JAWABAN & PERNYATAAN CINTA

240 37 14
                                        

"Ukh."

Ayaka terbangun dari tidurnya. Dia haus dan ingin minum. Ketika kedua matanya sudah benar-benar terbuka, Ayaka melihat keadaan di luar yang masih gelap, melalui salah satu ventilasi udara di kamarnya. Wajar saja, karena masih pukul 03.00 pagi.

Ayaka berniat untuk mengambil air minum sendiri. Dia tidak ingin membangunkan Dava, yang diduganya masih tidur. Namun, ketika ingin bangun, Ayaka merasa tangan kanannya berat untuk diangkat. Seperti ada sesuatu yang menahannya. Penasaran, Ayaka pun melihat ke tempat tangan kanannya berada.

"Eh!" Ayaka terkejut, ketika melihat Dava tengah tertidur dengan posisi duduk di kursi belajarnya. Badan Dava membungkuk, dengan kepala yang berada di tempat tidur. Namun, yang paling mengejutkan Ayaka adalah Dava tidur dengan kedua tangan, menggenggam tangan kanannya.

Lagi-lagi, aku bikin Onii-chan tidur di sini, ucap Ayaka di dalam hati.

Sebelumnya Dava pernah tidur di kamar Ayaka. Tepatnya, ketika terjadi hujan disertai petir, tiga hari yang lalu. Waktu itu, Dava juga tidur dengan posisi yang sama. Hanya saja, tidak sambil menggenggam tangan Ayaka.

Ayaka melepas genggaman tangan Dava secara perlahan, dia lalu bangun dan turun dari tempat tidurnya. Namun, bukannya ke dapur, Ayaka justru berjalan menuju lemari pakaian yang berada di samping kanan lemari bukunya. Dia pun membuka lemari tersebut, lalu mengambil selimut ekstra miliknya. Kemudian, Ayaka menyelimuti Dava dengan selimut tersebut. Dia lalu memandangi wajah Dava, seraya membatin, Onii-chan benar-benar menyayangiku, tapi aku justru bersikap egois dengan sudah menghalanginya untuk bahagia. Ke depannya, aku enggak bakal kayak gitu lagi. Aku akan ikut bahagia, kalo Onii-chan bahagia. Jadi ….

"Maafkan adikmu yang egois ini ya, Onii-chan!" Ayaka menyuarakan salah satu isi pikirannya. Kemudian ….

Cup!

Ayaka mencium pipi kanan Dava lembut. Agak lama, seakan-akan itu adalah ciuman pertama dan terakhirnya. Setelah itu, dia pergi ke dapur untuk mengambil air minum.

***

Kamar Ayaka, pukul 05.30 pagi

Kring!

"Berisik banget sih!" Dava akhirnya bangun dari tidurnya. Itu disebabkan oleh jam weker milik Ayaka yang bunyi persis di depan wajahnya. Ayaka sengaja meletakkan jam wekernya di depan wajah Dava, agar kakak tirinya itu bisa langsung bangun ketika alarm wekernya berbunyi. Gadis itu pun berhasil membangunkan Dava tepat waktu.

Dava merenggangkan seluruh bagian tubuhnya, agar otot-ototnya tidak kaku. Dia lalu mematikan jam weker Ayaka. Beberapa saat kemudian, Dava baru sadar dirinya memakai selimut.

Padahal, seingatnya semalam dia tidak memakai selimut. Dava juga baru sadar, Ayaka tidak ada di tempat tidur dan hal itu, sukses membuatnya khawatir. Namun, ketika Dava hendak mencari Ayaka, tiba-tiba pintu kamar Ayaka dibuka seseorang. Orang itu tidak lain adalah Ayaka. Dava pun bangun dari duduknya dan langsung menghampiri sang adik.

"Lo habis dari mana sih? Bikin orang khawatir aja," semprot Dava.

"Dari dapur, ruang makan, dan kamar mandi," timpal Ayaka.

"Terus, kenapa lo pakai seragam?" tanya Dava, heran melihat Ayaka sudah rapi dengan seragam sekolahnya. Mendengar itu, Ayaka berkacak pinggang.

"Ya, karena mau berangkat sekolah, gitu aja pakai nanya. Dasar, aho[6]." Ayaka menjawab sambil mencondongkan badannya, membuat wajahnya maju ke depan.

"Maksud gue, emang lo udah sembuh? Mau berangkat sekolah segala."

"Udah. Periksa aja, kalo enggak percaya!" Dava pun menurut. Dia menyentuh dahi Ayaka dengan telapak tangan kanannya untuk mengecek suhu tubuh adik tirinya itu.

BSC (Brother Sister Complex) (terbit) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang