11 - Dern

1.7K 183 50
                                        

"Apa yang sedang kau lakukan disini?"

Seohyun menyeka air matanya sebelum berbalik. Dia pun tersenyum dan menjawab. "Hanya sedang menikmati waktu saja"

"Begitu..."

"Ada apa?"

"Karena Kyuhyun sedang pergi, tidak ada satupun yang bisa kuajak bicara. Semuanya..., masih menganggapku orang asing disini"

"Duduklah" Seohyun menepuk tempat duduk panjang dibawah pohon yang sedang dia duduki.

"Terima kasih"

Hembusan angin yang begitu sejuk membuat Seohyun menutup mata dan mulai menikmati setiap sentuhan lembut yang menyapa seluruh tubuhnya.

Semua ciptaan Tuhan tidak pernah gagal dalam membuat manusia kagum dan terpesona dalam berbagai cara yang tentu tidak bisa ditebak oleh siapapun. Seperti hal nya sekarang.

Seohyun begitu menyukai rasa nyaman dan tentram yang disuguhkan oleh alam. Membuatnya bisa selalu rileks, di dalam badai penderitaan tanpa tanda akan berakhir.

Seperti akan berlangsung selamanya, sungguh ironis.

Sepasang mata yang menatapnya sedari tadi, akhirnya membuka suara. "Apa yang sedang kau pikirkan?"

Seohyun pun membuka mata dan menoleh. "Umm... Tidak ada"

Dahinya berkerut perihal jawaban monoton yang disampaikan. "Sepertinya kau orang yang tidak pandai mengekspresikan diri pada orang lain"

"Benarkah? Padahal dulu aku yakin cukup terbuka... meski tidak ada yang menganggapnya"

"Kau bisa menceritakan apapun padaku, aku pasti akan mendengarkanmu"

Seohyun tersenyum kecil. "Terima kasih, aku akan sangat menghargainya"

"Oh benar, kita bisa berbagi informasi juga kalau begitu"

"Informasi?"

"Iya" Wanita itu mengangguk. "Kyuhyun tipe yang pemilih. Aku berpikir untuk memasakkannya sesuatu, dan aku yakin kau tau apa makanan kesukaannya"

"Umm..." Seohyun berpikir sejenak. "Sebenarnya tidak ada yang spesial. Kau bisa memasakkannya apapun, dia pasti akan memakannya"

"Kau yakin?"

"Iya" Wajah cantiknya memberikan senyuman tulus kembali, walau ada ribuan pisau yang menusuk dadanya.

"...Setidaknya dia tidak mungkin akan melemparkan makanan itu seakan merasa jijik" Sambungnya.

"Ah... kau... benar juga" Wanita itupun tertawa pelan.

"Ne? Apa ada yang lucu?"

"Aku hanya heran, dimata orang orang aku seperti wanita jalang yang merebutnya darimu. Andai mereka tau jika kami memang saling mencintai"

Guyonan belaka, tapi menusuk berkali kali lebih hebat dibanding luka fisik.

Jika boleh jujur, hati Seohyun merasa sangat sakit.

Tapi mau bagaimana lagi. Dirinya hanya bisa pasrah pada keadaan yang membuatnya berpikir beribu ribu kali untuk pergi.

Sendainya memang hati Seohyun kuat untuk melakukannya. Seperti menutupi apa yang tengah dia rasakan dengan berkata hal yang menenangkan.

"Orang orang hanya perlu waktu, aku yakin sikap mereka akan membaik seiring berjalannya waktu"

"Itu pasti. Dan lagi... kadang ada hal yang tidak akan berubah meski waktu sudah berjalan"

Last EncounterTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang