Ketakutan Tersendiri

4.1K 365 12
                                        

Ketika Yoongi pergi menghilang begitu saja, Taehyung memilih untuk menemani Jimin yang di bawa menuju rumah sakit. Taehyung berusaha mengalihkan pandangan dari Jimin yang tak sadarkan diri dengan darah yang sudah mulai berhenti keluar, karena para tim medis telah menutup luka di kepala Jimin dengan kain kasa.

Beberapa tim medis bertanya tentang kondisin Taehyung, ia begitu pucat dengan keringat dingin yang terus keluar dari pori-pori kulitnya.

Tidak ada suara hanya gelengan lemah yang Taehyung berikan sebagai jawaban.

Setibanya di rumah sakit, Taehyung masih mengikuti langkah tim medis yang membawa Jimin ke ruang oprasi. Setelah para tim medis hilang di balik pintu tubuh Taehyung merosot kelantai. Ia sandarkan punggunya ke tembok putih penghalang dirinya dan Jimin.

Tangan dan pakaian Taehyung terkena darah Jimin ketika di dalam ambulance. Ia berusaha menghilangkan darah itu dengan mengusapkannya di kaos putihnya. Darah itu tidak hilang tetapi semakin merata di tubuhnya, bahkan ketika Taehyung berusaha menyeka keringatnya darah juga menempel di wajahnya.

Seorang suster yang datang, untuk meminta data pasien memberi Taehyung sebotol air mineral. Ia sempat menawari Taehyung untuk dirawat, namun Taehyung menolaknya dengan gelengan lemah.

Setelah suster itu pergi Taehyung membuka botol mineral itu dan menuangkan isinya di baju dan tangannya, ia berusaha menghilangkan darah dari tubuhnya.

Merasa usahanya sia sia Taehyung merogoh saku jaketnya dan mengambil ponsel pintar untuk menghubungi seseorang.

Suara nada terhubung berbunyi, Taehyung menceritakan kejadian yang menimpanya dengan suara bergetar dan air mata yang mengalir. Tubuhnya sudah sangat lemas, kepala yang berdenyut semakin menyiksa. Sampai hanya kegelapan yang menguasai pandangannya.

***

Tuan Kim dan keempat putranya berlari kecil memasuki bangunan rumah sakit. Tuan Kim merasa khawatir ketika mendapat kabar dari Taehyung jika Jimin masuk rumah sakit dan hal itu diperburuk karena sambungan telphone yang terputus tiba-tiba.

Sesampainya di meja resepsionis, Tuan Kim  bertemu dengan Minhyun dokter pribadi keluarga Kim. Tak perlu sampai Tuan Kim bertanya, Minhyun sudah paham dengan situasi. Ia membawa Tuan Kim dan keempat putranya menuju salah satu ruangan tempat Taehyung dirawat.

Beberapa saat yang lalu Minhyun melihat Taehyung yang tak sadarkan diri di depan pintu ruang oprasi.

Pintu terbuka, dan menunjukkan Tahyung yangterbaring tak sadarakan diri. Wajah Taehyung begitu pucat, dengan keringat yang terlihat jelas di keningnya.

"Sebenarnya bagaimana semua ini bisa terjadi?" Tuan Kim menatap Minhyun dengan seribu pertanyaan.

"Dari informasi yang saya dapat dari petugas ambulan, Jimin melompat dari atas gedung untuk menyelamatkan seorang anak saat kebakaran apartemen terjadi. Jimin dan anak itu dibawa kerumah sakit dengan ambulan yang berbeda." Jelas Minhyun

"Lalu bagaimana kondisi Jimin sekarang?" Tuan Kim kembali mengajukan pertanyaan

"Oprasi belum selesai, saya juga belum tau kondisi Jimin saat ini."

Tuan Kim memandang Taehyung dan mengusap pucuk kepala putranya, helaan nafas yang begitu berat dan terasa semakin sesak. Tuan Kim mengalihkan pandangannya kepada keeampat putranya yang lain.

"Tolong kalian jaga Jimin dan Taehyung, appa harus mencari Yoongi. Entah bagaimana kondisinya saat ini." Tuan Kim berusaha tersenyum menguatkan dirinya sendiri dan tentunya juga untuk para putranya.

***

Kini Tuan Kim sudah sampai di kediamannya, dengan langkah pasti Tuan Kim menyusuri setiap sudut rumahnya. Sampai langkahnya terhenti di depan pintu kayu dengan ukiran 'Yoongi Room' di sebuah papan yang digantung pada pintu.

Tuan Kim memutar knop pintu dan melangkah masuk kedalam ruangan itu.

"Yoongi ini appa."
Ruangan yang begitu gelap, Tuan Kim berusaha memekakan telingannya

"Yoongi-ah, kau baik-baik saja?" Tuan Kim melihat sebuah bayangan di balik ranjang.

"Yoongi" Tuan Kim mendekati putranya yang tengah gemetar, tubuh Yoongi begitu dingin dan wajahnya yang memucat.

Tuan Kim berhasil dibuat cemas dengan kondisi Yoongi yang berantakan. Beberapa pil obat berserakan di sekiatar kaki Yoongi, Tuan Kim melirik sekilas tabung obat yang berada di genggaman putranya.

"Appa, api.... Jimin..... api....." Yoongi memandang Tuan Kim dengan mata yang penuh dengan ketakutan.

"Yoongi, dengarkan aku kau tak perlu takut. Apinya telah padam dan tak akan ada hal buruk yang terjadi, semuanya akan baik-baik saja. Kau mengerti?" Tuan Kim mengusap pucuk kepala Yoongi, guna memberikan rasa aman pada putranya.

Yoongi yang merasa mulai lemas, ia menyandarkan tubuhnya di bahu sang ayah. Yoongi memiliki phobia terhadap api semenjak tragedi yang menimpanya dan membunuh kedua orang tuanya. Sampai Tuan Kim datang dan bersedia menggantikan orang tua Yoongi untuk membesarkanya serta memberi rasa aman kepada Yoongi.

Tuan Kim dan Yoongi larut dalam pikiran masing-masing, sampai getaran ponsel Tuan Kim membuat mereka tersadar.

"Hallo, ada apa Seokjin-ah?"

"Ji.....Jimin, baiklah appa akan segera kesana!" Raut wajah Tuan Kim menjadi panik. Yoongi yang melihat itu merasa ada yang tidak beres.

"Appa, semuanya akan baik-baik saja bukan?" Tuan Kim mematap Yoongi lama, ia juga tak tau harus berkata apa.

Hanya anggukan dan senyuman tipis yang ia berikan sebagai jawaban atas pertanyaan Yoongi.

Ia hanya bisa berharap, semoga semua baik-baik saja. Tidak bisakah Tuan Kim berharap?












Bersambung.............






Saya ucapkan terimakasih untuk para pembaca yang sudah meluangkan waktu untuk membaca cerita abal-abal buatan saya.

Maaf jika masih banyak typo yang bertebaran disana-sini.

Tunggu kelanjutan ceritanya

☺☺☺☺

SuspiciousTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang