Aku menatapnya datar,buru-buru mengemasi music box dan mengusap keringat di pelipis,berjalan cepat ke arah pintu keluar untuk segera beranjak dari tempat.
Terlihat lelaki tadi tetap mematung ditempat,badannya yang menghalangi pintu segera kulewati tanpa ingin menyenggolnya walaupun tetap tersenggol.
"Bella,tunggu!"ucapnya kemudian mengejarku.
Aku terus berjalan dengan cepat tanpa menghiraukan teriakannya yang menggema memanggil namaku.
"Kau!berhenti disana,"katanya semakin lantang,aku tetap tidak mengindahkan panggilan itu.
Oh God,aku lupa dengan keberadaan tas ranselku yang masih kutinggal di studio latihan,sial!gara-gara lelaki ini aku sampai lupa mengambil ranselku.
Aku berhenti,setelah itu berbalik dan mendapati lelaki bernama Valleron itu sudah tepat berada di hadapanku.Aku terkejut kemudian kembali menstabilkan ekspresiku menjadi datar.
"Bella,aku bukan bermaksud untuk--"
Aku tidak peduli dia akan berbicara apa,yang aku inginkan adalah mengambil ranselku lalu segera pergi dari tempat ini.
Aku bisa merasakan derap langkah megikutiku,tanpa menoleh pun aku tahu dia siapa.
"Bella,darimana saja kau?"Tanya Kak Tari setelah aku memasuki ruangan.
"Studio senior,"singkatku lalu meraih ransel yang berada di samping Kak Tari.
"Aku mau pamit pulang duluan Kak,"ujarku kepada Kak Tari tanpa melihat wajahnya karena aku sibuk memasukkan barang kedalam ransel.
"kenapa?"
"Aku kan tidak ikut acara itu,jadi aku tidak perlu ikut latihan kan?"kataku lalu menggendong ransel di punggung.
Ia nampak menghela napas pasrah,"kuharap kau masih bisa mempertimbangkannya,Bella."ucapnya kemudian.
Aku tak memberikan reaksi apapun,ku langkahkan kakiku keluar ruangan,disana,di depan pintu,aku bisa melihat kerumunan perempuan yang mengerubungi sesuatu.Tanpa peduli mereka sedang apa,aku terus berjalan,menjauh dari keramaian dan kebisingan.
"Bella,tolong aku."teriak seseorang yang aku ketahui ia adalah Valleron.Lelaki itu sedang dikerumuni banyak gadis di depan ruang latihan.
Aku mengernyit,kenapa ia meminta tolong padaku?
Aku kembali melangkahkan kakiku menuju halte bus terdekat,tidak peduli hujan yang mungkin sebentar lagi akan turun.Mengingat itu,aku segera mendial nomor Bunda,aku tak mau membuat dia khawatir dengan keadaanku sekarang.
"Huh-hah-huh-hah,akhirnya...,kenapa kau meninggalkanku?"ucap seseorang dari arah samping,tanpa menoleh pun aku tahu siapa dia.
Aku terus mencoba mendial nomor Bunda,tetapi tidak bisa.Ku kirim pesan singkat yang menyatakan kalau aku akan pulang terlambat karena sebentar lagi hujan.
"Bella,Oh Tuhan....sulit sekali berbicara denganmu,"gerutunya yang masih tak ku hiraukan.
Aku duduk di kursi halte dengan santai,dia lalu mendekat,ikut duduk disampingku.
"Aku tadi tidak berniat untuk mengintip kegiatanmu di studio,aku hanya---"
"Diam,aku tidak meminta penjelasanmu,itu tidak penting."ucapku datar.
"Tapi itu penting bagiku,kau terlihat kesal saat mengetahui---"
"Aku hanya tidak percaya diri,"
"Sekali saja,kau jangan memotong perkataanku bisa?"tanyanya sedikit menahan kesal karna sedari tadi aku menyela pembicaraannya.
"Gerakanmu tadi bagus,"
KAMU SEDANG MEMBACA
JUDUL_
Ficção Adolescente"Tuhan memberikan kita mulut untuk makan,bukan untuk membicarakan keburukan orang lain,tuhan memberikan kita telinga,untuk mendengarkan kata kata yang baik,bukan mendengarkan omong kosong orang lain,tuhan juga memberikan kita tangan,untuk menutup te...
