Pewaktu sudah menunjukkan pukul 12 malam lewat, namun Nathan terbangun secara tiba-tiba dari tidurnya karena rasa lapar yang selalu datang di waktu yang tepat. Kebiasaan buruk yang selalu dialaminya setiap malam.
Nathan kembali merutuk saat dirinya sama sekali tidak menemukan satu makananpun baik dari dalam kulkas maupun dilemari makanan. Dia lupa berbelanja persediaan makanan. Rasa laparnya tidak pernah bisa di ajak untuk berkerja sama, membuatnya terpaksa untuk pergi membeli beberapa makanan ringan ke toko 24 jam.
Jarak toko yang lumayan jauh dari apartemennya membuat pria itu mau tak mau melenggang sendirian di jalanan sepi itu. Sedikit mengerikan saat dia membayangkan jika ditengah jalan dia dicegat oleh para begal. Sialan, sekarang dia merinding sendiri membayangkan para begal. Semoga dia akan baik-baik saja, harapnya.
Pria itu memarkirkan motornya didepan sebuah toko yang lumayan besar saat dia sudah tiba. Toko yang dimasukinya cukup sepi, hanya ada dirinya dan seorang penjaga kasir pria yang berjaga di tempatnya. Sementara Nathan yang sibuk memilih beberapa makanan ringan, pintu toko itu kembali terbuka. Menampilkan sosok Orion yang berjalan masuk dengan pincang. Entah ini kutukan atau sebuah kebetulan belaka, dua manusia itu kembali di pertemukan.
Orion yang baru saja datang berhasil mengambil alih perhatian Nathan, membuat pria bertubuh kecil itu kontan membulatkan matanya. Dia tidak senang dengan kehadiran Orion ini.
"Kau lagi!" Tukas Nathan, membuat Orion spontan menatapnya.
Orion menghembuskan napasnya gusar, dia benar-benar tidak dalam suasana yang baik untuk meladeni ocehan Nathan. Orion memilih untuk diam dan tidak perduli dengan anak itu.
Nathan tersenyum saat melihat banyaknya memar diwajah Orion, penampilan pria itu juga begitu buruk, bajunya yang acak-acakan dan noda darah dimana-mana.
Tunggu! Darah?
Melihat itu senyum Nathan seketika memudar. Apa yang telah di lakukan pria ini sampai-sampai ada banyak noda darah dibajunya. Kemeja putih yang dikenakannya jelas menunjukkan bercak merah disana.
"Hei. Kau tidak apa-apa? Kau terluka?" Tanya Nathan. Hell! Kenapa dia jadi peduli pada pria itu. Mau dia terluka atau apapun itu tidak ada urusannya dengan Nathan.
"Urusi urusanmu, dan berpura-puralah tidak melihat ku." Ketus Orion, dia berjalan menjauh setelah membeli beberapa gulungan plester luka.
Nathan yang selalu penasaran ini merasa kurang puas dengan jawaban Orion barusan, jadi dia memutuskan untuk mengikuti Orion ke meja kasir.
"Satukan dengan miliknya." Ucap Nathan tidak tahu malu, secara langsung dia meminta Orion untuk membayar semua belanjaannya.
Orion memutar bola matanya kesal dengan tingkah Nathan ini. Seharusnya dia memang menembak kepala Nathan saat itu.
"Ini, bayaran untuk makanannya, kembaliannya ambil untuk mu." Dan bodohnya Orion hanya menuruti dan bahkan memberi dua lembar uang kertas berwarna merah dari dompetnya, dan pergi setelah penjaga kasir itu menghitung belanjaannya.
Nathan yang tidak ingin ditinggal menuntut agar penjaga kasir itu cepat-cepat menghitung barang belanjaannya.
"Hei tunggu!" Pekik Nathan pada Orion yang berjalan masih tidak terlalu jauh, dia sulit untuk melangkah karena kakinya yang terluka.
"Kau sungguh-sungguh tidak apa-apa? Kau terluka parah sepertinya." Orion tidak menjawab, yang dilakukan pria itu hanya menatap Nathan yang tampak khawatir dengan keadaan Orion saat ini.
"Kau tidak apa-apa? Jawab aku." Tuntut Nathan.
"Berhentilah bertingkah seperti ini, kau membuat ku teringat akan seseorang." Wajah Orion berubah sendu.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Boss Need Me |END|
Romance[21+] [Warning!!] [#Cerita ini banyak mengandung adegan sex!! #tidak cocok dibaca oleh anak-anak berumur 17 tahun kebawah #kalau masih nekat, konsekuensinya ditanggung sendiri #BOY♡BOY/Homo] "Noah adalah milikku, berani menyentuhnya, jangan harap...
