4 bulan lalu dengan penasaran untuk pertama kalinya Sarah mencoba merokok. Entah darimana pemikirannya, ia hanya ingin mengalihkan beban pikirannya. Tidak, anggap saja ini beban hidupnya yang harus ia tanggung sendiri.
Kepergian kedua orang tuanya begitu membuatnya terpukul, setiap kali mengingatnya hanya akan ada rasa sesak yang Sarah rasakan. Berada di titik terendahnya ia memilih jalan yang salah untuk mengalihkan pikirannya.
Bukan hanya dirinya tapi ia juga harus bertanggung jawab terhadap kembarannya, tapi demi Tuhan ia tidak pernah menganggap Serina sebagai beban di hidupnya. Ia bersyukur masih ada Serina, tidak hidup sebatang kara seperti pemikiran terburuknya.
Sarah tidak pernah mengatakan pada Serina kalau akhir-akhir ini ia tiba-tiba begitu down, hanya Krystal yang tahu dan selalu menemaninya di gudang belakang.
Dan sekarang Sarah menyesal.
Menyesal karena Serina tahu apa yang ia lakukan tempo lalu.
Sudah 2 hari ini adiknya itu tidak mau berbicara dengannya, Serina akan langsung masuk ke kamar dan mengunci pintunya. Makan pun tidak pernah satu meja, Serina akan membawanya ke kamar.
Tau apa yang membuatnya lebih kaget? Serina pergi lebih dulu ke sekolah lebih pagi dari biasanya dan Sarah tidak tahu sama sekali
"Serina.""Udah bangun?" Tangannya masih mengetuk-ngetuk pintu kamar Serina.
"Adik-..." Pintu yang tidak dikunci membuat Sarah langsung masuk ke dalam. Dirinya sudah khawatir karena tidak ada Serina.
Tiba-tiba ia dikagetkan dari notifikasi yang muncul di handphonenya, satu pesan masuk dari Krystal. 'Sar, tadi adik lo ngechat gue katanya dia udah berangkat duluan.'
Sarah menghela napasnya kemudian menunduk, ia benar-benar khawatir karena takut kembarannya itu terjadi sesuatu. Buru-buru Sarah menuju rumah Krystal dan mengajak sahabatnya itu agar cepat pergi.
Sesampainya di sekolah ia bisa bernapas lega melihat adiknya sudah ada di kelas. Tiba-tiba Sarah kembali merasa kesal setiap melihat Ryan, ada rasa benci setiap kali ia harus berpapasan.
Ketika pulang sekolah tiba, Serina hanya akan mengatakan pada Krystal bahwa ia ada kerja kelompok. Nyatanya gadis itu hanya berdiam diri di perpustakaan sekolah sampai sore tiba.
"Serina kamu lagi ngapain disini sendiri?" Ryan cukup kaget melihat Serina yang hanya menelungkupkan tubuhnya diatas meja perpustakaan.
Serina perlahan bangun dan menegakkan tubuhnya. "Ryan k-kamu ngapain disini?" Serina malah balik bertanya setelah laki-laki itu duduk dihadapannya.
"Aku ya mau baca buku disini." Jawab Ryan polos.
"Serina... Mata kamu kenapa?" Lanjut Ryan bertanya.
"A-ah aku cuman ngantuk aja." Bohongnya.
"Tapi mata kamu sembab Serina." Ujar Ryan sambil mengusap halus ujung matanya.
"Ryan..." Lirih Serina kemudian matanya kembali berkaca-kaca.
"Eh Kenapa?"
Gadis itu menggeleng lemah. "Mau temenin aku disini?"
Ryan terdiam beberapa saat kemudian mengangguk mengiyakan. "Tolong bangunin aku satu jam lagi ya." Lanjut Serina kembali menelungkupkan kepalanya diatas meja.
"O-oke."
15 menit Ryan hanya terdiam memperhatikan Serina yang tertidur, ada sedikit rasa penasaran yang Ryan rasakan melihat temannya seperti ini.
Ryan ikut menelungkupkan kepalanya dengan punggung tangan yang menempel pada pipinya. Sebelah tangan lainnya terulur mengelus kepala Serina dengan lembut. "Serina... Ada apa? Kamu gak biasanya kaya gini." Ucapnya lembut.

KAMU SEDANG MEMBACA
Sebelah Mata ✔️
Romance(COMPLETED) Tatap mataku maka kamu akan tetap melihat dia dalam pancarannya.