Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

9. Hati yang bergetar

11K 498 6
                                        

Jam menunjukkan pukul sembilan malam. Nabila duduk di jendela kamar, dia tengah asik bercerita dengan seseorang. Suasana pesantren yang masih ramai membuat dirinya tidak merasa takut meski Nuga sedang tidak ada di rumah.

"Terus dia bilang apa lagi sama Lo?"

"Ya enggak banyak. Cuma itu aja."

"Terus si Syella ada minta maaf ngga sama Lo?"

"Enggak. Kejadiannya juga cepet banget. Tapi ya udahlah, Ka. Gue aja kayaknya yang kebawa emosi tadi waktu lihat mereka berdua dan bahas soal pernikahan. Padahal gue udah nikah juga hehehe," ucap Nabila kepada Eriska.

"Wajar kalau Lo emosi. Gue enggak nyalahin. Terus respon adik ipar Lo gimana?"

"Kaget, bingung tapi dia enggak banyak tanya. Cuma suami gue yang tanya gue kenapa."

"Suami Lo tahu tentang Rio dong?"

"Sedikit, dia baik tahu, Ka. Dia ngga marah waktu gue cerita tentang Rio. Dia mau ngertiin gue dan ngerubah mood gue yang awalnya marah jadi tenang," jawab Nabila.

"Aaa, romantis dong suami Lo. Jarang loh ada orang yang kayak dia. Apalagi kalian nikah kilat. Dia kayaknya orang baik, ya."

"Ya baik, tapi kadang bikin gue kesel juga."

"Kenapa?"

"Masa ya tadi waktu selesai shalat. Waktu gue cium tangannya dia malah cium kening gue. Kaget lah gue,"

"Eh, Neng. Itu romantis, emang seharusnya begitu. Gue sama laki gue aja kayak gitu. Terus Lo apain laki Lo?"

"Gue cubit sama gue gigit tangannya."

"Eh buset. Masih galak aja ni orang. Itu laki lu, Neng. Mau dia ngapa-ngapain lu juga kagak ape-ape. Mau lu di grepe-grepe sama laki lu juga ngga ape-ape. Jangan galak sama suami, dosa."

Nabila memutar bola mata malas. Bercerita dengan Eriska seperti bercerita dengan seorang ibu. Dia akan menceramahi Nabila ketika Nabila berbuat salah.

"Nanti minta maaf. Awas aja kalau enggak." Sambung wanita itu.

Cklek!

Pintu kamarnya dibuka oleh Nuga. Pria itu memandanginya sebentar lalu menutup pintu.

"Kita sambung besok. Suami gue pulang,"

"Oh, oke. Inget pesan gue tadi, minta maaf. Sama kalau dia mau nyentuh Lo jangan lu marahin!"

"Iya bawel. Ya udah bye."

Nabila mematikan ponselnya, dia berjalan ke arah kasur begitu juga dengan Nuga. Matanya melihat ke arah tangan yang digigitnya tadi. Ada bekasnya disana, dia menjadi bersalah sekarang. Sepertinya benar yang dikatakan Eriska, jangan terlalu kasar apalagi ini suaminya sendiri.

Nabila ingin mengatakan maaf. Tapi gengsinya terlalu tinggi, apalagi melihat Nuga yang langsung berbaring di atas kasur.

"Tadi telponan sama siapa?" tanya Nuga dengan mata tertutup.

"Temen."

"Oh. Besok Ummi minta kamu ikut nimbrung sama anak-anak santri ba'da subuh. Baca Al-Qur'an kayak waktu itu," ucap Nuga.

Nabila panik, dia belum bisa mengaji. Bagaimana bisa dia ikut bergabung dengan anak-anak santri itu. Bisa diketawain dia, bisa malu juga kalau Ummi tahu dia tidak bisa mengaji.

"Kita shalat subuh di rumah aja, ya," pinta Nabila.

"Kenapa?" tanya Nuga yang membuka mata.

"Gue kan enggak bisa ngaji," jawab Nabila panik yang mengingatkan Nuga pada waktu subuh dua hari yang lalu.

"Ya udah nanti saya atur," jawabnya kemudian.

***

Tok! Tok!

"Nabila sayang ayo bangun," panggil Ummi.

Gagang pintu bergerak dan pintu terbuka perlahan. Nuga menguap dan mengucek matanya seolah baru bangun tidur. Ummi merasa aneh, biasanya Nuga sudah pergi ke masjid jam segini tapi sekarang dia seolah baru bangun dari tidurnya.

"Ada apa Ummi?" tanyanya.

"Nabila mana, kamu juga kenapa belum berangkat ke masjid?" tanya Ummi.

"Hoam, Nabila masih tidur. Kita begadang tadi malam, nanti kita shalat di rumah aja," ucap Nuga.

Wajah Ummi menunjukkan ekspresi tidak puas. Dia mencoba berjinjit untuk melihat Nabila tapi dihalau oleh tubuh tinggi anaknya.

"Ngapain kalian begadang?"" ucapnya.

"M-mm," Nuga memutar otaknya untuk mencari jawaban.

"Itu, cucu. Buat cucu," jawabnya asal sambil menggaruk tengkuknya.

"Cucu?" tanya Ummi kaget.

"Iya, cucu. Ummi mau jadi nenek kan. Jadi kita buatin. Hehehe," jawabnya.

"Oh, oke. Oke kalau gitu Ummi ke masjid sendiri. Itu Nabilanya bangunin," ucap Ummi mengingatkan.

"Siap," jawab Nuga.

Ummi pergi meninggalkan keduanya. Nuga memastikan ibunya keluar dari rumah. Saat dia hendak menutup pintu kamar tiba-tiba saja Nabila sudah berdiri di belakang pintu.

"Astagfirullah," ucapnya kaget.

Nabila dengan wajah datarnya melipat kedua tangan di depan dada.

"Bohong," ucap Nabila kesal.

"Ya kan demi kamu," jawab Nuga.

"Tapi nanti Ummi bisa salah paham lagi. Gimana sih," ucapnya kembali mencubit lengan Nuga.

"Aw," ringisnya.

Nabila meraih handuk dan meninggalkan Nuga sendiri. Lelaki itu kembai menghela napas.

"Salah lagi salah lagi," ucapnya.

Keduanya membersihkan diri sebelum shalat. Seperti kemarin, usai shalat Nuga memberikan tangannya tapi ketika dia hendak mencium dahi Nabila dia berhenti sebentar. Takut jika istrinya akan marah lagi. Nabila yang melihat tatapan Nuga kali ini menundukkan kepalanya. Dia membiarkan lelaki itu menciumnya dan itu membuat Nuga tersenyum.

"Kamu mau belajar ngaji nggak?"

"Mau," jawabnya spontan.

"Tapi ada syaratnya," ucap Nuga.

"Apa?" tanya Nabila curiga.

"Karena kita sekarang suami istri, udah tidur satu ranjang, dan sudah melaksanakan shalat berdua. Saya cuma minta kamu panggil saya 'Mas' dan ngga ada yang namanya panggilan Lo gue Lo gue. Kita pakai bahasa aku kamu aja," pinta lelaki itu yang sebenarnya dia takut jika permintaan itu ditolak Nabila.

Nabila menimbang pertanyaan itu. Dalam hal ini tidak ada yang rugi apalagi Nuga selalu sabar dengan sifatnya.

"Oke," ucap Nabila.

"Oke kalau gitu," ucap Nuga.

_________________________________________

BERSAMBUNG .....

Kamu Pilihan AllahCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang