Satu persatu para jama'ah shalat Dzuhur keluar dari masjid. Nuga dan Papa mertuanya beriringan keluar dari masjid tersebut. Sepanjang perjalanan pulang, mereka saling diam. Rasa canggung antara keduanya yang tak pernah bertengur sapa itu melanda hati.
"Ga, saya boleh tanya sesuatu sama kamu?" tanya Papa, "Ini tentang kamu dan Nabila." sambungnya.
"Boleh, Pa. Mau tanya apa?" ucap Nuga mengizinkan.
"Nabila, apa benar anak itu tidak mengeluh tentang harta, tentang hidup kalian yang susah, tentang pernikahan kalian yang terpaksa itu?" tanya Papa.
"Alhamdulillah enggak, Pa. Nabila enggak pernah mengeluh dengan keadaan kami. Saya beruntung memiliki istri seperti dia." jawab Nuga dengan senyum.
"Tapi saya enggak habis fikir sama anak itu. Kenapa dia bisa menerima hidup serba pas-pasan dan mau hidup sama kamu. Berdua, ngontrak, dan ... ah, begitulah."
Papa Nabila masih saja mempermasalahkan ini semua. Ia masih tak terima jika Nabila hidup dalam kemiskinan. Nuga menunduk dan mengangguk.
Dengan senyum Nuga menjawab, "Pa, walaupun kami hidup dengan kesederhanaan tapi kami bahagia. Kuncinya cuma satu, Pa. Allah," ucap Nuga.
"Allah?"
"Iya. Sesusah apapun kita, kalau kita ingat sama Allah maka Allah akan memberikan kemudahan disetiap urusan kita. Soal harta, Papa enggak usah khawatir. Karena Harta bisa dicari, Pa. Nabila menerima saya karena Allah dan Saya menerima Nabila juga karena Allah." jawab Juga dengan senyumnya.
Fran termenung. Matanya menuju kebawah. Telinganya mendengar gesekan antara alas sendalnya dan jalan. Dia memiliki segalanya, dia kaya, memiliki tahta. Tapi, ia melupakan keluarganya, melupakan Tuhannya. Apa itu penyebab ia selalu bertengkar dengan sang istri dan sang anaknya. Ia menerima sang istri karena mereka berdua dijodohkan.
Ia tak pernah mencintai Rena, bahkan ia pura-pura bahagia saat menikah dengan istrinya.
"Hm, Ga. Saya mau tanya satu hal lagi ke kamu."
"Apa Pa?"
"Bolehkah laki-laki menikahi wanita lain, sedangkan sang istri masih ada. Masih hidup."
"Maksud Papa poligami?" tanya Nuga dan Fran sengangguk.
"Poligami di perboleh dalam islam, Pa. Tapi ada syarat-syaratnya." Jawab Juga.
"Sayarat?" tanya Fran.
"Iya."
"Memang apa aja syaratnya?" tanya Fran.
"Syarat pertama, jumlah istri yang mau dinikahi maksimal hanya berjumlah empat. Kedua, harus berlaku adil sama semua istri. Ketiga, jangan melupakan ibadah kepada Allah, dan yang terakhir menjaga kehormatan para istri-istrinya." jelas Nuga.
"Kalau kita tidak bisa berlaku adil bagaimana?" tanya Fran.
"Cukup nikahi satu wanita saja. Didalam Al-Quran surah An-nissa ayat ke tiga.
وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَىٰ فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَىٰ وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ ۖ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَلَّا تَعُولُوا
Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu menikahinya), maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. Jadi, kalau kita merasa tidak mampu berlaku adil, maka nikahi satu orang saja," ucap Nuga.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kamu Pilihan Allah
RomanceCerita Sudah tamat (Maret 2020) Ketika hati telah memiliki pilihan sendiri, namun Allah menghadirkan orang lain di dalam kehidupanmu. Takdir Allah itu begitu indah, meskipun kita tak pernah peka terhadapnya. Ya, itulah yang dirasakan oleh Anugrah Nu...
