It actually kills me when we don't talk, it kills me when you ignore me, it kills me when you're busy with your life.
.
.
.
"Egh?" Kuroko terbangun malamnya di ruangan VVIP dengan Midorima Shintaro sebagai dokternya,
"Kuroko, luka di tubuhmu penuh luka lebam dan luka fatal bekas tusukan ini sudah cukup untuk melaporkan ke polisi nodayo,
Kalau seperti ini terus kau bisa mati dan membuat kedua Akashi ini menjadi pembunuh nanodayo" ucap Midorima.
"Tidak itu tidak boleh" ucap Kuroko masih mencoba untuk membela Sei dan Shiro.
"Kau tahu saat pasien terluka, maka penyebabnya harus di tulis dan akan di masukan ke arsip rumah sakit nodayo.
Kalau seperti ini tidak menutup kemungkinan suatu hari kau akan terluka lebih parah dari ini, nodayo" ucap Midorima.
"Lalu apa yang harus aku lakukan,
Aku tak ingin Sei-san dan Shiro-kun menjadi pembunuh" ucap Kuroko sebenarnya tahu kalau dirinya sudah tak bisa kembali seperti dahulu lagi.
"Pergilah ke xxxx xxxx, di sana ada gereja yang memiliki asrama di dalamnya.
Kau bisa tinggal di sana,
Istriku, Takao Kazunari dan anakku Midorima Kaya no juga tinggal di sana nodayo.
Kalau kau membutuhkan apapun kau bisa meminta mereka, nodayo.
Apa kau mau?" ucap Midorima sebenarnya tidak tega melihat Kuroko yang selalu keluar masuk rumah sakit.
"Baiklah, aku akan kesana.
Tapi kalau aku menghilang-" ucap Kuroko justru memikirkan sekenario terburuk nya.
"Aku akan membuat surat kematian palsu nodayo" ucap Midorima.
"Palsu?
Ta tapi bukankah itu sangat membahayakan untuk dokter seperti anda?" ucap Kuroko tidak enak.
"Kalau ketahuan paling lisensi ku saja yang di cabut nodayo,
Aku masih bisa mendapatkannya lagi nodayo,
Tapi kalau nyawa urusannya beda lagi nodayo" ucap Midorima berlaku layaknya seorang dokter yang berjasa besar.
Lalu sesuai rencana Kuroko lalu pergi ke gereja terpencil itu, sedang Sei dan Shiro baru kembali setelah 1 bulan berlaku dan Midorima memberi tahu kalau Kuroko sudah meninggal.
Namun reaksi mereka sangat datar, mereka bahkan tidak bertanya kapan dan di kubur dimana Kuroko di kuburkan.
.
.
.
Hingga 10 tahun berlalu, kini usia Kuroko sudah lebih dari 30 tahun.
Dia kini hidup sebagai pendeta di gereja kecil belakang gunung pedalaman,
Dimana terdapat gereja yang hampir setiap hari Kuroko kunjungi, dan diapun berteman baik dengan Takao Kazunari serta sang anak perempuan Midorima Kayano yang sangat ceria layaknya Takao.
Hari ini panti asuhan akan mendapat galangan dana dari 2 dermawan kota, namun di tengah musim salju Kuroko bingung melihat tingkah Takao yang sedari tari berlari kesana kemari.
"Ada apa Takao-san?" ucap Kuroko menghentikan langkah Takao sebentar,
"Kayano, menghilang!?
Aku sudah mencarinya sedari tadi tapi belum juga ketemu" ucap Takao sangat takut bila terjadi sesuatu pada anak sematawayang nya itu.
"Apa?
Menurut berita cuaca hari ini akan terjadi badai salju, bukan?
Baiklah, aku akan mencari ke sana dan Takao-san coba cari ke panti,
siapa tahu Kayano sudah kembali.
Tapi kalai sudah 2 jam berlalu tolong segera panggil TIM SAR" ucap Kuroko berinisiatif.
"Wakatta, Kuroko-kun tolong hati hati juga" ucap Takao kembali berlari,
.
.
.
Begitu sampai di dekat hutan Kuroko melihat jejak kaki kecil.
"Ini?"
Kuroko langsung berlari ke dalam hutan dan tak jauh dari sana dia akhirnya menemukan tubuh Kayano yang sudah tergeletak di atas salju,
Karena terburu buru tak sengaja kaki Kuroko tertusuk batang kayu yang tertancap ke kaki Kuroko,
Alhasil darah mulai terlihat di mana kaki Kuroko berjalan, namun karena salju darah di kakinya pun membeku,
Tubuh Kuroko yang berjalan cukup jauh, apalagi kakinya yang terluka tidak memungkinkan untuk menggendong Kayano kembali ke desa,
"Syukurlah masih hangat" ucap Kuroko memasukkan tubuh Kayano yang kecil kedalam jaket Kuroko, Kuroko memeluk tubuh Kayano yang sudah mulai semakin hangat di dalam baju Kuroko,
Dan badai saljupun datang, tubuh Kuroko membeku di selimuti salju selama badai salju itu hingga sampai TIM SAR yang di panggil Takao akhirnya menemukan Kuroko dan Kayano,
Bahkan semua penduduk desa pun membantu.mencari Kayano dan Kuroko.
Tubuh Kuroko sudah membeku bagai mayat sungguhan, sedang tubuh Kayano masih hangat di dalam jaket Kuroko, karena jaket Kuroko cukup besar untuk menampung anak sekecil Kayano, namun pupil mata Kuroko belum membesar pertanda Kuroko masih hidup.
"Tetsuya?" Seijuuro dan Seishiro merupakan pemilik perusahaan yang tengah memberikan donasi pada panti dekat gereja di desa itu,
"Bukankah Kau sudah mati sejak 10 tahun lalu?" ucap Shiro yang sama menyaksikan tubuh Kuroko yang membeku di gotong oleh TIM SAR.
"Apa maksudnya ini, Shintaro?" geram Seijuuro.
TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
Soredemo Koi wa Ustukushi
RomanceCinta Chihiro yang pergi bersama Suzhou meninggalkan luka mendalam, Kuroko yang melihat luka sang kakak pun ikut terluka, berniat membalas dendam dengan mantan sang kakak, dengan cara menyakiti adik dari mantan pacar kakaknya. Nijimura sangat menya...
