2 minggu semenjak kematian Kuroko. Tentu saja yang paling bersedih adalah Seishiro sendiri,
Membutuhkan waktu yang tidak singkat, berkali kali ia mencoba membunuh dirinya,
Dan selalu bisa untuk di gagalkan,
Sedang Shuu langsung pindah ke inggris mengikuti kedua orang tuanya,
Dia gak punya alasan lagi untuk tetap di jepang, karena Kuroko sudah tiada.
.
.
.
Ketika pintu kamar di buka perlahan, Seijuuro terkejut melihat Shiro sudah berdiri di atas beranda seolah memiliki niat untuk melompat ke bawah.
"SHIRO APA YANG KAU LAKUKAN!?" Seijuuro berteriak sekuat tenaga.
"Oni-chan aku-" ucap Shiro dengan wajah yang begitu menyedihkan.
"MAU SAMPAI BERAPA KALI KAU MEMBUAT TETSUYA BERSEDIH!!!!
KITA MASIH PUNYA SEIJI, SEIYA DAN NAGISA YANG HARUS KITA BESARKAN!!!
BAGAIMANA KAU BISA MELAKUKAN HAL SEPERTI ITU??
DAN MEMBUAT TETSUYA TERLUKA LAGI DI ATAS SANA!!!!"
"Nii-chan~?"
"AKU TAHU KAU BERSEDIH!
TAPI KAU PERLU INGAT AKUPUN JUGA BERSEDIH!!
SEMUA BERSEDIH!!!
JANGAN KAU KIRA DI DUNIA INI HANYA KAU YANG PALING TERLUKA!!!!
SEMUA TERLUKA AKAN KEPERGIAN TETSUYA!!!
Tapi setidaknya, kita lakukan kewajiban kita,
Hingga suatu hari kelak,
Hari di mana kita akan bertemu dengan Tetsuya lagi,
Kita takkan malu, Shiro~" ucap Seijuuro mendekati sang adik dan menariknya kembali ke dalam ruangan.
"Nii-chan~
Aku-!?" ucap Shiro meluapkan semua air matanya.
"Aku tahu,
Aku tahu" ucap Seijuuro memeluk adik kesayangannya itu, sembari mengelus kepala sang adik, mencoba menenangkan nya.
.
.
.
Dua pria tua, satu menggunakan tongkat satu, sedang satunya berjalan perlahan.
Menaiki tangga, dimana makam seseorang bersemayam, makam orang yang mereka cintai.
"Tetsuya-kun, mo lihat sudah 50 tahun sejak waktu itu,
Kita akan segera menemui mu
Kami tak sabar untuk segera bertemu denganmu"
"Kau benar nii-chan" ucap pria satunya,
"Kau tahu Tetsuya, Seiji dan Seiya sudah menikah dengan Nagisa,
Mereka memiliki anak anak yang sangat lucu dan manis,
Namanya Akashi Asano dan Akashi Karma"
"Emp, mere-ka sa-ngat mani-s" ucap Seishiro terbatas bata, hingga napas terakhir.
Dan mereka berdua menghembuskan napas terakhirnya di depan makam Kuroko Tetsuya.
.
.
.
Bila kehidupan seperti pertemuan pertama, akan lebih baik untuk merindu lebih lama di bandingkan bertemu.
Hujan berkabut di Tokyo berlangsung singkat, bahkan selagi hujan, gerimis turun tiada henti,
Jika kita akan sering bertemu dalam hidup,
apa yang harus kita lakukan agar kita tidak jemu ketika saling menatap?
Tahun itu pada hari ini, langitnya sama.
Tetapi wajahnya berbeda, aku sungguh ingin melihat mu lagi,
Mengatakan padamu penyesalan ku berpisah denganmu,
Menggambar lingkaran di udara,
Berdoa bahwa cinta tidak akan pernah berubah,
Aku begitu ingin mengusapkan wajahku pada wajahmu,
Menjadi serakah akan setiap apa yang ada pada dirimu,
Jangan tanyakan berapa tahun aku kesakitan,
Berbalik, semua airmataku dari mataku,
.
.
.
Di padang hijau yang luas, tampak seorang pemuda dengan rambut baby blue, sembari tersenyum kecil,
"Okaeri, Sei-kun to Shiro-kun" ucap Kuroko muda tersenyum menyambut kedatangan kedua Akashi muda itu.
"Tadaima Tetsuya/Tetsuya-kun" ucap kedua pemuda itu memeluk Kuroko lembut,
"Selama 50 tahun ini kami sangat merindukanmu" Ucap Seijuuro, sedang Seishiro masih merasa bersalah,
Dia masih menyalah kan dirinya atas kematian Kuroko 50 tahun lalu.
"Hmp, Shiro-kun.
Ada apa?
aku sudah lelah mengawasi kalian dari atas sini.
Jadi bisakah kau juga segera kembali ke pelukan ku, Seishiro-kun?" ucap Kuroko tersenyum.
"Aku sudah melakukan kesalahan yang tak termaafkan.
Apakah kau masih mau memaafkan ku, Tetsuya-kun?" ucap Shiro menangis,
"Setiap orang pasti pernah berbuat salah,
Hanya dewa yang sempurna,
Karena itulah aku maafkan" ucap Kuroko memeluk Seishiro lembut,
"Tetsuya-kun tadaima"
"Emp, okaeri Seishiro-kun, Seijuuro-kun" ucap Kuroko lembut.
Fin
KAMU SEDANG MEMBACA
Soredemo Koi wa Ustukushi
RomanceCinta Chihiro yang pergi bersama Suzhou meninggalkan luka mendalam, Kuroko yang melihat luka sang kakak pun ikut terluka, berniat membalas dendam dengan mantan sang kakak, dengan cara menyakiti adik dari mantan pacar kakaknya. Nijimura sangat menya...
