psycho - 1st Road

8.8K 342 22
                                    

"Ciee, langganan lagi tuh? Amplop pink, pita merah, sama cokelat sq. Sampe hapal gue."

Hyunjin menoleh, memasukkan pemberian itu ke dalam saku celananya sembari tersenyum menatap mereka. "Yee, pagi-pagi udah ngerusuh orang aja lo."

Chaewon meringis ketika telinganya berakhir dijewer Felix begitu selesai mencerocos. Gadis itu merutuk, menabok bahu pacarnya dan menjauh. Bibirnya maju bersungut-sungut. "Kasar ah! Malesin!"

Felix memutar kedua bola mata. Menatap Hyunjin sejenak. "Nggak usah didengerin. Bentar lagi period makanya cari gara-gara."

"Tapi daripada diumpetin mending gue makan deh, Jin. Sayang tahu, serius, demi Tuhan!"

"Geez, kalo lo mau gue bisa beliin." sambung Felix sewot sendiri. Chaewon menatapnya sinis, namun berakhir menyengir dan merapat. "Pulang sekolah? Janjiii?"

Felix tersenyum, mengangguk sekenanya. Membiarkan gadis itu terkekeh pelan, "Kalo gitu gue balik ke kelas dulu. Lo berdua nggak usah macem-macem. Inget, Tuhan mengawasi."

Chaewon berjalan ke arah pintu, sebelum berhenti dan berbalik menatap Hyunjin sejenak.

"Omong-omong, lo nggak penasaran secret admirer lo yang satu itu? Gue aja, orang luar yang cuma asal ngelihat penasaran. Lagian, tahun depan udah mau lulus juga. Beneran nggak kepikiran buat cari tahu apa?"

"Babe." Felix memperingati. Chaewon memutar kedua bola mata. "Iya, tahu. Cuma.... Penasaran sedikit." tandasnya sebelum benar-benar pergi.

Hyunjin menatap Felix, membiarkan temannya itu menghela napas. "I'm sorry. She's annoying." ucapnya tak enak.

Hyunjin tertawa, "Sebelum lo berdua pacaran, Lix. Lo berdua kan temen gue juga. Santai aja, gue ngerti kok." jelasnya tanpa melunturkan senyum di wajah.

"Gue mau beli minum dulu di kantin. Lo mau ikut?" tanyanya sembari mengedikan dagu.

Felix menggeleng, "Gue belom nyalin PR biologi. Jam pelajaran pertama dikumpulin."

Hyunjin manggut-manggut. "Kalo gitu, gue duluan."

Felix menatap kepergiannya, sebelum tangannya langsung mengeluarkan ponsel dari saku celana. Menghubungi kekasihnya secepat kilat.

felixlee
r u sure?
u always scared me
i swear,
he didn't know anything
take a carefully, babe

chaewonkim
okokok
chill dude
i know that.
i know the rules

Felix melengos, menatap sekeliling sebelum berakhir menghela napas tak habis pikir. Bibirnya mengulas senyum pula akhirnya.

felixlee
mimpi apa gue punya lo

chaewonkim
awww so sweet

felixlee
then, text me later

chaewonkim
hm, love me too

Felix tersenyum spontan, mengetik pesan balasannya tanpa berpikir ulang.

felixlee
right. love you too

*

"Masih kepikiran masalah penggemar rahasia lo itu?"

Hyunjin menegak susu cokelatnya ketika Ryujin tengah mengunyah keripik tepat dihadapannya. Mereka bertemu tak sengaja di koridor tadi. Jelas saja, Ryujin tak akan langsung melepas Hyunjin begitu. Jiwa bar-barnya yang membuat mereka di sini.

"Hm?" Hyunjin mengangguk mengiyakan. "Sedikit." tambahnya dibalas kekehan Ryujin. Gadis itu mengedip jahil. "Gue tersanjung loh."

Hyunjin melengos, "Thanks. Lo bikin gue bersyukur itu bukan lo."

Gadis dihadapannya tertawa renyah, sebelum mengunyah keripiknya tanpa berkata-kata lagi. Membiarkan mereka terlibat keheningan.

"Omong-omong...."

"Sebenernya..."

Hyunjin menatapnya sejenak, lalu mengulum bibir. Membuang muka ketika rasa panas merambati wajahnya. Lucu membayangkan mereka melakukan salah satu scene paling picisan dalam sebuah drama.

Ryujin tersenyum geli menanggapinya. "Omong-omong, kalo lo butuh bantuan buat cari dia. Gue siap bantu kok. Asal lo kasih gue izin, gue pasti usahain." katanya, mengalah tanpa oper-operan siapa yang lebih dulu berbicara. Ryujin memang berbeda.

"Kenapa mau bantu?" tanya Hyunjin tanpa menghilangkan senyuman di wajahnya.

Ryujin menatapnya lebih lama, menelaah sesuatu dari sepasang mata itu. Sejenak, membuat Hyunjin terkunci disana.

"Karena gue nggak mau menyesal." ucapnya sebelum memutus kontak mata dan kembali memakan keripiknya tanpa banyak bicara.

Hyunjin menarik napas. Meneguk minumnya sekali lagi.

*

"Emang si Bae Jinyoung kemana sih!?"

Haechan menghembuskan napas gusar setelah menggerutu panjang kali lebar ketika Ryujin memintanya buat menemani ke ruang kelas sebelah untuk technical meeting HUT sekolah dua minggu lagi. Kebetulan, si ketua kelas sudah kabur lebih dulu. Beralasan ingin membeli sesuatu, padahal jalan berdua dengan si pacar.

"Gue tuh ada urusan, Jin. Jangan sama gue lah. Itu tuh, sama Shasha aja."

"Apa-apaan bawa gue?!" semprot si pemilik nama yang tengah menguncir rambutnya. Ryujin mendelik, "Siapa juga yang mau ditemenin lo?!" balasnya nyolot. Ryujin menatap Haechan sembari memasang wajah memelas lagi sembari memohon. "Bentar doaaaaaanggg, Chaaaaan. Gue malu kalo sendirian."

"Temen lo banyak ini sih anjir. Ngapain malu?" semprot Renjun kesal sendiri.

Masalahnya, niat untuk pulang cepat jadi batal karena yang punya motor ditahan oleh Ryujin.

"Tuh, hayulu. Renjun ngamuk, kan! Elu sih. Udah ah, pergi aja sana." omel Haechan panik sendiri.

"Mending lo aja dah, Jun. Biar gue balik sama Haechan, kan hari ini gue sama dia ada kerkom PKWU. Kelompok lo besok baru kerkom." seloroh Shuhua menengahi. Ia berjalan menghampiri mereka. Ketika Haechan berakhir melotot, "Emang lo sekelompok sama gue?!"

"Bener-bener emang lo! Gue yang masukin nama lo ke kelompok ya, Chan?!" omelnya tak percaya, Haechan menatap Renjun sejenak, menyengir kaku ketika Shuhua berakhir menatap Renjun dengan senyum menyebalkan yang dia punya.

Renjun mendesis, memegang tengkuknya sembari menunjuk Shuhua tak percaya. "Haahh. Nggak percaya gua. Emang picik bener otak lo!"

Haechan menyengir, menepuk bahu Renjun dan Ryujin bergantian. "Kalo gitu gue duluan, brosis. Good job! You two is the best lah pokoknya. Lupyu pul!"

Shuhua mengacungkan jempol menyemangati. Mengekori Haechan dan membiarkan Renjun mendecak sekali lagi.

"Dasar nenek lampir!"

"Hehehe, ciao!" seru Ryujin menggamit tangannnya menuju kelas sebelah. Mendadak rasa percaya dirinya terisi penuh. Kekuatan seorang partner memang luar biasa dahsyatnya.






"Lo nggak mau dateng karena ada mantan kan, Chan. Ngakuuuuuu loo!!"

"..... Ck. Ah. Sotoy anying!"

"Hehehe. Spill dong bangg. Yang bule kan?"

Psycho ✅Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang