Nara si adik baru

56 12 2
                                        

"Ada ibu disini"

🍭

Ramai nya tamu yang berdatangan sama sekali tidak membuat seorang Nararendra Kasyafani berhenti mengeluarkan cairan bening disana. Kantung mata yang membengkak disertai lingkaran hitam disekeliling nya membuat hati Arissa dan Kinanti kembali terenyuh. Iba, adalah satu kata yang mendefinisikan dari pikiran mereka.

Empat puluh hari kepergian sinta. Sungguh tidak terasa. Tatapan belas kasihan dari para tamu yang datang untuk mengirim doa diberikan kepada seorang anak kecil yang duduk tepat di samping kiri kinanti. Membaca lantunan Surah Yasin dengan air mata mengucur bebas.

Nara adalah anak ketiga dari sinta dengan laki-laki lain. Ditinggal sang ayah sejak dalam kandungan membuat ia menjadi sosok anak lelaki yang tegar bagi sang ibu. Sendiri, sekarang nara adalah seorang anak yatim piatu. Tiada saudara dari pihak ayah maupun ibu.

Tidur tanpa pelukan bunda setiap malamnya membuat hati Nara kembali perih. Ia sebatang kara.

Tangan lembut milik Kinanti menyentuh bebas pipi milik Nara. Menghalau air mata yang masih terus berjatuhan. Bagaimana pun juga Nara masih kecil, seumuran dengan putra bungsu--si jeno pecinta kucing. "Jangan sedih sayang, ada ibu disini"

Sungguh Kinanti memiliki hati mulia. Seharusnya ia benci tetapi malah mengasihi. "Mulai sekarang Nara ikut tinggal sama ibu dan ayah Bagas ya? Mau kan?" lagi, anak itu kembali menangis di pangkuan kinanti.

Mengucapkan beribu kata terimakasih serta maaf mewakilkan perbuatan buruk ibu nya dulu. Nara mengetahui banyak tentang keluarga Bagas sebab bunda sering bercerita. Yang membuat Arissa menghela nafas lega, setidaknya ada Kinanti dan Bagas yang akan merawat Nara.

Mobil besar dengan warna hitam itu memasuki pekarangan rumah. Membuat Nara sekali lagi harus menelan ludah secara kasar. Tangan kecilnya memproduksi banyak keringat di dingin nya malam hari ini.

"Mulai sekarang ini rumah baru untuk Nara ya" ucap kinanti. Sedang bagas hanya tersenyum sembari mengangkat koper milik keluarga baru. "Ayuk masuk, didalem ada mbak Senja dengan Jeno"

Pintu rumah terbuka. Menampilkan dua onggok manusia. Senja yang sedang duduk sambil memangku jeno yang bermain gawai dengan si kucing disampingnya. "Nara!" pekik bungsu. Seulas senyum tipis menjadi balasan.

Tatapan bertanya dari Senja diberikan kepada ayah dan ibu. Membuat Kinanti dan Bagas mengangguk kompak. "Mulai sekarang Nara tinggal bareng kita, nak"

Diluar ekspetasi. Senja si pecinta anak kecil itu malah memberi tatapan sinis kepada Nara. Entahlah, perasaan sakit hati dan benci seakan sedang bergumul dengan ego nya masing-masing. Berjalan menuju pintu kamar-mengabaikan sang ayah yang menghela nafas kasar.

"Senja masih butuh waktu mas" yang dijawab dengan anggukan pelan. "Nara tidur dengan Jeno berdua ya, Koper nya nanti di antar sama ayah ke lantai atas"

Sekali lagi. Senyum tulus dari Nara menguar. "Terimakasih banyak ibu, dan... ayah bagas"

Usakan pelan dipucuk kepala diberikan bagas. "Sama-sama, sekarang Jeno ajak Nara ke kamar ya" titahnya.

"Siap ayah!"


Sehabis menyelesaikan sholat Tahajud, Doyoung dikejutkan dengan wajah pucat milik sang teman merangkap bawahan berbadan besar. Memuntahkan segala isi yang berada di dalam perut sedari tadi terus Jhonny lakukan.

Sedang si Jeffrey yang bertugas memijat tengkuk menghela nafas pelan. Sudah sebulan lebih temannya seperti ini. Efek dari merindukan sang istri yang sedang mengisi. "Minum teh anget dulu deh bang, air panas juga ada kok di belakang"

Half Cold ; With Doyoung (√)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang