"Sepanjang yang kurasakan selama ini hanyalah kehampaan dan rasa sakit tiada akhir yang melukaiku, bahkan untuk tidur pun seringkali aku harus menangis hingga mataku lelah dan akhirnya menutup"
"Kehidupan sehari hari rasanya seperti neraka berhiaskan keindahan surga yang nyatanya tak berarti apapun, karena aku tetap disana, menikmati penyiksaan batin layaknya makanan sehari hari"
"Kamu memilihnya, kamu mencintainya, aku tau itu. Dan kenyataan jika aku juga mencintaimu hanya pantas disebut setetes air yang mengenai permukaan kulitmu. Kamu merasakannya, kamu tau itu, tapi kamu akan merasa terusik karena rasa basahnya dan akan mengelapnya hingga kering. Yang mana membuatku hanya bisa menelan kepahitan"
"Andai kamu tau bagaimana sakitnya mungkinkah kamu akan mengerti dan berhenti menyakitiku dengan segala perbuatanmu bersama wanita yang kamu cintai di depanku? Aku hanya manusia, aku tidak mungkin bertahan bersamamu jika tidak punya sesuatu untuk dipertahankan"
"Aku terlalu mencintaimu hingga melupakan diriku sendiri. Melupakan berbagai hal yang bisa aku dapatkan karena terselubung oleh angan angan akan kebahagiaan bersamamu"
"Tapi mungkin itu semua bisa terwujud jika saja dia tidak ada di hidup kamu. Tapi kembali lagi, aku tidak setega kamu, aku tidak bisa berharap seseorang lenyap begitu saja agar aku mendapatkan apa yang aku mau"
"Karena semua orang punya kebahagiaannya masing masing. Dan mungkin... sejak awal kebahagiaanku memang bukan bersamamu. Aku rela menyerahkanmu untuk orang lain hanya untuk melihat senyummu yang tidak pernah bisa kudapatkan"
"Lupakan aku jika aku memang hanyalah gangguan di hidupmu, aku tidak keberatan menanggung rasa ini sendirian. Karena kupaksakan pun, hasilnya tetap akan sama. Tapi ketahuilah, aku tidak pernah menyesal"
"Jadi teruslah tersenyum bersamanya, kamu pantas bahagia"
"Aku mencintaimu Kyu. Selalu"
Kyuhyun terdiam ditempatnya setelah membaca tulisan terakhir milik wanita yang telah pergi dari sisinya untuk selamanya.
Semua tertulis dengan apik di dalam buku berwarna pink yang tersimpan di dalam laci. Penuh akan kata kata yang selama ini ingin tersampaikan namun rupanya perlu menunggu hingga sang pemilik menghembuskan nafas terakhirnya, maka seluruh tulisan itupun tersampaikan pada seseorang yang memang adalah tujuannya mengutarakan perasaan pahit ke dalam kata kata.
Daena hanya bisa mengintip dari balik dinding karena sejak kejadian suaminya yang mengarahkan ujung pistol kearahnya, hubungan mereka mendadak berubah total.
"Menurutmu tuan baik baik saja? Sejak kepergian Nyonya dia jadi jarang makan dan hanya mengurung diri di dalam ruang kerjanya"
"Kupikir sekarang dia menyesal. Lihat saja apa yang terjadi, tidak sekalipun dia pernah memperhatikan wanita itu lagi bahkan..."
"Ehem" Daena menginterupsi pembicaraan kedua asisten rumah tangga tersebut. "Apa kalian sudah bosan bekerja disini?"
"Ma, maaf nyonya"
"Pergilah, jangan berkata yang tidak tidak mengenai suamiku atau kalian akan menanggung akibatnya.
"Nde"
Setelah kepergian keduanya, Daena mengepalkan tangan. "Sial... dia sudah mati tapi masih saja menyusahkan"
*~*~*~*~*~*~*~*
Seohyun membulatkan mata begitu mendengar penuturan suaminya. Tangannya yang menggenggam baju Kyuhyun pun perlahan lahan melemah.
"Kamu... kenapa tiba tiba?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Last Encounter
FanfictionOne day, Seohyun wakes up, and all of her memories bump with other memories from her previous life. A tragedy that somehow feels like sorrow and joy at the same time drags her into a hole where she is trapped with her husband, her love, Kyuhyun, tha...
