7 : Celengan Rindu

12 1 0
                                    

Perang dunia ke-tiga berakhir dengan teriakan Silvi yang kesal. Namun, Putra tak berhenti mengoceh hingga membuat perang kembali di mulai.

Dan Silvi akhirnya hanya diam, Veli terkekeh melihat Silvi yang kesal sendiri.

Sepertinya bukan Silvi saja yang kesal, terlihat bu Vivin ke tempat Putra lalu menjewer telinga Putra.

Hingga membuat Putra mengaduh kesakitan. "aduh, bu salah Saya apa coba? Heran Saya dari tadi salah mulu"

"kamu, ini ya. Cerewet banget sih. Ibu jadi gemes deh sama kamu. " Putra hanya memanyunkan bibir nya kedepan.

Bukannya bertambah imut, tapi malah bertambah menjijikan.

"baik, anak-anak. Kita lupakan saja kejadian tadi sekarang, ibu mau tanya sama Vilo dan Bella. Mengapa kalian berdua mengundurkan diri dari drama secara mendadak? Ibu tak percaya ini, ibu kira kalian akan bertahan sampai latihan drama ini berakhir." 

Bella menunjukan wajah sedihnya sedangkan Vilo menunjukan wajah biasa saja.

"Saya mundur karena Vilo mundur bu." Bella menjawab dengan nada yang di buat sedih.

"memang Vilo mengundurkan diri karena apa?" bu Vivin menatap Vilo dengan tatapan tanda tanya.

"Saya mundur karena orang yang Saya sayang'i tidak menyukai Saya ada di sana bu."

"siapa orang itu?"

"Veli bu" tiba-tiba Putra langsung menyahutnya dengan keras.

"Putra, ibu tidak tanya ke kamu. Tapi ibu bertanya kepada Vilo"

Putra tertohok dengan pernyataan bu Vivin. Namun, Putra tetap memajang wajah cool, seperti tidak melakukan sesuatu.

"benar bu yang di katakan sama Putra. Veli bu yang buat Saya berhenti dari drama" bu Vivin terkejut. Namun, tidak dengan Putra.

"tuh kan, bener kan Saya bu. Putra gitu lohh"

Tidak ada yang memperhatikan Putra, tapi Putra seperti biasa tetap memajang wajah cool nya.

"loh, kok gara-gara Veli? Veli, nak kamu nggak ingin Vilo main drama kenapa?"

Veli menatap Vilo sebentar lalu menjelaskan. "Saya, nggak suka bu kalau punya Saya harus di bagi-bagi."

Pernyataan Veli membuat Bella kesal. "eh, maksud elo apa? Elo nyindir gue? "

Veli mengerutkan keningnya bingung. Namun, akhirnya Veli juga tersenyum sinis "sorry, aja nih ya... Gue nggak pernah tuh nyindir elo! Upss apa jangan-jangan elo yang ngerasa kesindir?"

Ucapan Veli membuat Bella naik pitam, dan tindakan mereka berdua menjadi tontonan sekelas. Bahkan Putra saja sudah menyiapkan makanan untuk Putra makan saat perang di mulai.

"gue nggak pernah ngerasa kesindir ya." Bella menatap tajam Veli.

"kalau nggak kesindir mending diem aja deh. Jangan kebanyakan abcd!"

"ya, terserah gue lah. Lagian ini mulut-mulut gue, bukan mulut elo."

"yaudah, itu mulut elo kan? Perintahin aja biar diem supaya nggak terungkap kalau elo itu suka pacar orang"

Bella benar-benar kesal sekarang. Bella menggebrak meja dengan kesal, Bella tak peduli jika harus berakhir dengan dimarahi bu Vivin atau kedua orang tuanya karena membuat keributan.

"kalau ngomong di jaga dong. Jangan asal ngomong"

Veli juga melakukan hal sama seperti yang Bella lakukan tadi.

"omongan gue selalu gue jaga. Tapi, kalau gue udah kelewat batas ya jangan salahin gue, tapi mulut gue. Karena mulut gue selalu ngomong fakta. Bukan mitos."

Karena tidak ingin suasana menjadi panas bu Vivin pun menghentikan, perang antara Veli dan Bella.

"sudah-sudah, kalian ini sudah dewasa kok masih bertengkar sih? Nggak malu ya sama adik kelas kalian? Kalian ini sudah kelas 12! Bukannya belajar malah bertengkar. Ibu tidak suka kalau, ada salah satu anak ibu bertengkar seperti ini."

Veli dan Bella, menundukan kepalanya masing-masing. "maafin kami berdua bu"

Veli dan Bella meminta maaf pada bu Vivin. Dan bu Vivin memaafkan mereka berdua.

"yasudah kalau gitu, kalian maafan juga ya."

Dengan terpaksa Bella dan Veli pun akhirnya berjabat tangan dengan malas.

"kamu juga Putra, bukannya bantuin nenangin malah makan, enak sekali kamu. "

Putra tertangkap basah sedang makan, tapi Putra malah tersenyum manis.

"ayolah bu, kehidupan ini hanya sekali. Dan Saya jarang sekali melihat dua cewek bertengkar karena satu orang cowok" menelan sedikit makanannya, Putra pun melanjutkan "lagian, Veli sama Bella itu bagai langit dan bumi yang tidak akan pernah bersatu. Ehh kayak judul lagu.. Bagaikan langit dan bumi kita tak bisa menjadi satu"

Bu Vivin menjadi kesal dengan Putra dan "Putra, pulang sekolah ke kamar mandi"

"wehh, ngapain bu? "

"bantuin pak Dodo, bersihin toilet nggak ada penolakan titik!"

"yahh, ibu mah nggak seru"

Sekelas tertawa dengan pernyataan bu Vivin. Mereka setuju kalau Putra di hukum, karena Putra memang melakukan kesalahan yang amat fatal.
Dan Veli suka ini Veli, bisa melihat tawa Vilo. Dan Veli menikmati senyum itu untuk seterusnya.

Celengan RinduTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang