Hyunjin mengeryit sewaktu mendapati wajah Bomin mendadak kaku begitu mendapati Ryujin dan Guanlin di kantin, tengah mengobrol serius seolah tak bisa diganggu. Gadis itu berulang kali mengusap gusar wajahnya, dan membiarkan Guanlin mengusap puncak kepalanya menenangkan.
Lelaki itu menghela napas, "Suka lo?" tanya Hyunjin akhirnya. Bomin menoleh, mengerjap samar sebelum tersenyum masam. "Katanya pernah suka sama lo." ujarnya memberitahu.
Hyunjin tertawa, "Berita dari kapan anjir. Udah lama banget itu. Cuma temenan sekarang." ucapnya menjelaskan. Bomin manggut-manggut. "Iye, nggak sama lo jadinya."
"Namanya Guanlin." beritahu Hyunjin dibalas decakan. Bomin mengambil sekotak susu, membayarnya segera dan berakhir bersender di etalase. Menonton dua orang itu bersama Hyunjin. "Sepupunya Shasha."
"Udah deket dari lama ya mereka?" tanya Bomin akhirnya. Hyunjin mengedikan dagu ke arah meja Daehwi dan Yireon. "Nggak tahu. Cuma anaknya emang caring gitu, nggak cuma deket sama Ryujin kok, sama si Somi juga."
Itu namanya PAKBOY ANYING.
"Tapi ya... Kalo mau tanya-tanya tuh lapaknya Daehwi. Gue mana tahu gituan, Min."
"Alahh, tuh bocah aja kikir akhir-akhir ini." oceh Bomin sebelum menyesap susunya. Ia melirik Hyunjin sejenak, "Tapi lo tahu kalo dia sama Yireon ternyata?" tanyanya lagi.
Hyunjin mengedikan bahu, "Nggak pernah cerita dia. Gue aja baru tahu tadi." ucapnya dibalas dengusan Bomin. "Pantes sering beli roti isi."
Hyunjin tergelak, teringat percakapan mereka beberapa hari lalu. Mengiyakan juga dalam hati.
"Min, lo sibuk nggak?"
Bomin menoleh, begitu juga Hyunjin. Kedua lelaki itu mengangkat alis bersamaan begitu mendapati Nancy tengah mengipasi lehernya dengan kipas lipat (dengan seragam olahraga tebalnya yang terasa panas), menatap mereka bergantian. Sejujurnya minta jawaban segera.
Tapi Bomin berakhir menatap bingung.
Nancy menutup kipasnya, memukul jidat Bomin dengan itu, galak. "Bukannya dijawab! Malah melongo lagi?! Lo sibuk nggak?!"
"Emang mau ngapain?" tanya Bomin sembari mengusap jidatnya, meskipun gadis itu nggak benar-benar memukul keras. Tetap saja membuat jantungnya syok karena dikejutkan. Untungnya Bomin nggak kelepasan membentak.
"Temenin gue ke Madam Hyolin dong."
Bomin melirik Hyunjin, sementara yang dilirik justru mengulas senyum geli. Hyunjin mendorong bahu temannya akhirnya. "Udah sana temenin. Jual mahal amat lo."
Bomin menepuk bahunya segera, berjalan mengikuti Nancy dan meninggalkan temannya sendiri.
Hyunjin menghela napas pelan, menyesap sodanya sekali lagi sebelum menunduk dalam.
"Bu aku mau yoghurt cimory-nya satu dong yang blueberry." Shuhua berujar, bersender pada etalase dan menyengir lebar begitu membayar minumannya.
Tangannya membuka tutup botol itu tenang, menyesapnya kemudian. Sepasang matanya memutar, sebelum berhenti menatap Hyunjin disebelahnya yang pura-pura tidur. Gadis itu melengos pelan, "Tai banget sih lo."
Lelaki itu menoleh, menatap gadis bercepol tersebut sembari menyengir lucu. "Ini gue lagi menyamarkan diri biar nggak dilihat lo." katanya membela diri.
Shuhua mencibir, "Bilang aja nggak punya temen kannnn?"
"Lo sendiri emang punya?" balas Hyunjin sama sengitnya. Memberi kode lewat tatapan ke arah meja Ryujin dan Guanlin.
Shuhua menghembuskan napas. "Sendiri aja gue bisa. Ngapain bareng mereka?" gumamnya bersiap pergi, andai jemari Hyunjin tak meraih puncak kepalanya, menahan pergerakan gadis itu.
