Thirty Three

703 66 69
                                    

Ryan menyelimuti tubuh keduanya lalu mendekat dan menyentuh pipi Serina. "Ke dokter aja ya nanti."

Serina menggeleng tidak mau. "Kenapa?" Tanya Ryan sambil menghapus jejak air mata Serina.

Wanita itu lagi-lagi menggeleng tidak mau dan menunduk. "Yaudah tidur aja, besok gak usah ngajar kalo masih pusing."

Ryan mengelus kepalanya lalu mencium dahinya membuat Serina mendongak, lihat Ryan sekarang begitu perhatian tapi Serina tidak yakin kalau pria itu akan tetap seperti ini jika ia mengatakan sedang mengandung anaknya. Ryan bisa saja menolak kehadirannya, maka dari itu Serina memilih untuk tidak mengatakannya entah sampai kapan.

Apa ia akan mengatakan jika perutnya sudah membesar?

Sekarang Serina tidak ingin memikirkan apapun karena saat ini matanya begitu berat dan merasa nyaman berada di dalam dekapan Ryan, Serina bergumam tidak jelas ketika punggungnya dielus-elus membuatnya semakin mengantuk.

"Jangan berhenti." Gumam Serina.

"Hmm?"

"Jangan berhenti elus-elus."

"Emm." Jawab Ryan dengan gumaman. Tidak lama dari situ Serina benar-benar tertidur dengan tarikan napas yang teratur.

Malam hari Serina berusaha tidak berisik dan membangunkan suaminya, ia benar-benar tersiksa karena rasa mualnya yang begitu sering.

Serina mengelus perutnya pelan. "Nak kenapa kamu bangunin Ibu jam segini." Gumam Serina setelah keluar dari kamar mandi dan saat ini perutnya begitu lapar.

Serina melangkahkan kakinya keluar kamar dan berjalan ke dapur, karena malas Serina hanya mengambil roti. "Sayang gak apa-apa kan Ibu belum bilang sama Ayah kamu kalo kamu udah ada di perut Ibu?"

"Ibu takut kalo Ayah kamu marah dan gak mau." Lirihnya sedih.

Serina kini terduduk dan mengunyah rotinya. Tiba-tiba Serina tersenyum dan mengelus lagi perutnya. "Tapi gak apa-apa kalo Ayah kamu gak mau, Ibu sayang dan tetep mau kamu ada."

"Sehat-sehat ya biar nanti kita ketemu dan temenin Ibu biar gak sendiri." Lanjut Serina sambil menunduk.

"Besok kita ke dokter minta anter Tante Ital aja ya." Bisiknya setelah menuntaskan rasa laparnya dan kembali masuk ke kamar.

Serina merebahkan tubuhnya dan mendekat ke arah Ryan kemudian mengendus-endus aroma tubuh suaminya. Serina tidak mengerti kenapa tapi ia begitu menyukai aroma tubuh suaminya.

"Ayah wangi ya?" Gumamnya sambil tersenyum kemudian kembali memejamkan matanya.

Esoknya Ryan sudah terbangun dan rapih dengan pakaiannya, Serina baru terbangun hendak bangkit tapi Ryan segera menahannya.

"Eh mau kemana? Kamu hari ini gak usah ke sekolah."

"Aku udah gak apa-apa kok."

Tapi Ryan segara menggelengkan kepalanya. "Sehari aja istirahat dulu."

Serina terdiam kemudian mengangguk, lalu ia menoleh ke arah dasi Ryan yang miring.

"Ryan sini."

"Hmm?" Jawabnya sambil menyisir rambutnya.

"Dasi kamu miring, sini aku benerin." Ujar Serina lalu terduduk.

Ryan mendekat dan duduk di hadapan Serina, dengan lincah istrinya itu membuka dan kembali memasangkan pola dasinya.

Ryan menunduk melihat jari lentiknya yang begitu lihai membuatnya tersenyum kecil lalu pandangannya kembali menatap wajah Serina.

"Kamu cantik." Celetuk Ryan.

Sebelah Mata ✔️Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang