Bel masuk telah berbunyi dan membuat semua siswa beriuh ria sendiri, begitu juga dengan Veli, Silvi, dan Vilo.
"eh.. Bel masuk udah bunyi, ayo ke kelas." kata Silvi sambil mengelap mulutnya dengan tisu.
"iya.. Ayo"
Pergilah mereka bertiga dengan pikiran mereka masing-masing, Silvi memikirkan Putra kemana cowok itu pergi dan Veli memikirkan cewek yang tadi bicara pada Putra.
Veli mempunyai filling kalau cewek itu adalah cewek yang di sukai oleh Putra. Tapi, sejak kapan Veli harus memikirkan mereka berdua? Padahal Veli tidak mempunyai sangkut paut apa pun dalam hubungan mereka berdua.
Kini mereka sudah sampai di kelas, Putra sendiri sudah berada di kelas. Silvi terkejut, karena penasaran Silvi bertanya pada Putra.
"woy.. Putra, elo dari mana aja?" tanya Silvi sambil menepuk pundak Putra.
"em.. Itu anu, gue.. Gue ke perpustakaan ya.. Gue ke perpustakaan" Silvi menatap tajam Putra.
"kok elo, ngomong terbata-bata gitu sih? Atau jangan-jangan elo bohong lagi!" Putra menggeleng dengan cepat.
Silvi merasa aneh pada Putra sejak kapan Putra pergi ke perpustakaan, pasalnya Silvi tidak pernah melihat atau mengantar Putra ke perpustakaan."yaudah, kalau elo ke perpustakaan gue ikut ya. Soalnya gue mau pinjem novel"
Putra menganggukan kepalanya kaku, Veli melihat itu semua, ingin sekali Veli bertanya pada Putra namun, Veli tidak tau alasan apa yang tepat untuk bertanya pada Putra.
"Woy.. Pak Eko dateng, duduk yang tenang ya Sat" perkataan Edo membuat, seluruh kelas melihat dirinya. "kenapa? Kok ngilat gue kayak orang mau ngegas motor?"
"maksud elo apa anjir.. Mau di musuhin orang sekelas elo?" kata Nana dengan tajam.
"emang gue ngapain? Kok di musuhin sih?" Edo menatap seluruh temannya.
"pura-pura bego ya elo. Elo nyebut kita sat itu BANGSAT kan!?" Nana menjawab dengan penuh penekanan.Mereka semua dapat merasakan adanya pertempuran sengit antara Nana dan Edo. Namun, Edo sepertinya tidak merasakan apa-apa buktinya dirinya malah tertawa sekarang.
"hahaha.. Anjir, gue nggak nyangka. Gue nggak bilang itu untuk kalian semua teman-teman ku yang ku sayangi. Tapi gue bilang Sat itu buat Satrio, karena apa? Dia itu banyak bacot, pas pelajarannya pak Eko. Dan gue manggil dia SAT. puas elo"
Sama seperti Nana, Edo juga menekan jawabannya. Supaya tidak terjadi kesalah pahaman.
"nah.. Ngomong tuh kayak gitu, yang jelas ngomong kok cuman Sat. Ya gue kira bangsat lah.." jawab Nana dengan santai.
Satrio yang merasa di panggil pun menyahut. "apaan sih manggil nama gue? Ngganggu tau gak, gue lagi tidur sambil berimajinasi. Dan gara-gara kalian imajinasi gue bubar anjir kalian semua."
"nggak kita nggak manggil nama elo kok, ye... Kepedean" ujar Edo sambil meminum minuman Nana.
"eh.. Anjir, itu minuman gue"
"biarin gue haus kok"
"bangsat elo" ucap Nana penuh kebencian.
Tidak ada yang menyahut lagi, semua dalam kondisi normal lagi. Sampai pak Eko datang dengan gaya andalannya.
"Saya tidak akan mengatakan apa-apa sekarang. Karena Saya tau kalian ini sudah dewasa dan sudah melihat kalau ini pagi. Jadi Saya cuman mau mengucapkan." pak Eko tidak melanjutkan namun, pak Eko melihat ke arah Putra. "mana tugas mu Putra? Saya mau kamu mengerjakan sekarang di depan dan menulis di papan tulis."
"baik pak" pak Eko mengerutkan alisnya.
"tumben kamu nggak, nyela biasanya ngajak ngomel mulu."
"nggak pak, karena ini bulan terakhir Saya di sekolah ini. Jadi Saya mau meninggalkan kesan yang bagus pak. Bukan yang buruk" kata Putra sembari tersenyum.
"baik lah kalau kamu, sudah sadar. Sekarang kerjakan." Putra mengangguk dan dirinya mulai berkutat dengan tugasnya.
Seluruh siswa di kelas ini merasa aneh dengan sikap Putra. Terutama Silvi dan Veli, mereka berdua sangat bingung dengan Putra.
Apakah ada hantu yang mengikuti Putra hingga membuat kepribadian Putra berubah.
"Vel, tumben banget Putra nggak ngoceh dulu" Silvi berbisik pada Veli.
"gue nggak tau" balas Veli berbisik.
Silvi menghela napasnya dan melihat Putra mengerjakan tugasnya di depan. Silvi mengerutkan keningnya saat Putra menuliskan rumus yang dirinya pakai, itu bukan lah rumus gabungan yang di beri oleh Veli, Vilo, dan Silvi.
"Vel, itu si Putra nggak pakai rumus yang kita beri kemarin ya?"
"masa sih?"
"lihat aja ke depan"
Karena penasaran Veli melihat ke papan tulis. Dan benar, jika rumus yang di tulis Putra bukan rumus yang di berikan oleh mereka bertiga.
Veli menggenggam bolpoinnya erat, Veli kesal dengan Putra. Jika akhirnya Putra tidak menggunakan rumus yang mereka bertiga berikan, kenapa kemarin mereka bertiga harus adu mulut untuk menentukan rumus mana yang paling tepat.
"ngerti gitu, gue kemarin nggak usah adu mulut sama elo Sil"
Silvi setuju dengan Veli, tetapi tidak dengan Vilo. Cowok itu tidak memperhatikan rumus yang di gunakan oleh Putra.
"ih.. Si Vilo, kok dia nggak lihat sih? Sebel gue, udah capek-capek mikir malah gunain rumus lain."
Veli setuju dengan Silvi, mereka hari ini kesal dengan Putra. Terutama Silvi, entah mengapa Silvi merasa semakin kesal dengan Putra. Sejak tadi pagi dirinya hilang dari kantin dan sekarang rumus yang di gunakan berbeda.
Kini Putra selesai mengerjakan tugasnya. Putra menutup spidol lalu menyerahkan bukunya pada pak Eko.
"ini pak Saya sudah selesai." pak Eko mengambil buku Putra.
Pak Eko mengerutkan alisnya. "ini kok rumus kamu banyak banget? Ini rumus yang ada di buku benar. Dan yang kamu tulis di papan tulis itu juga benar. Jadi, kamu pilih yang mana?"
Putra tersenyum sembari menerima buku tugasnya. "pak Saya boleh pilih dua-duanya?"
"kenapa begitu?"tanya pak Eko heran.
"karena kalau Saya pilih satu, rasanya nggak adil. Karena, rumus Saya ini di pikir banyak orang pak. Sampai pada adu argumen siapa yang paling bener"
"memang siapa saja yang membantu mu?" Putra tersenyum, sembari melirik Silvi dan Veli yang sedang berbisik.
"mereka pak, Silvi, Veli, dan Vilo. Mereka adu argumen demi tugas Saya pak. Jadi Saya mohon, berikan nilai tambahan untuk mereka ya." pak Eko tersenyum dan menganggukan kepalanya.
"lalu siapa yang satu lagi?"
"dia nggak dari kelas ini pak, tapi nanti Saya akan ke ruang bapak. Untuk memberitahu siapa orang itu" pak Eko mengerutkan alisnya.
"kenapa nggak di sini aja?" Putra menggeleng lalu kembali berjalan ke tempat duduknya.
Silvi dan Veli tidak mendengarkan, apa pun yang di bicarakan oleh Putra dan pak Eko. Karena mereka terus asik bergumul dengan pembicaraan mereka.
Namun, seluruh kelas mendengar apa yang di bicarakan Putra dan pak Eko.

KAMU SEDANG MEMBACA
Celengan Rindu
Teen FictionJarak, wa, waktu, berpisah, Veli kesal dengan semua itu namun, itu semua berubah saat Vilo membuatkan sesuatu untuknya. Terinspirasi dari lagu Celengan Rindu. Up : nggak tentu Jam : nggak tentu Pokoknya happy reading aja ❤