Seperti yang di katakan pak Eko, mereka pun pergi berlari di lapangan 7 kali. Mereka menjalani itu dengan berat hati.
Dan hanya satu orang yang ingin mereka bunuh sekarang yaitu Putra.
Putra sendiri sepertinya cuek bebek kepada teman-temannya.
"Kelas 12 Bahasa tolong masuk ke kelas sekarang. Karena, ada pengumuman penting untuk kalian"
Suara microfon memecah konsentrasi mereka, Silvi dan Putra sangat saat bu Vivin memanggil mereka semua dari microfon.
"akhirnya bebas dari hukuman pak Eko" Silvi berteriak dengan keras dan membuat mereka, menjadi beriuh ria sendiri.
Mereka dengan kompak meninggalkan lapangan, dan meninggalkan Vilo, Veli dan Bella di tengah lapangan.
"Vilo kamu haus?" lagi-lagi Bella membuat Veli kesal dengan tingkahnya.
"Vilo, ayo kita ke kelas aja. Males aku disini, pemandangannya malesin" Veli melingkarkan tangannya di tangan Vilo.
Veli berniat membuat Bella cemburu namun, sepertinya itu tidak membuat Bella menyerah.
"Vil, aku punya minuman loh. Masa kamu nggak haus sih? Aku aja haus masa kamu nggak haus?" Veli memutar bola matanya malas.
"kalau, Vilo nggak haus. Yaudah berarti Vilo nggak haus. Lagian nih ya jangan banding-bandingi fisik lo sama Vilo secara langsung. Karena bakal ketahuan siapa yang bakal kalah dan yang berarti dia lemah." Veli menatap tajam Bella dan langsung mengajak Vilo pergi dari tempatnya.
Ucapan Veli semakin membuat Bella kesal. Dengan emosi Bella menghentakan kaki nya dengan kesal.
"kamu emang nggak haus beneran Vil?" Veli bertanya pada Vilo karena Veli khawatir.
"enggak, kalau kamu?"
"enggak juga kok hehe" Veli cengengesan sendiri.
"ok, kalau gitu"
Veli dan Vilo pun masuk kedalam kelas, dengan senyum yang ceria.
"pacaran teros" Silvi mencibir Veli dan Vilo. Namun, tidak di tanggapi oleh Vilo dan Veli.
"iri? Makannya cari pacar!" Silvi memutar bola matanya malas.
"pagi anak-anak." bu Vivin menyapa kelas 12 Bahasa dengan lembut.
"pagi bu Vivin" bu Vivin tersenyum dengan lembut.
Beruntung kelas ini wakil nya adalah bu Vivin dan bukan pak Eko, jika pak Eko yang menjadi wakil kelas ini mungkin pak Eko sudah bertobat sekarang.
"tadi anak-anak kemana? Kok kelas nya sepi?" bu Vivin kembali melempar pertanyaan.
"tadi kita di hukum bu sama pak Eko." Silvi menjawab pertanyaan bu Vivin dengan kesal
"di hukum? Emang kalian salah apa?"
"kita nggak salah bu sebenarnya"ada satu orang yang menjawab. Dan jawabannya membuat bu Vivin kebingungan.
"kalau kalian nggak salah, kenapa kalian di hukum?"
"ibu tanya sendiri aja sama Putra"
Putra yang mendengar itu langsung menunjuk dirinya sendiri.
"kenapa harus tanya ke gue kalau, kalian ada"
"tapi elo yang cari masalah Put"
Teman sekelas menyorak'i nya dengan kesal.
"ok ok, jadi gini bu Vivin, yang selalu di tembak pak Eko tapi berujung penolakan. Saya menyatakan bahwa Saya tidak berbuat kesalahan maupun tindakan yang merugikan teman-teman sekelas Saya. Jadi intinya Saya tidak salah apa-apa. Dan tentang pak Eko, kami di hukum karena perbuatan papa kami yaitu Vilo dan mami kami Veli, sekian dan terima kasih"
bu Vivin tak mengerti apa yang di maskud kan oleh Putra, begitu pun dengan teman-temannya. Silvi ingin sekali menghajar Putra. Namun, tertahan dengan Veli yang sudah menahan tangannya.
Bukan hanya Silvi yang ingin menghajarnya. Namun, sekelas juga ingin menghajar Putra sekarang.
"ya sudah, Putra terima kasih atas penjelasannya. Meskipun ibu tidak tau apa yang kamu ucapkan tadi"
Pernyataan bu Vivin membuat Putra terdiam.
"oke bu kalau gitu, tapi ibu hebat juga ya bisa sepemikiran kayak kita tadi. Apa jangan-jangan kita semua itu cenayang?"
"PUTRAAA"
Dan terjadi lah perang dunia ke-tiga. Yang di sebabkan lagi oleh Putra.

KAMU SEDANG MEMBACA
Celengan Rindu
Teen FictionJarak, wa, waktu, berpisah, Veli kesal dengan semua itu namun, itu semua berubah saat Vilo membuatkan sesuatu untuknya. Terinspirasi dari lagu Celengan Rindu. Up : nggak tentu Jam : nggak tentu Pokoknya happy reading aja ❤