Senin pagi, kelas 11 IPA3
Brak!
Rose meletakkan tasnya pada meja dengan kasar hingga menimbulkan suara bising, setelah duduk di kursi miliknya.
Arra—teman sebangku Rose—terkejut mendengar suara gebrakan di meja sampingnya. Arra menoleh ke asal sumber suara dan mendapati Rose sudah duduk di sebelah kursinya. Terlalu sibuk chatting-an dengan gebetan, hingga ia tidak sadar dengan kedatangan Rose.
"Lo kenapa sih? Baru datang, kok udah ngamuk aja? Udah kayak emak-emak kehabisan duit ditanggal tua," ujar Arra ngawur.
Rose pun langsung men-death glare Arra, membuat gadis itu bergeming seketika.
Bete. Rose bangkit dari kursinya, lalu pergi ke toilet. Saking betenya, Rose bahkan mengabaikan Vivi yang menyapa saat mereka berpapasan di pintu kelas.
"Arra, Rose kenapa?" tanya Vivi penasaran, saat sudah berada di depan meja Arra.
"Enggak tahu. PMS kali," jawab Arra, tak acuh. Dia pun melanjutkan kembali aktivitasnya, chatting-an dengan gebetan. Sementara Vivi kembali berjalan menuju bangkunya, yang ada di belakang kursi Arra.
Gue yakin, sikap Rose sekarang pasti berkaitan sama Dava, batin Vivi.
Kemudian, seringai kecil terbentuk di bibir Vivi, ketika melihat Dava dan Tania berjalan bersama melewati kelasnya.
Firasat gue bilang, hari ini adalah hari keberuntungan gue, kata Vivi dalam hati.
Vivi lalu bangkit dari kursi dan langsung membuntuti Dava dan Tania yang sedang menuju kantin.
***
Toilet perempuan
"Kesal, kesal, kesal! Arrrgh!"
Rose mengepal tangan kuat. Dia marah. Sangat marah. Rahangnya mengeras, mata memerah, dan netra menyorot tajam, serta bibir mengatup rapat. Ia marah-marah tak jelas dalam toilet. Merasa frustasi sebab Dava lagi-lagi menolak dirinya.
Rose bahkan memukul pinggiran wastafel, untuk melampiaskan amarah yang memburu, hingga membuat dirinya menyakiti diri sendiri. Beruntung, tidak ada yang melihat. Kalau sampai ada, mau ditaruh di mana mukanya nanti.
"Shit! Kenapa Dava selalu nolak gue sih? Apa kurangnya coba dari gue? Gue ini anak orang kaya, gue juga cewek tercantik di sekolah ini. Padahal, cowok lain ingin jadi pacar gue. Namun, kenapa Dava enggak kayak mereka sih? Arrrgh, kesal banget gue!" Rose mulai mengoceh sendiri.
Sudah menjadi kebiasaan Rose jika sedang emosi, ia akan pergi ke tempat yang tidak ada orang satu pun untuk melampiaskan amarah yang membelenggu. Lalu, di sana, dia akan mengoceh sendiri. Seperti saat ini.
Namun, ketika Rose sedang meluapkan amarahnya, tiba-tiba ponselnya bergetar.
Drrrt! Drrrt! Drrrt!
Dengan malas, Rose melirik ponselnya, yang diletakkan di samping wastafel. Sebuah pesan dari aplikasi WhatsApp—nomor tak dikenal—terpampang jelas di layar ponsel Rose. Akan tetapi, Rose mengabaikannya karena menganggap nomor itu milik salah satu penggemar cowok yang ingin PDKT dengannya.
Rose memang memiliki banyak penggemar cowok.
Meski sikap Rose buruk, tetapi banyak yang suka dengan dia. Mengingat, Rose adalah salah satu most wanted cewek di SMA BHIMA SAKTI. Jadi, banyak cowok yang suka dan ingin dekat dengan Rose. Bahkan, ada yang diam-diam meminta nomor ponsel Rose, dari salah satu teman Rose yang memiliki nomornya.
KAMU SEDANG MEMBACA
BSC (Brother Sister Complex) (terbit)
Teen FictionSudah terbit, oleh penerbit Samudera Printing. Part masih komplet. _______________________________________ Blurb: Kehidupan Dava Aldiano Nova berubah setelah kehadiran Ayaka Putri Handini. Yang tak lain adalah adik tirinya. Awalnya, Dava berat h...
