"ITAAAAL..." Teriak Sarah kesal
"Sar ampun Sar gue gak sengaja sumpah." Ujar Krystal panik tapi juga ingin tertawa.
Sarah menghela napas kasar sambil melepaskan baju Krystal. "Lo tuh kenapa nyebelin banget sih huhuhu... goblok banget sih lo." Jelas Sarah sangat marah dan malu, bagaimana bisa ia seperti memberikan hal berharganya begitu saja dengan orang yang baru ia kenal lagi, meskipun dengan tidak sengaja.
"Ya itu bukan salah salah gue banget kan? lo kesandung kaki lo sendiri." Bela Krystal pada dirinya.
"YA NGAPAIN JUGA LO DORONG GUE?" Sewot Sarah.
"Udahlah si Ryan Ryan itu gak akan nafsu kali sama lo." Celetuk Krystal tanpa beban.
"Masih bisa lo ngomong kaya gitu?!" Bentaknya kesal.
"Hahahah udahlah lupain."
Sarah kembali mendesah kesal sambil memegangi dadanya, tanpa sadar pipinya memerah.
Di kelas Ryan juga sebenarnya sedikit memikirkan, ia jadi malu sendiri. Bagaimana bisa kejadian seperti itu terjadi, ia merasa kotor dan memejamkan matanya kesal.
Serina yang duduk tidak jauh dari Ryan meliriknya, ia berpikir kalau Ryan kesakitan. Dan tiba-tiba Ryan menoleh kepadanya. "Kamu gak apa-apa? masih sakit?" tanya Serina sambil menunjuk bibirnya sendiri sebagai perumpamaan.
Ryan tersenyum. "Aku gak apa-apa." Bisiknya.
Serina buru-buru mengalihkan pandangannya dan kembali berbalik setelah melihat senyumannya yang membuat jantungnya berdetak kencang. Bagaimana bisa itu terjadi?
Ketika bel berbunyi menandakan pulang Ryan berjalan keluar, tapi kakinya malah membawa ia ke kelas sebelah. Serina yang sedang menunggu kembarannya hanya diam memperhatikan tanpa ingin tahu apa yang dilakukan laki-laki itu.
Ketika Sarah keluar dari kelasnya ia menoleh kaget dan sedikit berteriak. "Ngapain sih lo ngagetin gue?" Ujarnya kesal, jujur Sarah sedikit malu karena kejadian tadi langsung terlintas di benaknya.
Ryan menunduk sebentar kemudian menatapnya. "Terima kasih Sarah." Ujarnya tulus.
"Eh?"
"Terima kasih karena tadi udah nolong aku." Ulangnya kemudian ia berjalan sedikit kikuk karena Sarah hanya memandangnya bingung. Ryan mencengkram pada pegangan tas yang digendongnya dan terus berjalan menjauh.
"Apasih aneh banget jadi cowok." Keluh Sarah.
"Kak Sarah ayo pulang."
"Eh iya ayo."
"Serina, kenapa sih temen kelas baru kamu aneh." Lanjut Sarah mengeluh.
Serina menoleh sambil tersenyum. "Aneh gimana maksud Kak Sarah?"
"Ya aneh aja, dateng-dateng cuman terima kasih terus udah pergi gitu aja. Terus pakeannya tuh bikin males diliat, culun banget sih jadi cowok."
"Hmm Kakak juga males berati ya kalau liat Serina?"
"Heh ya enggak lah, kembarannya Kakak gak culun kaya dia." Sanggahnya tidak terima.
"Masa? Serina kan pakaiannya kaya dia?" godanya.
"Enggak lah beda lagi, cewek mah wajar dia kan cowok."
"Apa bedanya?"
"Ya beda lah kamu cewek dia cowok. Ck lagian kamu kenapa belain dia, kamu suka ya?" Ujarnya sambil memicingkan matanya.
"A-apa siapa yang suka, ngaco. Kakak tuh yang nanti bakalan suka." Jawabnya gelagapan.
"Heh apa-apaan suka sama modelan yang begituan. Kamu yang ngaco." Keduanya saling bertatapan sengit merasa sebal.

KAMU SEDANG MEMBACA
Sebelah Mata ✔️
Romance(COMPLETED) Tatap mataku maka kamu akan tetap melihat dia dalam pancarannya.