Noah tidak tahu lagi apa yang harus dilakukannya. Apakah dia harus mengundurkan diri? Tapi, jika dia melakukan hal tersebut, bagaimana cara dia untuk menyambung hidup? Kalau bekerja sampingan sebagai pelayan di restoran kecil tempat dia pernah bekerja, gajinya tidak akan cukup untuk kebutuhan hidupnya sehari-hari termasuk uang sewa apartemen, lain lagi dia harus melunasi hutang-hutang yang melilitnya.
Selama bekerja dia tidak bisa fokus lantaran memikirkan Hares, bahkan sampai pulang pun dia masih kepikiran. Bagaimana jika Hares akan melakukan hal yang sama seperti kejadian di PUB.
"Kau menaiki sepeda ini untuk berangkat kesini?" Noah tersentak kaget saat orang yang menganggu pikirannya nyata ada dihadapannya.
Hares berjalan pelan kearah Noah dengan kedua tangan yang dimasukkan kedalam saku celana. Noah mundur beberapa langkah menjauh dari sepedanya, tidak mau dekat-dekat dengan Hares.
"Aku ini bosmu, dengan kau berjalan mundur seperti itu, secara tidak langsung kau menghinaku." Ucap Hares tenang. Seakan tuli, Noah tidak mengindahkan perkataan Hares, dia masih berjalan mundur menjauhi pria tampan namun berbahaya itu.
"Ada apa Noah? Kenapa? kau takut?" Noah masih terdiam, bibirnya sulit untuk dibuka. Sikap inilah yang disukai oleh Hares.
Wajah Noah yang terlihat polos dan lugu ini, tidak pernah gagal membuat Hares bersemangat untuk menikmati tubuh kecilnya itu.
Tidak mau membuang waktu, Hares melangkah cepat menghampiri Noah, mendorong tubuh mungil itu hingga membentur dinding. Persetan dengan tempat Hares mencumbu Noah yang masih berada dibasement.
Hares secara tidak sabaran menciumi bibir Noah, melumat bibir itu selayaknya permen karet. Noah meronta, ia memukul-mukul dada Hares, sesekali dia juga mendorong tubuh Hares. Kesal dengan Noah yang tidak menurut, Hares menggenggam erat-erat kedua tangan itu, lalu menahannya keatas kepala Noah. Noah tidak bisa memberi perlawanan lagi, kakinya juga ditahan oleh kaki Hares.
"Sekarang kau tidak bisa melawan lagi." Ucap Hares senang penuh kemenangan.
"Kumohon lepaskan..." Hares membungkam mulut Noah dengan bibirnya, dia bahkan mendapat kesempatan untuk bermain dengan lidah Noah.
Noah tidak dapat bergerak lagi, rasanya dia juga mau mati karena kehabisan oksigen.
"Mmmphhh..mphhh...mmmmpphh.." Desah Noah saat Hares menggigit lembut bibir bawahnya.
Bosan dengan bibir, Kini Hares merobek kemeja yang dikenakan Noah dengan sebelah tangannya dan langsung melumat puting yang sudah mengeras itu.
"Ngh..ah..hen...hentikan....ah! Ku..mo..hon...ah...lep...lepaskan....aku...ah...hah.." Noah mendesah saat Hares melumati putingnya, menghisap bahkan memilin benda itu sampai meninggalkan bercak kemerahan disana. Disekitaran dada dan leher juga sudah ditinggali cap kemerahan tanda kepemilikan.
"Mendesah lagi, aku suka mendengar desahanmu." Ucap Hares tak memperdulikan permintaan Noah.
Hares masih saja melumati puting Noah yang sudah mengeras itu, ia juga mencubit pelan puting Noah yang lainnya.
Namun sialnya aktivitas melumat Hares terhenti saat ia mendengar sebuah pergerakan. Tidak mau sampai ada orang lain melihat Noahnya yang sudah hampir setengah telanjang, ia menarik pergelangan pria itu dan memaksanya memasuki mobil hitam yang biasa dipakai olehnya.
"Lepaskan! Tolo....ngggmmm!!" Hares menutup bibir Noah dengan telapak tangannya.
"Diamlah, atau kau akan mendapatkan malu. Lihat dirimu, kau berantakan." Bisik Hares tepat ditelinga Noah. Membuat bulu roma Noah meremang. Hares berada tepat dibelakang Noah. Dari posisinya yang berada dibelakang, Hares kembali beraksi dengan mengecup perpatahan leher milik Noah, dan jari yang tidak dibiarkan menganggur dan kembali memainkan puting Noah.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Boss Need Me |END|
Romance[21+] [Warning!!] [#Cerita ini banyak mengandung adegan sex!! #tidak cocok dibaca oleh anak-anak berumur 17 tahun kebawah #kalau masih nekat, konsekuensinya ditanggung sendiri #BOY♡BOY/Homo] "Noah adalah milikku, berani menyentuhnya, jangan harap...
