Remaja itu menatap Jimin serius. Ia nampak begitu mendengarkan ucapan Jimin. Matanya nampak memerah, sampai buliran bening keluar begitu saja.
"Aku sama sepertimu, appaku meninggal di rumah sakit saat usiaku 10 tahun. Dan ketika usiaku menginjak 13 tahun eommaku juga meninggal dengan cara yang sama." Jimin menghela nafas dan menatap sekilas remaja yang masih mendengarkannya.
"Alasan mereka meninggal, membuatku merasa geli. Ketika orang tuaku datang kondisi mereka memang belum cukup serius. Namun para dokter tidak segera menagani mereka dan memilih untuk mengani para pasien VIP .........."
"Dan ketika mereka selesai dengan pasien terhormat, appaku telah tiada dan eomma ia begitu terpukul. Apakah mereka bisa mengembalikan nyawa orang tuaku?" Remaja itu meneruskan kalimat Jimin dengan air mata yang terus mengalir.
"Aku mengerti apa yang kau rasakan, namun apakah dengan merusak rumah sakit dan mengacau. Apakah semuanya akan selesai, dan apakah orang tuamu akan senang?" Ucapan Jimin dibalas dengan gelengan dari remaja itu.
"Kalau begitu lebih baik kau pulang. Aku yakin eommamu sedang menunggumu dirumah." Jimin tersenyum dan memberikan saputangan kepada remaja di hadapanya.
"Namaku Beomgyu." Remaja itu berujar ketika Jimin bangkit dari duduknya.
"Jimin, Park Jimin." Jimin kembali tersenyum dan mengusak rambut Beomgyu. Sebelum tubuhnya menghilang dibalik pintu kaca meninggalkan Beomgyu seorang diri.
"Gomawo Jimin hyung." Gumam Beomgyu lirih, saat melihat Jimin yang menjauh.
Jimin Flash Back
Siang itu, awan gelap menyelubungi langit Seoul. Rintik hujan berjatuhan membuat seisi kota menjadi basah. Seorang remaja pria usia 13 tahun tengah berjalan menembus derasnya hujan, dengan tujuan rumah sakit Seoul.
Sesampainya ia disana, langkah kakinya membawa tubuh yang basah itu memasuki rumah sakit. Ia mendatangi meja resepsionis dan melempar barang barang yang ada diatasnya.
"Kalian pembunuh.........."
"Kalian membunuh kedua orang tuaku......!!"
"Kalian moster....."
Jimin, nama remaja pria itu. Ia baru saja menyelesaikan upacara pemakaman sang ibu. Dengan pakaian khas pemakaman Jimin mengamuk di rumah sakit.
Ia tak tau lagi harus berbuat apa. Ia telah kehilangan satu-satunya keluarga yang ia miliki. Ibunya menyusul sang ayah yang juga meregang nyawa di rumah sakit.
"Argh........" Jimin memekik ketika seorang pria menekuk tengannya kebelakang.
"Tenanglah nak" ucapan yang begitu lembut membuat Jimin sedikit lebih tenang. Namun itu tak berlangsung lama, ia kembali meronta.
"Mereka membunuh orang tuaku, mereka mementingkan pasien berdasarkan uang."
Jimin meronta dan menangis didekapan pria itu. Pria itu berusaha menenangkan Jimin yang nampak terpuruk.
"Orang tuaku datang terlebih dahulu dibanding para orang kaya itu."
"Apakah dengan mengacau dan membuat keributan orang tuamu akan senang?" Pertanyaan pria itu seakan menyadarkan Jimin. Ia menjatuhkan tubuhnya kelantai, hal itu membuat pria yang sedang menahan tangannya terkejut.
"Hiks.....hiks......hiks........" tubuh Jimin bergetar, ia tak tau apa yang harus dilakukan. Di usianya yang ke 13 tahun ia harus hidup seorang diri. Satu satunya orang tua yang ia punya harus pergi untuk selamanya.
Tak lama setelah itu, beberapa polisi datang dan membawa Jimin keluar dari rumah sakit. Jimin hanya menunduk ketika para polisi meminta penjelasannya, setelah menggali beberapa informasi. Para polisi memutuskan untuk menempatkan Jimin di panti asuhan, kerena menurut data Jimin tak lagi memiliki kerabat dekat.
Sudah hampir satu minggu Jimin berada di panti, tidak ada air mata dan senyuman di wajah Jimin. Jimin lebih memilih mengekspresikan emosinya dengan hal lain seperti dengan melakukan self injury.
Malam yang dipenuhi bintang, Jimin tengah berjalan menyusuri trotoar. Namun ia tidak tertarik untuk melihat bintang-bintang itu. Sampai langkah Jimin terhenti di pinggir jembatan, kerlip lampu yang begitu indah membuat perhatian Jimin teralihkan.
"Haruskah?" Pertanyaan yang terus berputar di kepala Jimin.
Manik Jimin memandang air di bawah jembatan. Jarak jembatan dan air nampak begitu jauh. Aliran sungai yang terus Jimin perhatikan membuatnya merasa mual.
Satu kaki Jimin berpijak di pembatas jembatan dan disusul kaki yang lain.
"Apakah airnya dingin?"
"Apakah aku langsung mati jika melompat?"
"Tapi akukan pandai berenang."
Jimin dibuat pusing dengan isi kepalanya. Antara lompat dan tidak, merupakan keputusan yang sulit.
Sampai keputusan Jimin sudah mencapai final. Ia mulai menaikkan kakinya sampai tengah pemebatas, dengan helaan nafas panjang Jimin mulai melepas pegangannya di besi jembatan. Dan membuat tubuhnya terhuyun kedepan, lebih tepat kearah sungai.
Belum sampai tubuh Jimin jatuh dan menyentuh dinginya air sungai. Sebuah tangan mencengkram lengannya erat. Dan hal itu membuat Jimin spontan meraih besi jembatan.
"Apa yang coba kau lakukan?"
"A...aku. Aku ingin bunuh diri!" Jawaban Jimin yang begitu percaya diri membuat orang yang menahan tangannya tersenyum miring.
"Ah jadi begitu. Silakan lanjutkan kegiatanmu yang tertunda!" Orang itu melepaskan cengkramanya di lengan Jimin. Kini Jimin kembali ragu untuk melakukan aksinya. Ia kembali menatap aliran air dibawahnya.
"Ah.....namaku Min Yoongi!" Jimin sedikit terlonjak ketika sebuah tepukan yang cukup keras membuatnya hampir terjatuh dari atas jembatan, dan sialnya adalah orang yang sebelumnya berhasil membuat Jimin gagal melancarkan aksi bunuh dirinya.
"Woah........ah, ne?"
"Jika kau sudah berhasil bunuh diri. Katakan pada Tuhan jika aku berterimakasih padanya, karena sudah mengurangi jumlah makhluk yang menghabiskan oksigen. Jangan lupa pesanku." Yoongi berlalu dengan melambaikan tangannya kearah Jimin.
Jimin terus memandang punggung Yoongi yang kian menjauh dari jembatan.
Jimin flash back and
***
Bersambung............
KAMU SEDANG MEMBACA
Suspicious
FanfictionMisi yang rumit untuk tujuh orang pemuda. Berbagai masalah datang secara bergantian. Cast : All member BTS
