Wanita itu duduk melamun di atas kasur yang tidak seempuk miliknya. Tatapan dingin, mata berkaca, tubuhnya masih terbalut jaket milik sang suami. Ini adalah malam pertamanya menjadi seorang pengantin. Tapi ini bukan keinginannya. Otaknya kembali mengingat adegan demi adegan yang baru saja ia lalu.
Beberapa jam yang lalu ...
Suara langkah kaki terdengar begitu cepat. Nafasnya terengah, peluh menetes begitu banyak, matanya terus mengawasi gerakan orang yang berada dibelakang. Lampu jalan yang hampir redup menerangi langkah cepatnya.
"Hei, tunggu!"
"Oh God. Kenapa hari ini gue sial banget sih!" rutuk Nabila.
Wajah yang penuh ketakutan itu terus berlari sembari mencari tempat untuk berlindung. Namun sungguh sayang, tangannya digapai oleh preman yang mengejarnya.
"Ha! Mau kemana kamu manis." Cegat mereka setelah mendapatkan tangan Nabila.
"Lepas! Lepasin gue!" Nabila memberontak sekuat tenaga. Berharap dapat melepaskan cengkraman tangan itu.
"Nantilah kita lepasin. Kita selesaikan dulu urusan kita tadi," ucap salah satu dari mereka dengan tertawa kemenangan.
"Kalian semua brengsek! Orang-orang seperti kalian enggak pantes hidup di dunia ini!" Bentak Nabila
Kalimat itu membuat sang preman naik pitam. Ia segera menyengkram wajah cantik Nabila dengan kedua tangannya yang kotor, bau alkohol dari mulut preman itu mengusik indra penciuman.
"Pedes juga ni bibir. Gimana kalau kita bungkam aja."
Matanya membulat ketika kalimat itu keluar. Rasanya sesak, matanya memanas karena amarah yang tidak terucap itu. Apakah ini akhir dari kisahnya?
"Setuju, bos."
'Kali ini tuhan benar-benar ngga adil!' Batinnya menjerit.
Brett!
Nabila memejamkan mata ketika tangan itu berhasil merobek lengan baju yang dipakai.
"Tolong jangan," pintanya dengan suara parau yang membuat preman itu tertawa menang.
Ia memperlihatkan deretan gigi yang berwarna kuning. Tangannya kembali menarik secarik kain yang hampir lepas itu.
Brett!
Isak tangisnya pilu kala pakaian yang dikenakannya robek sempurna. Kehormatannya sebagai wanita akan direbut oleh pria asing yang sangat bejat.
Wajahnya kembali di cengkram. Wajah Preman itu mendekat, kedua temannya tertawa senang melihat adegan ini.
'Lawan, Bil. Lawan! Lo pasti bisa. Jaga kehormatan Lo. Inget, Lo masih punya mimpi ke L.A.' Gerutunya dalam hati meyakinkan diri.
Buk!
Tertegun dirinya ketika melihat salah satu dari preman ini jatuh.
"Kurang ajar!" Seru pria yang memegang tubuh Nabila
Tidak terima teman mereka dipukuli, keduanya melepaskan Nabila dan mengambil posisi untuk menyerang orang yang mengacaukan kesenangan mereka. Terjadilah perkelahian di malam yang sunyi ini, tidak ada satupun orang yang lewat di jalan ini. Nabila yang melihat perkelahian itu hanya mematung, masih terisak ditempat karena kakinya sulit untuk melangkah lagi.
Pria yang hendak menolongnya mendapatkan pukulan diperutnya. Beruntung tidak terlalu keras sehingga ia berhasil menghajar ketiga preman itu.
Para preman itu tergeletak kesakitan. Ia segera memihat Nabila yabg masih mematung ditempat. Tanpa pikir panjang segera dia menarik tangan Nabila untuk masuk ke dalam mobil.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kamu Pilihan Allah
RomanceCerita Sudah tamat (Maret 2020) Ketika hati telah memiliki pilihan sendiri, namun Allah menghadirkan orang lain di dalam kehidupanmu. Takdir Allah itu begitu indah, meskipun kita tak pernah peka terhadapnya. Ya, itulah yang dirasakan oleh Anugrah Nu...
