Sebuah ruangan sempit, yang hanya terisi oleh beberapa barang. Seorang pria paruh baya tengah berdiri di dekat sebuah jendela besar yang langsung menghadap kearah hutan kecil tak jauh dari rumah itu. Bantaran hijau memanjakan mata, entah hal itu ataukah ada hal lain yang membuat senyum di bibir pria paruh baya itu merekah.
Ia berpakaian begitu rapi hari ini, nampak dari gelagatnya ia tengah menanti seseorang. Sampai sebuah ketukan pintu membuat peria paruh baya itu menolehkan kepala kesumber suara, ia sedikit merapikan pakaiannya bersiap menyambut seseorang yang akan masuk kedalam ruangan.
"Masuklah" ucapnya seraya duduk di sofa yang berada di ruangan itu. Saat pintu terbuka, menampakkan seorang pemuda dengan setelan jaket kulitnya tengah menatap pria paruh baya itu tajam. Tak ada kesan yang sama diantara keduanya di satu sisi nampak kebahagiaan dan di sisi lain sarat penuh dengan kebencian.
"Oh....putraku kau sudah datang rupanya. Kemari dan duduklah disini." Pria paruh baya itu bangkit dari duduknya dan mempersihlakan pemuda yang barusaja datang. Sebuah sofa kosong yang berada tak jauh dari emuda itu bukanlah fokusnya saat ini.
"Aku datang kemari bukan untuk mendengar basa basimu." Pemuda itu berujar sinis, sungguh ia ingin segera pergi dari tempat menjijikkan itu.
"Hei....apakah begini cara kita bertemu? Aku begitu merindukanmu." Tanpa seijin pemuda itu pria paruh baya tersebut sudah memeluk pemuda yang dipanggilnya dengan sebutan putra. Helaan napas berat terdengar dari mulut pemuda yang sungguh merasa muak dengan perlakuan pria paruh baya yang terasa berusaha mendekatinya.
"Apakah anda bisa menjauh dariku?" Pemuda itu merasa risih dan berusaha melepaskan pelukan dari pria paruhbaya tersebut.
"Baiklah duduk disini, apakah kau masih menyukai susu pisang? Aku membeli banyak untukmu. Ah.......ataukah kau mau minum beberapa gelas wine denganku?" Pria paruh baya itu menata beberapa kotak susu dan gelas yang dituanginya dengan cairan merah pekat itu.
"Kemari dan minumlah." Segelas wine tersodor di hadapan pemuda itu.
"Aku tidak minum alkohol."
"Kalau begitu apa yang kau inginkan, putraku Jeon Jungkook?"
"Jangan panggil aku seperti itu!" Pemuda yang diketahui adalah Jungkook mengepalkan erat tangannya, apakah ia akan di jebloskan ke perjara jika membakar pria yang mengaku sebagai ayahnya itu bersama rumah kumuh ini.
"Kau memang putraku." Jungkook mengalihkan perhatiaannya ke sudut ruanggan, begitu memuakkan jika harus terus melihat pria itu.
Namun hal lain yang tidak ingin pemuda itu lihat, terpampang nyata dihadapannya.
"Ini tidak mungkin! Bisa kau jelaskan padaku?" Ujar pemuda Jeon itu dengan menunjukkan sebuah frame foto.
"Oh itu." Pria itu menghentikan kegiatan menyesap alkoholnya.
"Itu aku, istriku........ dan kau pasti tau siapa anak itu." Pria itu menunjuk satu persatu orang yang ada didalam gambar, sebuah keluarga kecil yang penuh dengan senyuman di dalam foto itu.
"Ini adalah foto terakhir sebelum ibumu tiada." Pria paruh baya itu menatap Jungkook dengan senyum tipisnya, ada rasa sakit yang menghampirinya saat mengingat mendiang istrinya itu.
Jungkook nampak semakin tak percaya, tangannya merogoh saku jaket guna mengambil dompetnya. Dan menarik keluar sebuah foto usang yang menampakkan 6 orang anak laki-laki dengan seorang pria dan wanita.
Jungkook menggelengkan kepalanya guna menyingkirkan pikiran buruknya.
"Ah.....bukankah itu Kim dan mendiang istrinya, dan mengapa hanya ada enam anak disana?" Tuan Jeon melirik foto ditangan Jungkook, ia bahkan merasa janggal mengapa hanya ada anak bukankah seharusnya ada tujuh.
KAMU SEDANG MEMBACA
Suspicious
FanfictionMisi yang rumit untuk tujuh orang pemuda. Berbagai masalah datang secara bergantian. Cast : All member BTS
