23 : Celengan Rindu

4 1 0
                                        

"auu.. Kepala gue.." Silvi memegang kepalanya sendiri. "eh.. Veli, kok matanya bengkak sih?"

Silvi merasa kasihan pada sahabatnya sendiri, mengapa Veli harus mendapatkan kesedihan di saat Veli sudah bahagia.

Pintu uks berbunyi, dan itu membuat Silvi berakting pingsan lagi. Silvi tidak tau siapa yang masuk ke dalam. Namun, Silvi akan mengandalkan suara untuk mengetahui siapa yang datang.

Langkah itu semakin mendekat, dan Silvi semakin menghayati ektingnya.

"Veli, aku minta maaf. Aku tau aku salah tapi, mama aku lebih utama dari kamu. Aku takut mama aku bakal ke Korea. Aku minta maaf Veli"

Silvi tidak tau apa yang membuat Vilo, meminta maaf pada Veli. Silvi mengintip dan Silvi melihat Vilo, memegang tangan Veli lalu pergi meninggalkan ruang uks.

Silvi langsung membuka matanya. Silvi harus mengetahui kenapa Vilo dan Veli bertengkar. Silvi harus tau.

Hening dan Silvi tidak tau apa yang harus dirinya lakukan. Silvi melihat jam dan Silvi sadar jika dirinya dan Veli tidak mengikuti pelajaran selama 2 jam.

"bolos sehari tidak apa-apa bukan" kata Silvi sambil tertawa pelan, dan menyusul Veli dalam mimpi.

Di sisi lain, Bella tidak henti-hentinya mengganggu Vilo. Dan membuat Vilo kesal karena tingkahnya.

"ihh... Vilo kan aku cuman, yah.. Kamu mah, nggak bakal tau." Bella menggelayutkan tangannya pada Vilo.
Sudah berulang kali Vilo, mencoba melepaskan lengan Bella namun, Bella juga tidak menyerah menggelayutkan lengannya pada Vilo.
"ehh.. Nenek lampir gak usah sok-sokan, gelayutan kayak gitu. Ohh.. Ya gue lupa kalau elo itukan tarzan wkwk" Putra mencibir dan Bella malah tersenyum.

"ya udah lah ya... Kan elo kaum jomblo, bukan kaum yang punya pacar elo iri kan... " Bella balas mengejek Putra namun, Putra tidak menanggapi.

"Vil... Pergi yuk, gerah gue di sini lama-lama" tanpa permisi Putra langsung menyeret Vilo, dan memutus tangan Bella dari Vilo.

"ihhhh nyebelin banget sihh" dengan kesal Bella mengikuti, Putra dan Vilo dari belakang.

"elo mau pesen apa Vil?" Putra melihat tulisan yang bertuliskan, makanan dan minuman.

"gue dong, pesen nasi goreng sama minumnya jus alpukat satu" Putra berdecak malas.

"nenek lampir, gue nggak nawarin elo ya. Gue nawarin Vilo." Bella menatap sinis Putra.

"ya udah gue pesen sendiri. Minggir. " Bella maju dan mendorong Putra dan Vilo.

"bu... Nasi goreng satu, sama jus alpukat satu ya..." Bella berbicara manis. Bukannya terlihat imut malah membuat Putra muak.

"Vil, pergi yuk. Pindah tempat, bosen gue di sini." Bella yang mendengar itu langsung memegang tangan Vilo.

"eh.. Nenek lampir, gak usah pegang-pegang tangan Vilo deh." Putra langsung melepaskan pegangan Bella. Lalu, membawa Vilo pergi.

"non, pesenannya udah jadi" Bella langsung mengambilnya dan memberikan uangnya. Lalu pergi mencari Vilo.

"ihhh... Aku kok kamu, tinggal sih" Putra memutar bola matanya malas.

"nenek lampir, yang tidak terhomat. Bisa pergi nggak sih elo dari sini, bosen gue liatin wajah elo yang nggak ada cantik-cantiknya kayak Silvi dan Veli."

"biarin yang penting gue, cantik di depan Vilo" jawab Bella jutek.

Putra menghela napasnya, bicara di depan orang yang tidak waras malah akan membuat Putra semakin kehilangan kesabaran.

"kamu kok nggak pesen sih Vil?" Bella memakan nasi gorengnya, merasa tidak ada yang menjawab membuat Bella kesal.

"Vill..." belum sempat menyelesaikan pembicaraan, Putra langsung menyahut.

Brakkk!!

"elo bisa diem nggak sih? Gue beri tau ya... Vilo itu lagi mikirin pacarnya Veli. Veli lagi sakit, dan elo malah ngambil kesempatan buat deketin Vilo? Gila ya.... Dasar perempuan nggak waras." dengan kesal Putra langsung menggeret Vilo pergi dari kantin.

"apa kalian liat-liat?" semua orang langsung pergi dan tidak melihat Bella lagi. "awas aja elo Put. Gue bakal buktiin kalau Vilo itu milik gue, dan Veli tunggu aja tanggal mainnya." Bella tersenyum miring, lalu pergi meninggalkan kantin.

Bel pulang sekolah telah berbunyi, dan itu membuat semua murid beriuh ria sendiri.

"Vilo, kamu mau kemana?" lagi-lagi Bella mendekati Vilo.

"eh... Nenek lampir, Vilo mau jemput pacarnya ke uks, oh.. Ya elo boleh ikut kok... Asal elo bawa tasnya Veli sama Silvi dan tas gue sama Vilo" Putra memberi tawaran dan Bella menganggukan kepalanya setuju.

"ok" tanpa perasaan Putra langsung memberikan itu semua pada Bella, dan Bella keberatan.

"ya ampun, ini isinya apa sih? Kok berat"

Tidak ada yang menjawab, karena Vilo dan Putra sudah meninggalkan Bella.

"ihhh nyebelin" dengan kesal Bella menyusul Vilo dan Putra.


Celengan RinduTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang