Mereka tiba di rumah lima menit sebelum adzan Magrib. Rasa kesal dan marah yang tercipta di sana terbawa sampai ke rumah. Nabila masuk ke rumah tanpa menoleh kiri dan kanan. Bahkan Nuga yang hendak pergi ke masjid dia lewati begitu saja.
"Assalamualaikum," ucap Marwah.
"Wa'alaikumsalam. Itu Kak Nabila kenapa?" tanya Nuga bingung.
"Marwah takut salah ngasih informasi. Jadi Kakak langsung aja nanya ke Kak Nabilanya," ucap Marwah.
Menuruti ucapan adiknya, Nuga masuk ke dalam kamar. Ia menghampiri Nabila yang duduk di atas kasur.
"Ada apa?" tanyanya.
"Enggak ada," jawabnya dengan amarah.
"Pasti ada, ayo cerita supaya emosinya reda," pinta Nuga.
"Tadi gue ketemu sama penyebab kita nikah," ucap Nabila dengan emosi.
"Mereka duduk di kursi yang sering gue duduki, datang ke cafe favorit gue dan bicara soal pernikahan padahal waktu itu mereka chat gue dan sok khawatir. Gue engga habis pikir ternyata mereka semunafik itu!" ucapnya dengan emosi.
"Mereka yang kamu maksud itu siapa?" tanya Nuga.
"Rio dan Syella. Rio tunangan gue, kita hampir nikah. Dia anak rekan bisnis Papa sementara Syella sendiri sahabat gue dari kecil, dari kita TK. Mereka selingkuh, malam itu gue lihat mereka ... "
Nabila menggantungkan kalimatnya, jika mengingat kejadian itu rasanya sangat sakit. Seorang sahabat yang sudah ia anggap sebagai saudara sendiri malah menjadi musuh dalam selimut.
Nuga menunggu jawaban tanpa bertanya. Nabila menatap mata suaminya dan sedikit ragu untuk menceritakannya. Tapi melihat wajah Nuga yang penasaran membuatnya angkat bicara. Bagaimanapun pria yang ada dihadapannya adalah suaminya.
"Mereka tidur bareng. Gue mergoki mereka tapi kayaknya mereka asik sama dunia mereka, gue yang jijik langsung pergi dari aparteman itu dan gue jalan tanpa tujuan sampai naik bis secara sembarangan dan akhirnya sampai ke sini," ucapnya Nabila yang amarahnya hampir luluh.
"Lo bisa bayangin kan betapa sakitnya gue, Mama dan Papa berantem. Gue yang pengen cari penenang malah ngelihat mereka berbuat itu dan kejadian malam itu ... semuanya ... bener-benar sakit, gue --- "
Nuga langsung membawa Nabila ke dekapannya. Seperti membuka luka lama Nabila kembali menangis. Nuga sekarang mengerti kenapa pada malam itu Nabila mengatakan semua laki-laki brengsek dan hendak menyakiti dirinya sendiri. Ternyata luka yang dialami istrinya sesakit ini.
"Udah, jangan diterusin kalau itu buat kamu sakit," ucap Nuga.
"Maaf, karena gue bohong soal Lo
yang mau nikahin gue ke warga. Kalau aja pikiran gue enggak kacau dan gue ngga keinget sama kejadian mereka pasti kita enggak akaan nikah," ucap Nabila.
Nuga menegakkan badan Nabila, dia memegang kedua pundak istrinya itu.
"Jangan kamu inget lagi tentang kejadian malam itu. Saya sudah menerima kamu sebagai istri dan kita sekarang punya kehidupan baru. Ambil hikmahnya Nabila, Allah menunjukkan bejatnya lelaki itu sebelum kamu menikah sama dia. Pertemuan kita bukan tanpa sebab, pernikahan kita juga bukan karena kebetulan. Tapi semua sudah di tentukan. Mungkin, bedanya sama cerita orang-orang lain yang menikah. Proses kita terlalu di percepat sama Allah dan banyak suprisenya," ucap Nuga.
Nabila yang masih terisak mencerna setiap perkataan Nuga. Ada benarnya juga yang dikatakan Nuga, kalaupun mereka waktu itu tidak menikah. Nabila tidak akan pernah tahu seperti apa yang namanya keluarga. Meski belum mengenal lama tapi Nabila sudah merasakan kasih sayang Abi dan Ummi. Meski kehidupan mereka sederhana tapi disini Nabila merasakan ketenangan dan kehangatan.
"Makasih, ya. Makasih karena sudah mau denger gue cerita. Sebenernya ini ngga penting juga dan --- "
"No, ini penting. Saya jadi tahu kalau kamu sebelumnya punya tunangan. Jadi saya bisa antisipasi supaya dia enggak ngejar kamu dan ambil kamu dari saya," ucap Nuga.
"Apaan sih, engga usah lebay," ucap Nabila.
"Loh, saya bicara jujur. Wanita seperti kamu siapa yang tidak akan jatuh hati," ucap Nuga.
"Emang Lo jatuh hati sama gue?" tanya Nabila.
Allahu Akbar
Allahu Akbar
"Nah, sudah adzan. Ayo kita shalat," ajak Nuga yang mengalihkan pembicaraan.
"Gue belum mandi," jawab Nabila.
"Ya mandi kalau gitu. Bersih-bersih, kita shalat di rumah aja. Saya tunggu kamu," ucap Nuga.
Napas lesu keluar dari hidung Nabila. Ia berdiri dan berjalan kearah pintu untuk mengambil handuk. Amarahnya sekarang sudah mereda karena telah berbicara dengan Nuga. Sebelum keluar kamar Nabila menatap pria yang duduk di kasur itu. Tapi yang ia dapat malah sebuah gerakan mengusir. Nabila berdecak lalu keluar dari kamar, tingkah itu malah membuat Nuga tersenyum.
Ia masih tersenyum seraya memikirkan pertanyaan Nabila tadi.
"Saya belum jatuh hati sama kamu Nabila. Tapi akan saya coba, saya janji," ucapnya kemudian.
***
Ini kali pertama mereka melaksanakan shalat bersama setelah menikah. Meski Nuga sudah sering menjadi imam shalat di pesantren, tapi ada rasa yang berbeda yang Nuga ambil. Usai menyelesaikan shalat, Nuga berbalik dan memberikan tangannya untuk di cium Nabila.
Nabila meraih tangan itu, sebagai balasan Nuga mencium kening istrinya untuk pertama kali. Jangan ditanya bagaimana perasaan Nabila. Terkejut, mematung lalu cemberut. Dia menatap wajah Nuga yang tersenyum ke arahnya.
"Kenapa harus cium kening?" tanya Nabila.
"Emang kamu mau dicium dibagian mana?" tanya Nuga serius yang membuat Nabila membulatkan matanya.
Tangannya tanpa ampun langsung mendarat di perut Nuga. Ia mencubit lelaki itu dengan marah.
"Aww, eh, jangan. Nanti yang diluar denger malah salah paham," ucap Nuga.
"Eh, jangan pikir gue enggak tahu ya kalau Ummi dan Abi masih di masjid. Bisa-bisanya nanya kayak gitu," rutuknya yang masih berusaha mencubit Nuga.
"Eh, aduh!"
Nabila masih gemas dan tidak menghiraukan teriakan itu. Nuga menahan tangan istrinya, Nabila mencoba melepaskan tapi tetap ditahan. Wajah lelaki terus tersenyum ke arah sang istri.
"Bisa enggak sih jangan senyum terus," kritiknya yang langsung memalingkan wajah.
Bisa diabetes jika terus melihat wajah itu. Tidak dapat dipungkiri jika Nuga adalah pria manis. Tidak hanya kata-kata tapi tindakannnya juga manis.
"Enggak bisa, soalnya kamu suka marah-marah," jawab Nuga.
Kedua mata itu saling memandang, mereka begitu dekat sekarang. Bahkan jantung keduanya berdetak up normal. Nabila yang tidak biasa dengan perasaan ini segera menggigit tangan Nuga yang lenga.
"AW!" Pekiknya.
Ia berbalik, menyembunyikan wajah dan memegang dadanya agar berdetak normal. Sedangkan Nuga melihat tangannya yang terkena gigitan Nabila.
'Lo kenapa sih, Bil. Kenapa Lo degdegan,' batinnya.
.
.
.
Bersambung
___________________________________________
KAMU SEDANG MEMBACA
Kamu Pilihan Allah
RomanceCerita Sudah tamat (Maret 2020) Ketika hati telah memiliki pilihan sendiri, namun Allah menghadirkan orang lain di dalam kehidupanmu. Takdir Allah itu begitu indah, meskipun kita tak pernah peka terhadapnya. Ya, itulah yang dirasakan oleh Anugrah Nu...
