psycho - 27th Road

416 38 7
                                    

warning

.

Bibirnya menyunggingkan senyum simpul kala gadis itu menyadari keberadaannya dengan membuka mata. Lama menunggu penjaganya keluar setelah satu dua taktik yang dia lakukan, akhirnya dia bisa masuk ke dalam. Melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana alat gerak gadis itu dilapisi beberapa gips sekarang.

Mengenaskan, tapi belum cukup.

Dia masih butuh lebih dari ini untuk membersihkan jejaknya. Membuat gadis itu benar-benar tidak bisa bicara.

"Hai."

"Eh, elo." Yena tersenyum, membenarkan posisi tidurnya sekarang. "Udah dateng dari tadi? Kok nggak bilang sih? Bangunin gue aja harusnya."

"Baru dateng kok. Santai aja. Gue juga baru denger kejadiannya. Maaf ya baru bisa jenguk. Gue cuma bawa buah-buahan doang."

Yena tersenyum lagi. "Lo udah dateng sekarang aja gue udah seneng tahu. Makasih ya."

Ia mengangguk pelan, lalu melirik bingkisan buahnya. "Mau makan buahnya nggak? Gue tadi sempet nanya Naeun toko yang masih buka jam segini. Kebetulan banget dia lewat toko buah kesayangan lo habis pulang syuting tadi. Gue nitip deh."

Yena menyentuh bingkisan tersebut, melihat label merknya sebelum tertawa kecil begitu melihat pisau buahnya yang familiar. "Oh iya, bener. Ini toko buah emang trusted banget sih, langganan nyokap gue dari dulu. Gratis pisau buah juga. Jadi nggak repot gitu."

"Eh iya, lo mau makan yang mana? Khusus malam ini gue jadi kaki tangan lo deh."

Yena terbahak. "Bener-bener ya lo. Pijitin kaki gue sekalian gimana?" seloroh Yena dibalas cibirannya. Tangannya mengambil pisau buah tersebut lucu, mengingat bagaimana dia sudah mempersiapkan semuanya beberapa saat lalu membuat adrenalinnya memacu. Sekarang, dia sudah bisa membayangkan nasib gadis itu.

"Apel aja ya, bek? Biar gampang ngupasnya."

Yena mengangguk, mengamati temannya sejenak. Ketika sesuatu menarik perhatiannya, beberapa luka cakar di sekitar leher orang itu yang menyembul dari balik hoodie. "Masih gawe di petshop lo?"

"Iyalah. Bokap sama nyokap honeymoon terus, bosen di rumah gue. Sepi banget."

Ia menyodorkan potongan tersebut ke arah temannya, menunggu Yena memakan satu per satu apelnya sambil menahan seringaiannya mati-matian.

Sebentar lagi, tinggal tunggu  sebentar lagi sebelum gadis itu benar-benar kehilangan suaranya.

"Tuh kan! Gue bilang apa, si Seungkwan itu emang paranoid banget orangnya. Lagi panggilan alam aje masih sempat-sempatnya nyuruh gue kesini." Changbin membuka pintu kamar tersebut sambil mencibir ke arah gadis-gadis itu yang sudah menatapnya terkejut. Changbin berjalan mendekat seraya bercerita.

"Padahal gue lagi asik ngedengerin Bang Jaebi yang mau gerebek gudang sebelah toilet yang lo pake kemaren, bek. Gue kan penasaran itu kelanjutannya gimana."

Tangan kanannya mencengkeram pisau buah itu semakin erat.

"Tapi ini lo udah dateng dari tadi?" tanya Changbin sembari meraih potongan apel ditangan Yena, mengunyahnya tanpa berdosa ketika gadis itu sudah menabok tangannya kurang ajar. "Nggak ada akhlaknya ya lo, Bin!"

"Manis ini. Mantap."

"Iyalah! Dibeliin langsung sama bintang iklan nih."

Changbin melirik orang itu, "Lo jadi bintang iklan sekarang?" tanyanya bikin Yena mencubit gemas.

"Bukaaannn, maksud gue itu dia nitip ke Naeun buat beliin soalnya Naeun ngelewatin toko buah abis pulang syuting."

"Ohhhh." Changbin manggut-manggut mengerti. "Berarti udah lama lo disini ya?'

Psycho ✅Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang