psycho - 23th Road

403 38 3
                                    

Felix baru membuka kamar begitu ia mendapati Chaewon duduk di pinggir kasurnya. Menatap jendelanya kosong dengan sepasang tangan memegang ponsel.

"Kamu disini?" tanya Felix parau, suaranya habis setelah teler semalam. Nyatanya, dikhianati teman sendiri rasanya sesakit itu. Sementara melihat pacarnya sekarang, hanya mengingatkan semuanya.

Chaewon menoleh, tersenyum kecil. "Aku kangen sama kamu." ucapnya sebelum berdiri menghampiri Felix. Chaewon menyelipkan kedua tangannya, memeluk pacarnya hangat dan menghirup dalam aroma tubuhnya. Meskipun hatinya serasa ditusuk ribuan duri ketika mendapati aroma perempuan lain bercampur dengan bau alkohol dari kemeja hitam kumal Felix sekarang.

Persis seperti apa yang dia pikirkan.

Tidur sama siapa semalam kamu, Lix?

"Sayang?"

"Gue takut lo pergi."

Chaewon membenamkan wajahnya dalam. "Bahkan lebih takut dari teror-teror itu, Lix." bisiknya parau.

Tapi kayaknya, kamu yang justru lebih takut buat sama aku. Kamu yang menyerah lebih dulu buat berjuang sama aku.

Jadi gimana caranya aku bisa bertahan, kalau ketakutan tentang kamu yang bakal pergi udah dipastikan bakal datang, Felix?

Felix bergeming. Ia mendorong Chaewon untuk menatap wajah terluka gadis itu. "Kamu ngomong apasih? Maksud kamu apa?"

Chaewon menelan ludah. "Semalam kamu kemana?"

Felix mencerna pertanyaan barusan. Lalu tertawa getir, "Jadi ini tentang Hyunjin lagi?"

"Jadi ini tentang dia?" balas Chaewon tak habis pikir.

"Tentang dia yang sebenarnya suka sama kamu? Iya. Ini tentang dia."

Chaewon tertawa sumbang. "Jadi itu alasannya kamu nggak jemput aku?"

"Apa aku masih sepenting itu buat kamu?"

"Harusnya aku yang tanya ke kamu, kamu anggap apa sih perasaan aku?!" teriak Chaewon tak habis pikir. Air matanya sudah meluncur bebas sekarang.

"Aku nggak serendah itu, Lix. Aku nggak semurahan itu buat nusuk kamu."

Chaewon menepis air mata dipipinya, merogoh saku celananya untuk menyerahkan foto yang ia terima dari orang asing itu. Menatap pacarnya sebelum berakhir menghembuskan napas jengah sekarang.

"Aku bilang nggak bisa balas perasaan dia kemarin. Aku bilang nggak bisa anggap dia lebih dari teman. Aku nggak bisa nyakitin kamu dengan sembunyiin semuanya lagi. Aku nggak bisa kalo kamu pergi juga."

"Dari semalam aku mikirin cara ngomong ke kamu, aku nunggu sampai pagi berharap kita bisa ngobrol berdua dan aku bisa jelasin semuanya."

"Tapi kamu, kamu yang aku tunggu, nggak dateng. Kamu nggak jemput aku. Lucunya, kamu nggak bisa datang karena kamu sibuk sama cewek itu buat ngelupain aku, kan?"

Chaewon menarik napas dalam. Menengadah untuk menahan air matanya lagi. "Aku tahu kamu butuh waktu. Aku juga butuh waktu. Jadi---"

"Putus aja." sambung Felix parau.

Psycho ✅Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang