28 : Celengan Rindu

4 1 0
                                    

Duk!!

Suara dari spidol itu sangat keras, mereka yang merasa aman mengakat kepala mereka, dan melihat siapa yang terkena spidol itu.

"Aduh.. Sakit pak, bapak punya masalah apa sih sama Saya? Saya diem, perhatiin bapak. Malah di timpuk spidol"

Pak Eko, tersenyum puas saat sasarannya mengenai target yang di inginkan.

"kamu Putra, kan kamu bilang tadi perhatiin Saya. Jadi kamu aja yang ngerjain ini, karena IQ Saya terlalu tinggi untuk menjawab soal gampangan seperti ini." mata Putra membulat.

"yaampun pak, nggak usah repot-repot gitu. Karena IQ Saya juga tidak setinggi bapak, otomatis Saya tidak bisa mengerjakan soal itu. Jadi percuma bapak menyuruh Saya."

Putra dengan santai, maju ke depan. Bukan untuk mengerjakan namun, untuk mengembalikan spidol itu ke tempatnya semula.

Pak Eko, menatap Putra tajam. Dengan cepat pak Eko, menarik kerah belakang Putra.

"eh.. Pak Saya salah apa sih?" pak Eko menggeret Putra menghadap papan tulis. Lalu mengambil spidol dan melemparkannya pada Putra.

"pak, ini spidol salah apa sih sebenarnya? Di lempar terus.. Kan kasihan, nah nangiskan spidolnya. Kasihan.. "

"kamu kerjakan atau Saya suruh, menghapalkan seluruh rumus matematika dari sd sampai kuliah" Putra, yang mendengar itu terkejut.

"gini ya pak, Saya kan belum lulus. Gimana Saya mau ngapalin, rumus matematika kuliah pak? Bapak gimana sih, kalau mau ngereceh jangan sekarang deh pak. Kan Saya belum punya receh" pak Eko semakin emosi pada Putra.

"kerjakan sekarang atau Saya panggil bu Vivin. Supaya telinga kamu itu di jewer?" Putra menggelengkan kepalanya.

"baik lah pak, Saya akan kerjakan soal ini, sesanggup Saya."

"kenapa kamu, takut pada bu Vivin?" Putra menunjukan wajah polosnya.

"kan dia ibu Saya pak"

"ibu? Ibu darimana?" Putra memutar bola matanya.

"dia kan wali kelas Saya. Otomatis Saya menganggap bu Vivin sebagai, ibu kedua Saya."

"yasudah, kerjakan soal itu cepat."

Putra harus menerima kenyaatan, jika memang dirinya tidak pandai dalam matematika. Ingin rasanya tadi Putra tidak mengatakan, jika dirinya memperhatikan pelajaran dengan baik.

Baru saja Putra mendekatkan, spidol pada papan tulis..

Teng!!
Teng!!
Teng!!

Bel istirahat berbunyi dan membuat Putra senang. Sedangkan pak Eko, menghela napasnya sabar.

"baik lah anak-anak. Kalian boleh istirahat, dan kamu Putra kamu tidak akan Saya bebaskan. Catat soal itu lalu kerjakan dan kumpulkan pada Saya besok. Saya tidak mau tau, besok soal itu harus kamu kerjakan. Tidak ada alasan dan tapi-tapian."

"ok pak"

Pak Eko pergi, dan Putra mendengus kesal. Putra pikir, jika bel istirahat itu datang akan membebaskannya dari soal yang menyebalkan ini. Ternyata tidak, tetap sama. Menyebalkan.

"yang cemungut Putra ngerjain tugasnya" Silvi mengejek Putra. Dan membuat Putra mencubit hidung Silvi dengan gemas.

"bilang apa tadi? Ngerjain tugas? Nggak gue ya, tapi brainly yang bakal ngerjain tugas gue" Silvi melepas tangan Putra dengan kesal, lalu mengelus hidungnya.

"apa? Brainly? Gue bilangangin elo sama pak Eko"

"bilangin aja, nanti kalau pak Eko tanya sama gue. Gue jawab kalau elo nggak mau, ngajarin gue."

"kok gue di bawa-bawa sih?"

"terserah, mulut-mulut gue. Jadi terserah gue mau bilang apa"

"ye... Udahlah, ih.. Gara-gara elo, gue di tinggalkan sama Veli. Nyebelin elo"

Silvi menghentakan kakinya kesal, lalu berjalan dengan ke kantin dengan kesal. Silvi terkejut saat Putra tiba-tiba menggandeng tangan kanannya.

"Putra...."

"udah yuk, sama gue. Biar elo enggak, di pandang jomblo sama tetangga sebelah"

Silvi menahan tawanya dan Putra juga tersenyum untuk perempuan-perempuan yang menyapanya.

Di sisi lain, Veli sudah berada di kantin bersama Vilo. Veli memilih tempat, sedangkan Vilo membawa nampan makan mereka berdua.

"emmm.. Vilo duduk sini aja ya. Tempatnya sudah pada penuh nih" Vilo menganggukan kepalanya.

Veli dan Vilo, duduk bersebelahan. Baru saja mereka mau makan, tiba-tiba Silvi dan Putra datang mengejutkan mereka.

"hayoo... Cie yang udah baikan. Gimana-gimana kabarnya semoga membaik ya.."

Putra mengejutkan Veli hingga membuat Veli tersedak dan membuat Vilo menjadi khawatir, Silvi yang baru datang terkejut melihat Veli yang tersedak.

Dengan cepat Silvi menaruh, makanannya dan memberikan minuman pada Vilo lalu memberikannya pada Veli.

"uhukk... Uhukk" Veli tidak dapat menahan, rasa gatal yang menggerogoti tenggorokannya.

Dengan cepat Veli meminum minuman yang di berikan Vilo tadi. Dalam satu tegukan Veli langsung menghabiskan air putih itu.

"udah? Mau minum lagi nggak?" Veli menggeleng, dan langsung melempar botol kosong itu pada Putra.

"anjir... Gue kaget, gila elo nyebelin."

Putra mengelus kepalanya dengan lembut, "sabar ya.. Kepala ku sayang. Kamu udah di timpuk 2 kali, oleh orang-orang yang kurang kerjaan."

Silvi, Vilo, dan Veli hanya mendengarnya. Tanpa berniat membalas.

Celengan RinduTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang