Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Perasaan

115 19 2
                                        

"Batu banget sih!" ucap nya galak sambil melempar sebuah jaket yang jatuh tepat di depan arissa yang sedang duduk sendirian di bale depan halaman rumah warga. "Astagfirullah ngagetin aja sih mas, kirain aku kuyang" gerutu nya.

Dia doyoung yang selalu dengan tampang datar nya sedang mengomeli arissa "Pake jaketnya, udah malem dingin. Kuyang juga ga ada yang setampan saya". Sedangkan arissa hanya terdiam tanpa berniat membalas perkataan doyoung, ia menatap sebuah jaket di tangannya lamat-lamat. Jaket hitam ini milik jhonny—sang kakak, bahkan saat arissa marah padanya tadi siang jhonny masih perhatian. Arissa jadi merasa bersalah karna tadi sempet bentak-bentak padahal ia tahu maksud jhonny itu baik.

"Di pake jaketnya jangan diliatin aja" ucap doyoung yang lebih mirip seperti perintah. "Ck. Iya iya".

Keadaan di desa malam ini lagi sepi mungkin emang karna sudah jam 11 lewat jadi orang-orang udah pada tidur. "Mas ngapain malem-malem kesini, nggak mungkin Cuma mau ngasih jaket aja kan" Tanya arissa memecah keheningan. "Emang iya, sekalian ngecek keadaan" jawab doyoung jujur.

Arissa berulang kali membuka mulutnya lalu menutupnya kembali membuat doyoung merasa jengah karna ia tidak jadi bicara. "Jhonny lagi dimarkas, tadi siang di panggil untuk kesana. Jaket ini dia yang nyuruh saya buat ngasih ke kamu" doyoung menjelaskan tanpa diminta, ia tahu kalo mulut arissa gatal ingin menanyakan keadaan jhonny karna semenjak kejadian tadi siang sang kakak tidak ikut mengawal kerumah-rumah warga. Lagi-lagi arissa hanya diam tanpa menjawab.

"Bukan maksud saya ikut campur... tapi saya tahu maksud jhonny itu baik, dia Cuma khawatir sama kamu. Gak pengen adeknya kenapa-napa walaupun caranya berlebihan" ucap doyoung menjelaskan. "Saya juga seorang kakak paham betul perasaan jhonny gimana, takutnya ngelepas seorang adik sendirian apalagi di tempat yang jauh dari rumah... "

"Tapi aku bukan anak kecil lagi mas" sela arissa ditengah pembicaran. "Dimata seorang kakak itu selalu menganggap adiknya masih kecil ris, saya harap kamu nggak marah terlalu lama sama jhonny" doyoung mengakhiri pembicaraan.

Arissa menundukan kepalanya banyak pikiran yang berkecamuk di dalam otaknya sekarang ini salah satunya karna kejadian tadi siang. Ia sedang kesal dengan seseorang tapi malah abangnya yang kena imbas. Rasa bersalahnya semakin memuncak.

"Masuk kedalam gih tidur udah malem!, besok kamu ada penyuluhan pagi kan? Saya juga mau balik kemarkas" doyong bangkit dan pamit, arissa mengadah kepalanya ke atas menatap doyoung lalu mengangguk "Makasih ya mas" ucapnya sambil tersenyum tipis. "Sama-sama, saya balik dulu assalamualaikum".

"Waalaikumsalam".



///



Pagi ini jadwalnya anak jurusan psikologi melakukan penyuluhan tepatnya di aula kantor kepala desa yang jarak jauhnya harus menempuh 1 km dari kampung yang mereka tempati. Arissa serta teman seperjurusannya sedang membahas tentang pentingnya gizi seimbang bagi anak-anak. Banyak orang tua serta anak-anak muda yang datang hanya untuk melihat kegiatan penyuluhan itu.

"Kondisi dan situasi sosial ekonomi masyarakat saat ini menyebabkan banyak anak balita tidak mendapatkan asupan yang seharusnya mereka dapatkan baik dari segi gizi maupun pertumbuhan dan perkembangan anak seperti perkembangan motoric halus, motoric kasar, perkembangan bahasa dan social" ujar sanaz—teman satu jurusan arissa—menjelaskan .

Bergantian dengan Sanaz, arissa yang sedari tadi memegang remot control layar monitor berjalan maju kedepan ia mulai menjelaskan "Gizi seimbang merupakan susunan pangan sehari-hari yang paling penting, gizi dalam berbagai jenis dan jumlah yang dibutuhkan oleh tubuh, selain itu juga harus tetap memperhatikan prinsip keanekaragaman pangan, aktivitas fisik, perilaku hidup sehat dan memantau berat badan secara teratur dalam rangka mempertahankan berat badan normal". Imbuh arissa

Half Cold ; With Doyoung (√)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang