🥀Duapuluh Tiga

1.2K 89 12
                                        

Uhuuu, ini hari Sabtu yah, nah waktunya cerita 'KEMBALI' akan diup, oh, iya yang nanyain karya aku yang lain—nanti yah, diupnya satu-satu setelah cerita ini selesai. Soalnya kalau belum pada tamat suka pusing ke akunya. Kokonya ditunggu aja karena bakalan dinext kok, apalagi cerita RECOGNITION lagi dirombak dulu. Makanya belum diup—yang nanyain cerita itu, nanti yaaa...

Selamat membacaaaaaa semuanyaaaaa..

***

Chapter sebelumnyaaa..

.

.

.

Perkataan itu seperti panah yang menancap tepat pada ulu hatinya. Matanya sudah memerah, bahkan tubuhnya mulai bergetar.

Ia mendekat kearah Dinda dan mengguncang bahunya. “Kenapa Din. Kenapa kamu malah memberi kesempatan untuk pria brengsek ini.” Mata Dinda sudah berkaca-kaca. Sungguh ia tak bermaksud untuk menyakiti perasaan Mike tapi hati dan juga pikirannya hanya tertuju pada Rizky. Walaupun ia berusaha menerima—tapi perasaan ini hanya untuk Rizky, ia tak mungkin meneruskan hubungan ini jika hati dan juga pikirannya hanya tertuju pada orang lain.

Jika pun tetap berlanjut maka nantinya ia akan lebih menyakiti perasaan Mike lebih jauh dan ia tak mau hal itu terjadi. “Maaf Mike—aku...” Dinda mengantungkan ucapan, ia menatap mata Mike yang terluka. Ulu hatinya terasa nyeri, ketika ia menyakiti perasaan Mike tapi ia tak bisa memaksakan hatinya. Karena hatinya sudah tergenggam oleh Rizky.

Rizky bingung harus berbuat apa—disatu sisi ia tidak suka melihat Mike yang mengenggam bahu Dinda tapi di satu sisi lagi ia mengerti Mike begitu terluka dengan pernyataannya tadi.

Apa ia harus berkorban membiarkan Mike bersama Dinda?

..

Tapi juga ia tak punya hati sebesar itu untuk membiarkan orang lain bersama dengan Dinda—ia sudah berjuang terlalu jauh dan ia tidak mau mundur secepat itu. “Kita bicarakan didalam..” Ia berjalan kearah Dinda dan mengenggam tangan wanitanya dan membawanya kedalam sedangkan Mike tampak kesal dibelakang mereka dengan raut wajah mengeras penuh kemarahan.

Suasana ruang tamu begitu kaku dan tegang bahkan tangan Dinda terus mempererat genggamannya ditangan Rizky seolah meminta kekuatan. Mike mendecih kesal melihat Dinda yang terus menempel ditubuh pria brengsek itu, sungguh.. pemandangan itu membuatnya seketika terbakar panas.

“Dinda, kamu taukan aku suka sama kamu. Tapi kenapa kamu lebih milih pria brengsek ini dibanding aku.” Sebenarnya Rizky begitu kesal ketika Mike terus memanggilnya dengan sebutan 'pria brengsek'—ingin melawan tapi ia tak ingin ada keributan yang akan memancing emosi dalam dirinya.

Dinda menghela nafas panjang sebelum berbicara. “Sekali lagi aku mau bilang maaf sama kamu, aku juga menghargai perasaan kamu tapi Mike aku tidak bisa memaksakan diri untuk menerima kamu, aku juga mau berterimakasih sama kamu—kamu selalu ada buat aku dan Ken. Tapi Mike untuk masalah perasaan aku tidak bisa membalasnya—walaupun dulu aku pernah bilang akan mencobanya.. tapi aku tetap tidak bisa melupakan perasaan aku sama Rizky. Maaf Mike...” Dinda menatap Mike yang terlihat marah akan keputusannya tapi ia tak bisa melakukan apa-apa karena memang Mike berhak marah karena merasa diberi harapan lebih olehnya. Harusnya dulu, tak pernah mengatakan hal itu. Tapi menyesal pun terlambat, ibarat nasi sudah menjadi bubur dan itu tidak akan mengembalikan lagi ke-dalam situasi awal.

Rizky yang sedari tadi terdiam mulai angkat bicara. “Mike. Aku ingin berterimakasih kepadamu karena kau sudah menjaga Dinda dan putraku, dan Mike aku juga ingin meminta maaf jika pembicaraan tadi menyakitimu.” ucap Rizky perlahan namun Mike tetap tidak bisa memaafkan mereka dengan cepat—sekarang ia benar-benar terluka. Perkataan Dinda tadi sangat menghancurkan perasaannya.

“Ingat ini, aku tidak akan membiarkan kalian bersama.” setelah mengucapkan kalimat itu ia berlalu dari hadapan mereka dengan raut wajah mengeras penuh kemarahan.

Deg.

Dinda tak percaya jika Mike akan mengatakan hal itu, ia memeluk tubuh Rizky dan menangis disana—dipelukan hangatnya. Ia menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi, andai.. dulu ia tak pernah  mengatakan hal yang seolah-olah memberi harapan besar pada pria itu.

“Aku takut—bagaimana kalau ancaman tadi benar-benar terjadi.” Rizky memeluk tubuh Dinda dengan erat mengelus rambut wanitanya—menenangkan Dinda sedang menangis.

“Itu tidak akan pernah terjadi. Tenanglah.” Rizky mencium puncak kepala Dinda sambil memejamkan matanya, sebenarnya ia juga memikirkan ucapan Mike tapi ia mencoba membuang jauh-jauh ucapan itu agar ia tidak terpengaruh oleh ucapan pria itu. Rizky percaya bahwa ia bisa melewati semua masalah yang akan datang selagi wanitanya selalu ada disampingnya.

***

Didalam mobil Mike menremas stir mobilnya dengan, matanya memerah karena emosi tengah mengumpul dalam dirinya. Ia menangis ketika mengingat ucapan Dinda yang begitu menyakitkan, ia tak percaya jika dia akan melakukan hal ini padanya.

Luka ini lebih menyakitkan daripada yang dulu, dulu juga ia pernah dicampakkan seperti ini tapi bedanya dulu ia belum sepenuhnya mencintai Irene—tapi beda dengan yang sekarang ia sudah mencintainya dengan sepenuh hati, tapi Dinda begitu tega menorehkan luka yang begitu menyakitkan padanya.

“Kenapa Din?” ia begitu terpukul dengan semua ini, bahkan undangan lamaran sudah tersebar—tapi Dinda begitu tega membatalkan acara lamaran yang sebentar lagi akan dilakukan.

Apa yang harus ia katakan pada ibunya—ia yakin pasti ibunya akan pingsan setelah mendengar jika Dinda membatalkan semuanya yang sudah dipersiapkan, pasti ibunya akan menangis histeris karena merasa dipermalukan. Huh, semua ini gara-gara pria brengsek itu andai saja pria brengsek itu tak pernah hadir lagi dalam kehidupan Dinda maka semua ini tak akan terjadi.

Sial!

Mike meremas undangan lamarannya dan merobeknya hingga terkikis kecil-kecil—tadinya ia datang kerumah Dinda ingin menunjukkan undangan yang sudah jadi tapi ah, sudahlah ia begitu malas membalasnya.

Tapi ia akan pastikan mereka tak akan bersama—ia akan merencanakan sesuatu untuk menghancurkan pria brengsek itu.

Pria brengsek itu harus merasakan apa itu kehilangan seseorang yang benar-benar dicintainya.

'tadinya aku pikir kita bisa bersama menjadi keluarga kecil bahagia, membesarkan Ken bersama sampai besar nanti tapi kamu mungkin akan seperti itu, bukan bersamaku namun bersama orang lain.' batin Mike dengan mata yang sendu—penuh kesedihan juga terluka—jika saja ia bisa mengikhlaskan maka ia akan membiarkan Dinda bersama dengan pria brengsek itu, tapi itu tidak bisa ia lakukan—ia tidak mempunyai hati sebesar itu untuk melakukanya.

Andai, dulu ia tak akan Langsung menjatuhkan hatinya maka tidak akan seperti ini. Ia hanya bisa berandai-andai—namun sudah terlambat semuanya terjadi begitu cepat dan ia juga tak akan pernah menyangka jika akhirnya Dinda akan tetap memilih pria brengsek itu dibandingkan dengannya.

Bocah kecil itu, ia sangat menyayangi tapi—kenyataan itu begitu melukainya ketika mereka tidak akan pernah bersamanya, tapi kali ini biarkan ia egois untuk membuat  membuat mereka tetap bersamanya.

Ia ingin bahagia dan kebahagiaan itu ada saat Dinda dan bocah kecilnya bisa bersamanya.

“Maaf Din, aku nggak bisa mundur secepat itu menyerahkan kamu bersama dengan pria brengsek itu, aku akan terus berjuang buat dapetin kamu kembali—walaupun aku tau aku harus bersaing mendapatkan kamu bersama orang yang kamu cintai.” Ucap Mike dengan tegas—ia harus membangun tameng yang kokoh untuk tidak mudah dihancurkan. Jika nanti ia akan kembali terluka pada akhirnya.

Ia hanya bisa berharap jika Dinda akan berada kembali disampingnya.

***

TBC!

Sabtu, 15 Februari 2020

--

Ash, bingung mau ngomong apa... tapi tunggu aja kelanjutannyaaaa bagi yang penasaran tunggu hari Sabtu depan cerita 'KEMBALI' akan diup...



KEMBALI [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang