Arissa sudah berulang kali mendengkus sambil membuang nafas lelah sedari tadi. Dirinya sudah terlalu lelah karna pasien yang banyak berkunjung ke rumah sakit hari ini. Pikir nya pasien yang datang ke bagian psikologi hanya sedikit tetapi dugaannya salah besar. Justru malah kebalikannya.
Arissa sudah mulai bekerja sejak dua minggu yang lalu di rumah sakit yang ada di bandung. Setelah sebulan yang lalu ia wisuda, ia mendaftarkan diri sesuai anjuran dospem nya di rumah sakit Bakti Husada—tempat ia bekerja sekarang.
Jam istirahat hampir habis tetapi ia masih mendudukan dirinya di kursi kantin tanpa ditemani seseorang disampingnya. Pikirannya berkelana mengingat kejadian tepat disaat acara music festival bulan kemarin.
Saat itu tepat di akhir acara si komandan dari pasukan khusus—doyoung bertanya kepadanya.
"Rissa..." panggil doyoung.
"Kenapa mas?"
"Would you be my maret?"
Arissa mengepalkan jari-jari tangannya sambil menahan debaran jantung yang ingin jatuh bebas ke bagian lambungnya. "Hah!?"
Gadis itu berulang kali membuka dan mengatupkan bibirnya kembali, "Maksudnya?..."
Doyoung berdehem canggung sambil memerhatikan bagian belakang stage, lalu ia menunjuk banner yang ada disana dengan canggung. "I—Itu... tema dan slogan dari acara ini bagus ya?"
"O—oh" bahu arissa melemas seketika. Jawabannya terdengar kaku dan sedikit kecewa.
Jujur ia tadi sempat membangun harapannya kembali sebelum doyoung dengan lancang mematahkannya.
Lelaki bagaskara itu memejamkan matanya sejenak, ia merutuki dirinya didalam hati. Mengapa ia maju tanpa aba-aba dan mundur dengan meninggalkan banyak tanda tanya?
Masih didalam keadaan atsmosfer yang canggung, doyoung meninggalkan arissa sendiri saat itu. Dengan alasan dipanggil oleh Danyon batalyon—yang merupakan ayah dari arissa sendiri.
Gadis itu hanya mengangguk lesu, kepalanya menunduk memperhatikkan ujung sepatu yang sedari tadi ia tendangkan ke arah rerumputan.
Malam itu, lagi dan lagi arissa merutuki dirinya. Mengapa ia sangat mudah menaruh harapannya atau yang sering dikatakan Baper kepada orang lain tanpa tahu dan memikirkan akibatnya sendiri?
///
"HEY!,NGELAMUN TERUS!"
Arissa berjengit kaget dielusnya sang dada sambil beristigar "Astagfirullah, bisa nggak sih gak usah ngagetin! Kalo gue jantungan gimana chan?!"
Yang di omeli hanya terkekeh tanpa tahu malu. Haechan Adinata temannya dari orok itu hobi sekali membuat orang naik darah.
"Ngapain lo disini?" tanya nya sinis.
"Lagi gak ada kerjaan, hehe"
"HEH GILA YA LO!! ORANG YANG NGELAHIRIN BANYAK, MALAHAN NGANTRI NOH. LO MALAH NYANTAI NYANTAI GAK ADA KERJAAN LAGI"
Dahi mulus arissa diketok mengunakan pena seketika. Haechan sedang menatapnya dengan tatapan ganas miliknya. "Jangan teriak-teriak bisa gak sih?. Dokter kandungan banyak clarissa, ganti-gantian shif nya. Nah sekarang giliran mereka makanya gue bisa nyantai."
"Oh... bilang dong. Kan gue gak tau"
Hening lagi-lagi mengisi kekosongan diantaranya. Haechan yang biasanya petakilan dan selalu aktif kini sedang terduduk manis layaknya lelaki pada umumnya. Sambil memainkan sang gawai ia tersenyum menatap layar ponselnya.
Berbeda dengan arissa yang kembali melamun sebelum satu notifikasi masuk ke dalam handphone nya.
"Chan, gue masuk dulu ya. Ada pasien penting!!" pamitnya sambil berlari.
"Jangan lari-lari, nanti gue jemput!"
Arissa merebahkan tubuh nya di atas kasur miliknya, ditemani dengan mark yang sedari tadi terus merengek meminta diantarkan ke sebuah gramedia.
"Mbak... ayo temenin ke gramedia"
"Sama bang jhonny aja mark, mbak capek"
"No. aku maunya sama mbak aja. Please!"
"Yaudah sana siap-siap"
///
Memandangi banyak buku dihadapannya membuat lelaki bule itu memijat pelipisnya pelan. Pasalnya mark sedang bingung buku mana yang harus dibelinya.
"Mbak!! Help me" panggilnya pada arissa diujung sana.
"Kenapa?"
"Im confused, there are so many books!" mark dengan wajah memelasnya kini sudah terduduk lunglai di lantai bawah sana membuat jhonny menatapnya dengan kening mengkerut. "Why?"
"Ini dia mau beli buku tapi ga tau yang mana, bingung katanya" jawab arissa sambil terkekeh.
Tak butuh waktu lama ketiga nya sudah berada di warung pecel lele tempat langganan biasanya. Berbekal dengan karpet dan sebuah meja disana sudah banyak menarik perhatian pengunjung.
Mark membenarkan letak tatanan kaca mata diwajahnya. "Bang doy!" panggilnya sedikit berteriak. Arissa dan jhonny reflex melihat kerah belakangnya. Disana doyoung sedang berdiri memesan makanan ditemani seorang wanita disampingnya.
Yang dipanggil menoleh, wajah nya terlihat terkejut sama seperti arissa dan mark. "Lagi makan juga?" tanya nya basa basi, sekali-sekali matanya melirik arissa.
Gadis bermarga shyauqi itu sekarang hanya terduduk diam kepalanya menunduk ke arah ponselnya. Tidak ada niat untuk balik menatap doyoung di sampingnya.
"Biasa lah, abis nganter mark beli buku" yang dijawab oleh jhonny. Wajahnya terlihat biasa saja menatap gadis disamping doyoung seakan sudah tau dia siapa. "Apa kabar nja?" tanya jhonny seraya tersenyum.
"Alhamdulillah baik kak" jawab gadis itu, senja.
"Yaudah gue duluan jhon, mau nganterin dia pulang dulu" pamit doyoung, sekali lagi matanya melirik arissa yang tak kunjung menatapnya. Ia menghela nafas kasar sambil merangkul bahu wanita disampingnya untuk berjalan ke arah keluar.
Mobil milik doyoung melaju dengan sangat lamban, seakan beban yang ditumpanginya terasa berat. Sama seperti pikiran doyoung saat ini. Senja yang duduk disampingnya menoleh sekilas sambil memegang lengan sang adam "Mas ridho sakit?"
Ridho yang dimaksud adalah nama depan doyoung, Ridhoyoungi. "Nggak kok, kenapa?"
"Nggak apa-apa, malam ini mas tidur dirumah kan?"
"Iya, besok pagi baru mas pulang"
Senja terlihat membuka dan menutup bibirnya kembali. Seakan perkataan yang akan ia ucapkan terasa berat sekali. "Mas... aku boleh nanya nggak?"
Kira-kira senja ini siapa ya? Akrab banget sampe dirangkul sama doyong.
Terus apa yang mau di tanyain sama mas ridho?
Maaf, pendek ya?
Gimana kabarnya? sehat semua kan?
Sampai jumpa di chapter selanjutnya🤗
KAMU SEDANG MEMBACA
Half Cold ; With Doyoung (√)
FanfictionTentang dia, lelaki yang banyak menyimpan kenangan buruk akibat masalalu nya. Ketika perkataan dan perbuatan orang terdekat yang bisa melukai perasaan nya sendiri. Dia doyoung dengan segala perasaan yang ada di hatinya. Mendeklarasikan kata menjadi...
