BIMBANG & KEPUTUSAN

261 43 5
                                        

Kamar Dava, pukul 11.00 malam

Untuk yang ke sekian kali, Dava membuka kedua matanya. Dia tidak bisa tidur. Kepalanya pening. Pernyataan cinta dari Tania, membuatnya tambah pusing. Wajar saja sebab masalah antara Dava dan Ayaka saja belum selesai dan sekarang, masalah baru kembali datang.

"Apa yang harus gue lakukan sekarang?" monolog Dava. Bingung.

Masalah cinta memang sulit dan juga rumit. Namun, bukan hanya Dava saja yang saat ini tengah pusing dengan masalah cinta. Ayaka pun mengalami hal yang sama. Bahkan, kesehatan Ayaka sampai drop karena terlalu memikirkan masalahnya.

***

Keesokan paginya

Kring!

Alarm weker terus berbunyi, mencoba membangunkan seseorang yang masih terbungkus selimut. Setelah tiga puluh menit berbunyi, si pemilik weker yang tidak lain adalah Dava, akhirnya bangun juga.

Dava terlebih dulu mematikan jam wekernya. Dia lalu mengucek kedua matanya untuk memperjelas penglihatan, demi bisa melihat waktu yang ditunjukkan oleh jam wekernya dengan lebih jelas.

Sudah pukul 06.30 pagi.

Otak Dava loading ….

Masih in-connect.

Dan akhirnya ….

"Gyaaa! Gue kesiangan!" teriak Dava heboh. Dava pun langsung pergi ke kamar mandi.

Gara-gara semalam begadang sampai pukul 03.00 pagi, Dava jadi telat bangun. Namun, bukan tanpa alasan Dava begadang. Dia tidak bisa tidur dan karena bosan hanya rebahan, Dava memutuskan untuk menonton film malam dan menonton bola hingga tidak terasa ternyata sudah pukul 03.00 pagi saja.

Tiga puluh menit kemudian

Dava sudah selesai mandi. Dia juga sudah memakai seragam batik khas sekolahnya dengan rapi. Hanya tinggal berangkat saja. Dava keluar kamarnya, turun ke lantai bawah menuju pintu depan. Namun, ketika sampai di depan pintu kamar Ayaka, Dava menghentikan langkahnya. Dia teringat sesuatu.

"Eh, Ayaka sebenarnya udah berangkat atau masih tidur sih?" Pertanyaan itu muncul, karena Dava tadi melihat meja makan dalam keadaan kosong. Bahkan, alat makannya pun masih tersimpan rapi di rak.

Akan tetapi, Dava berspekulasi bahwa Ayaka juga kesiangan. Jadi, tidak sempat melakukan kebiasaan paginya, yaitu memasak nasi goreng untuk sarapan, serta tidak punya banyak waktu untuk menunggu Dava bangun dan siap-siap.

Demi memastikan apakah Ayaka sudah berangkat duluan, Dava mengambil ponselnya di saku celana untuk melihat pesan dari Ayaka. Sebab, Ayaka pasti memberi tahu Dava jika gadis itu berangkat lebih dulu. Namun, saat dicek, tidak ada satu pesan pun dari Ayaka.

Apakah dia lupa ngirim pesan? batin Dava. Namun, dia ragu Ayaka lupa mengirim pesan padanya.

Dava pun memutuskan untuk mengecek kamar Ayaka. Meski Ayaka tidak memiliki kebiasaan tidur sampai siang, tetapi Dava yakin adik tirinya itu masih ada di kamarnya. Dava membuka pintu kamar Ayaka, yang ternyata tidak dikunci. Lagi.

Kayaknya gue harus mengingatkan dia untuk selalu ngunci pintu kamarnya, batin Dava, yang mendapati pintu kamar Ayaka yang tidak dikunci.

Ketika pintu kamar Ayaka terbuka lebar, Dava melihat Ayaka yang sedang tidur lelap di tempat tidurnya. Terlalu lelap malah, hingga hal itu sukses membuat Dava khawatir. Dava langsung masuk ke kamar Ayaka. Dia mendekati adik tirinya yang tengah tidur terbungkus selimut. Setelah berada di sampingnya, Dava lalu memperhatikan keadaan Ayaka.

BSC (Brother Sister Complex) (terbit) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang