroko.
"Aku bingung mengatakannya" ucap Kuroko kini menatap lurus kearah Seijuuro.
"Kalau begitu, saya undur diri.
Saya mau menyiapkan makan malam" ucap kepala pelayan itu, dan Seijuuro pun melepaskannya.
TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
Soredemo Koi wa Ustukushi
RomansaCinta Chihiro yang pergi bersama Suzhou meninggalkan luka mendalam, Kuroko yang melihat luka sang kakak pun ikut terluka, berniat membalas dendam dengan mantan sang kakak, dengan cara menyakiti adik dari mantan pacar kakaknya. Nijimura sangat menya...
