"kamu masih ngambek ya? Maafin Vilo. Aku kan cuma mau hibur kamu, yang aku tau. Pms itu perempuan macam singa, tapi kok kamu malah ngambek sih? Wahh kalau gitu pms bukan perempuan macam singa tapi perempuan menang selalu. Wehh hebat ya aku, genius."
Kepala Veli, pusing mendengarkan ocehan yang tidak bermanfaat dari Vilo. Dengan, kesal Veli memukul lengan Vilo berkali-kali.
""kamu, Vilo... Bisa berhenti gak sih? Perut aku udah sakit kamu ngoceh terus.. Ohh ya makasih ya udah nganterin aku beli makan, walaupun aku sendiri yang harus bayar. Ohh ya satu lagi aku mau pulang sendiri. Nggak usah, peduliin aku. Makasih juga ocehannya." Vilo terkejut mendengarnya.
Dengan cepat Vilo, langsung menggandeng tangan Veli.
Veli tersenyum, akhirnya Vilo menjadi peka."ini uangnya, hati-hati ya..." Vilo mengacak rambut Veli, seakan-akan tidak ada masalah di antara mereka.
"NGGAK BUTUH" Veli pergi meninggalkan Vilo yang terpaku. Veli menyeka wajahnya frustasi.
"tunggu" Veli bingung harus berhenti atau tidak. Namun, karena Veli sudah capek dengan Vilo. Veli tetap melanjutkan jalannya.
Karena kesal, Vilo menghalangi jalan Veli. Dan itu membuat Veli mondar-mandir begitupun dengan Vilo yang berusaha menghalangi jalan Veli.
"mau kamu apa lagi sih? Vilo plis aku capek, perut gue sakit, kepala aku pusing, sekarang kamu mau bikin aku sakit apa lagi? Hiks.. Kamu tuh orangnya nggak peka, capek aku bicara sama kamu. Ngasih kode ke kamu. Tapi akhirnya apa? Kamu nggak peka sama sekali. Aku capek Vilo, plis biarin aku pulang aku capek Vilo."
Vilo menunduk, Vilo tau dirinya salah namun, Vilo tidak tau bagaimana dirinya menenangkan Vilo. Baru kali ini Veli seperti ini.
Sepertinya pms mengubah segalanya. Dan Vilo juga, menyadari itu. Padahal dari tadi Vilo ingin menghibur Veli namun, sepertinya Vilo sudah kelewatan batas.
Dengan rasa bersalah Vilo memeluk Veli, dan Veli hanya diam di pelukan Vilo.
"aku minta maaf ya, aku tau kamu udah marah dari tadi. Tapi, yang aku lakuin ini semata-mata buat kamu senang. Bukan malah sedih, aku nggak mau bikin kamu sedih."
Vilo menghapus air mata Veli, dan tidak ada respon dari Veli hal ini membuat Vilo takut. "Veli jawab, aku takut. Kamu, nggak papa kan?"
"aku nggak papa Vilo, tapi aku kecewa. Kalau kamu mau hibur aku, caranya nggak kayak gini. Semua orang punya batas kesabaran, dan kamu tau nggak kesabaran aku udah habis hari ini. Dan kamu mau tau nggak, siapa yang udah bikin aku nangis? Kamu Vilo."
"iya, aku tau aku salah. Dan aku minta maaf, dan tenang aja uang yang kamu keluarin tadi buat beli makanan aku ganti. Biar uang kamu utuh" Veli terkekeh sembari menyeka air matanya.
"kamu masih mikirin uang tadi?" Vilo menganggukan kepalanya. "haha, kamu yaa. Tapi juga nggak papa kalau kamu mau ganti, biar uang utuh wkwk"
"ok kalau gitu, ohh ya. Aku udah tau gimana caranya biar buat kamu bahagia. Ikut aku sekarang"
Vilo menggeret tangan Veli, sepertinya Veli sudah melupakan tentang apa yang sudah Vilo lakukan terhadap dirinya.
Namun, sekarang semua sudah kembali normal. Jadi tidak ada yang perlu di pusingkan oleh Veli.
Di perjalanan Vilo tidak langsung, memulangkan Veli ke rumahnya. Tetapi Vilo masih membawa Veli mengelilingi kota.
Vilo tau kalau, Veli menyukai berboncangan seperti ini. Di antara kegiatan yang lainnya, Veli paling menyukai berboncengan dengan Vilo di atas motor.
Ada satu lagi kegiatan sore yang bagus, yaitu menikmati surya perlahan menghilang.
Vilo langsung membawa Veli, menuju ke suatu tempat yang pastinya di sulai oleh Veli.
"Veli kita ke tempat biasanya ya.."
"ok.. "
Vilo semakin senang karena, Veli menyetujuinya. Dan Vilo pun mengendarai sepeda motornya dengan cepat.
Sampailah Vilo dan Veli, di tempat yang mereka tuju. Veli melepas helmnya dan menyerahkannya pada Vilo.
Veli pergi sambil menenteng plastik makanan yang tadi Veli beli di taman mini tadi. Vilo melihat itu, dan Vilo tidak mau melihat Veli kesusahan.
Jadi Vilo merebut plastik Veli, dan membawanya di tangannya. Veli merasa kalau bucinnya seorang Vilo telah kembali dan Veli senang itu.
"permisi, ada yang bisa kami bantu?" ada pelayan wanita yang, menawari mereka saat masuk ke dalam restoran.
"saya mau pesan tempat, yang di lantai atas dekat jendela." pelayan itu langsung mengantar mereka ke tempat yang Vilo inginkan.
"ini kak tempatnya, dan ini menunya. Semoga suka permisi" pelayan itu pergi meninggalkan Veli dan Vilo.
"kok duduk di sini sih? Bukan di depan? Padahal, kalau mau melihat sunset lebih enak di depan nggak di sini."
"angin sore nggak bagus buat kamu, jadi di sini aja." baru saja Veli ingin menjawab namun, di hentikan oleh Vilo. "udah, nggak usah cerewet. Sekarang pesen mau makan apa, jangan lupa tadi kamu juga beli makan sama minum di taman. Jadi pesen di sini dikit aja. Paham?"
Vilo berceramah seakan Veli adalah seorang anak kecil, yang masih membutuhkan bimbingan.
Namun, karena Veli tidak ingin merusak moodnya. Jadi Veli hanya menganggukan kepalanya saja.
Sudah tiba waktunya sang matahari tenggelam, Veli sangat suka. Di sisi lain Vilo hanya mengamati dalam diam, Vilo suka saat wajah Veli menunjukan senyuman yang tulus.
Kejadian ini tidak akan pernah, di lupakan oleh Vilo. Dan sunset ini tidak akan pernah di lupakan oleh Veli.

KAMU SEDANG MEMBACA
Celengan Rindu
Teen FictionJarak, wa, waktu, berpisah, Veli kesal dengan semua itu namun, itu semua berubah saat Vilo membuatkan sesuatu untuknya. Terinspirasi dari lagu Celengan Rindu. Up : nggak tentu Jam : nggak tentu Pokoknya happy reading aja ❤