32. Istana Kita

7.7K 394 15
                                        

Nabila Pov

"Nabila, aku mau bicara."

Aku menoleh kearah orang yang memanggilku itu. Ia sedang duduk disudut kasur mengenakan pakaian yang sangat aku sukai. Baju koko dan sarung serta kopiah diatas atas kepalanya.

Dia Mas Nuga, suamiku. Yang baru saja pulang dari Masjid. Aku mendekat kearahnya. Meraih tangannya untuk kucium.

"Mau ngomong apa?" tanyaku.

Kulihat wajahnya melemparkan senyuman kearahku. Mungkin, ia sedang merasa bahagia. Karena akhirnya aku membuka mulut untuk berbicara dengan dirinya.

"Eeee ... Kamu enggak marah lagi sama aku?" tanyanya.

"Emang kamu mau aku marah sama kamu,Mas?" tanyaku balik.

Dia menggeleng dengan cepat sembari memberikan senyuman, seolah menjawab pertanyaannya ku dengan kata 'jangan'.

"Tadi katanya mau ngomong. Emang kamu mau ngomong apa?" tanyaku

"Oh iya, lupa," ujarnya. "Jadi gini, aku mau jelasin masalah yang kemarin. Soal Halimah," sambungnya.

Aku memasang wajah datarku saat dia mengucapkan nama Halimah. Oke Nabila, jangan egois. Denger kan penjelasan suamimu itu. Biarkan, dia menjelaskannya.

"Ya udah, jelasin aja."

"Oke,"ucapnya mengatur Nafas. "Sumpah aku enggak tahu kalau dia datang ke pesantren hanya untuk menangih komitmen yang pernah aku dan dia buat. Jujur, bil. Aku udah kirim surat itu lewat e-mail. Aku udah kasih tahu tentang pernikahan kita ke dia."jelas Mas Nuga.

"Aku enggak bisa kalau kamu diemin kayak gini. Aku ngerasa sebagian dari hidup aku ada yang hilang."

Ingin tertawa rasanya saat mendengar ucapannya itu. Seorang Anugrah Nur Hasan bisa bersikap dan berbicara seperti itu. Hal yang sangat langkah. Tapi aku suka dengan kelangkahannya itu.

"Bil, kok senyum-senyum sendiri?" tanyanya.

"Enggak ada. Cuma pengen senyum aja. Di gombalin sama kata-kata yang tadi." jawabku.

Aku terperanjat saat dia meraih tanganku dan mengenggamnya.

"Itu bukan gombalan, sayang. Aku bicara melalui hati. Lagian ya, aku lebih suka kamu marah secara terang-terangan dari pada kamu ngediemin aku kayak gini,"ucapnya

Aku menarik tanganku yang digenggam oleh Mas Nuga. Dengan wajah yang amat garang, aku memarahinya habi-habisan.

"Oh jadi gitu, lebih suka kalau aku marahnya terang-terangan?!"

"Iya." jawabnya dengan jujur.

"Jadi kamu mau aku marah-marah sekarang, iya?!"

"Eh, enggak kok. Maksud aku itu tadi --- "

"Maksudnya apa? Tadi yang bilang lebih suka lihat aku marah secara terang-terangan siapa?!" celaku disaat dia mau menjelaskan.

Aku lihat wajahnya menunduk. Apakah dia takut dengan ucapan ku barusan. Ya Allah maafkan aku, aku cuma mau mengerjainya saja. Serius deh, enggak bohong.

"Ya aku sih, tapi kan aku ... "

"Aku apa. Mau alasan apa lagi, aku jadi kesel kan kan sama kamu kalau kayak gitu. Aku udah baik-baik loh sama kamu," ucapku dengan suara yang penuh dengan emosi.

"Ya udah, aku minta maaf," ucapnya mengalah.

"Enggak mau, aku enggak mau maafin kamu. Kamu tahu, tanganku rasanya gatel banget mau nampar pipi kamu,Mas." bisa kulihat wajahnya mulai merasa khawatir dan tangannya sekarang sedang memegang pipinya sendiri.

Kamu Pilihan AllahCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang