30 : Celengan Rindu

6 1 0
                                        

Sesampainya di kelas, Veli duduk di samping Vilo. Veli sibuk memikirkan, apa yang akan Veli bawa nanti untuk menjenguk, kedua orang tua Silvi.

"Vilo, nanti aku mau jenguk orang tuanya Silvi kamu ikut nggak?" Vilo menatap Veli, lalu mengangguk.

Senyum Veli merekah, "ok, kalau gitu nanti kita ke ana bareng sama Silvi ya.. Kalau Putra mau ikut yaudah kita berempat kesananya."

"ok.. " Veli kembali bermain ponsel, dan membuka twitternya untuk mengetahui kabar-kabar terbaru.

"ini kok, belum masuk sih udah jam segini loh.."

Veli melihat jam yang ada di ponselnya. Seharusnya sekarang bel masuk, sudah di bunyikan. Veli menghela napas dan itu menarik perhatian Vilo.

"kenapa hmmm?" Vilo mengelus rambut Veli dengan lembut.

"ini kan, harusnya udah masuk. Tapi kenapa belum masuk?"

"aku juga nggak tau sih, tunggu aja nanti. Kamu punya game nggak?" Veli mengerutkan kening, lalu mengangguk.

"punya, kenapa?"

"aku pinjam boleh?"

Veli mengiyakan, dan Vilo mengambil ponsel Veli dan langsung bermain. Veli penasaran dengan ponsel Vilo, ketika Veli mengambil ponsel Vilo.

Veli menggelengkan kepalanya. Rupanya ponsel Vilo butuh asupan makan. Alias ponsel Vilo, mati kehabisan baterai.

"yaampun, Vilo. Kamu bawa kabel data nggak?"

Vilo menggeleng, lalu Veli mengambil kabel datanya dan mengisi baterai ponsel Vilo.

"lain kali, bawa kabel data ya.."

"iya.. Sayang"

Karena gabut, Veli pun hanya menatap Vilo yang asik dengan gamenya. Silvi dan Putra juga belum kembali dari kantin. Padahal, saat ini Veli membutuhkan Silvi untuk bercerita tentang apa pun untuk mengurangi rasa gabutnya.

5 menit menunggu namun, bel masuk juga belum berbunyi. Begitu juga dengan Silvi dan Putra mereka berdua juga belum masuk ke kelas.

Sampai ada suara dari, pengeras suara.

"maaf anak-anak, jika kalian hari ini hanya mengikuti beberapa pelajaran. Dan hanya sekolah selama setengah hari. Karena hari ini, bapak ibu guru mengadakan rapat mendadak. Jadi secara terpaksa kalian harus kami pulangkan. Tapi ingat, jangan bermain di luar dengan menggunakan seragam ok? Baiklah kalau begitu semoga kalian semua selamat sampai rumah. Selamat siang."

Kelas Veli masih hening, tidak ada yang berkomentar sampai suara itu hilang.

Brak!!!

"KITA BEBAS..... UHUYYY PULANG KUYY"

Edo cowok itu berteriak kegirangan, tidak hanya kelas ini namun, hampir seluruh kelas berteriak kegirangan.

"ayo pulang" Veli tersenyum lalu memasukan semua buku ke dalam tasnya.

Meja Veli tidak jauh dari meja Vilo, sehingga membuat Veli mudah menjangkau tasnya. Tidak lupa Veli juga mencabut, kabel data yang terpasang di colokan yang di bawa oleh Edo.

"Edo, makasih ya. Udah di pinjamin colokan punya elo." Edo menangguk lalu mengambil colokannya dan pulang.

"asyapp.. Gue pulang dulu ya.."

"ok, hati-hati."

"Silvi sama Putra mana sih? Lama banget."

Veli menatap Vilo dan berdecak kecil, sepertinya Vilo tidak tertarik pada pengumuman itu.

Veli masih menunggu Silvi, dan Veli terkejut saat mengetahui Silvi berjalan sendirian. Dimana Putra?

"loh.. Sil, Putra mana? Kok nggak bareng sama elo sih?"

Bukannya menjawab, Silvi justru memasukan bukunya dengan kesal.
Veli tidak tau apa yang terjadi, pada Silvi.

"Silvi ada apa sih? Cerita dong. Gue bingung nih.."

Silvi menatap Veli sebentar lalu, kembali memasukan bukunya dengan kesal. Hingga terdengar suara langkah kaki, Veli menoleh dan melihat Putra yang ngos-ngosan di depan papan tulis.

"Putra elo kenapa sih?" Veli tidak tau apa yang terjadi sekarang.

Sama seperti Silvi, Putra tidak menjawab namun, memegang tangan Silvi dan di hentakan kembali oleh Silvi. Veli benar-benar bingung sekarang.

"ngapain balik? Sana bantuin aja cewek tadi, udah tau gue masih laper main tinggal aja."

Putra tetap memegang, tangan Silvi walaupun Silvi telah menolaknya berulang kali.

"ayolah.. Gue kasihan, sama cewek itu Silvi. Elo nggak kasihan apa? Cewek cantik kayak gitu, masa bawa buku banyak, 2 tumpuk lagi."

Silvi langsung menghentakan tangan Putra dengan kuat, sampai tangan Putra terbentur meja.

"elo kasihan sama cewek itu? Terus apa kabar gue? Dulu pas tangan gue patah, elo kemana? Gue juga inget dulu, pas kelas 11 sebelum gue kenal sama elo. Buku gue nggak sengaja jatuh karena elo, dan elo nggak bantuin gue. Perlakuan elo beda tau nggak sih. Sebel gue sama elo."

Selesai mengatakan itu Silvi langsung, pergi keluar kelas. Veli mengambil tasnya dan pergi keluar menyusul Veli.

Vilo juga sama, mengambil tas dan membawa ponselnya dan ponsel Veli. Lalu pergi meninggalkan Putra.

Brak!!

Lagi-lagi meja yang tidak bersalah harus terkena pukulan dari orang yang bersalah.

"maafin gue Silvi, gue nggak bermaksud kayak gitu ke elo setahun yang lalu."

Putra kesal dengan dirinya sendiri namun, kejadian tadi dan masalalu tidak bisa dirinya rubah.

Dengan kesal Putra, juga ikut menyusul Veli, Vilo, dan Silvi. Veli berjalan di samping Silvi, dan Vilo berada di belakang mereka.

"Silvi.. Udah dong jangan cemberut, kasihan wajah elo nanti jadi keriput loh.."

"biarin aja.."

"lah.. Jangan dong, nanti kalau di biarin. Jodoh elo kabur nanti"

"ya jangan lah.."

"nah.. Gitu senyum dong.. Jangan cemberut terus.."

Veli tersenyum, saat dirinya berhasil membuat Silvi tersenyum.

"oh.. Iya, Silvi jadi gini, gue sama Vilo mau jenguk orang tua elo. Boleh kan?"

Silvi tersenyum senang, dan membolehkan Veli dan Vilo menjenguk orang tuanya.

"boleh banget kok, tapi kalian ganti baju dulu. Jangan, baju seragam. Nanti, di cegat satpol pp."

"iya... Sayang"

Mereka berdua bercerita hingga ke parkiran. Dan Vilo hanya diam seperti patung di belakang. Putra juga sudah di belakang mereka namun, tidak ada yang mau mengajaknya berbicara.



Celengan RinduTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang