Seven

530 92 36
                                    

Pagi hari menyingsing Ryan buru-buru memakai seragamnya. Atensinya berhenti pada jajaran buku di lemari khusus ia menyimpan buku-bukunya. Dengan pelan tangannya menyusuri setiap buku kemudian menarik satu novel. Ia jadi ingat beberapa hari yang lalu kalau Sarah menyukai novel bergenre horror seperti dirinya.

Meskipun sekarang ia sedang menimang-nimang apakah ia harus memberikannya sendiri atau tidak. Karena apa, jelas ia masih mengingat di hari itu pula entah kenapa Sarah benar-benar kesal kepadanya.

Gadis itu begitu kesal karena ia membersihkan tangan teman sekelasnya. Ryan jadi bingung sendiri, ada apa sih sebenarnya? Ia jadi bingung sendiri selalu dimarahi Sarah.

"A cepet turun kata Mami."

Ryan menoleh kaget. "H-hah? Iya iya."

Terserah saja Ryan langsung memasukkannya ke dalam tas, masalah nanti buku ini diterima atau tidak oleh Sarah itu urusan nanti. Sekarang ia harus cepat-cepat turun untuk sarapan.

Oiya setelah kejadian ditendang tempo hari benar saja malamnya paha Ryan biru-biru. Dan ketika ia menanyakan pada Kai lewat chat ternyata temannya itu juga sama. Bahkan Kai mengirimkan foto pahanya yang terdapat memar membuat Ryan mengernyit.

Oiya sejak saat itu juga sudah beberapa hari ini mereka tidak pernah pergi ke kantin sekolah ketika jam istirahat tiba.

Serina dan Wilona keheranan kenapa 2 temannya selalu tidak pergi ke kantin di jam istrihat. Dan keduanya beralasan kalau mereka lebih asik bermain game.

Pernah Sarah datang masuk ke kelasnya dan tentu perempuan itu masuk karena Serina dan Wilona.

Mungkin?

Oiya tentu saja sudah bisa di tebak kalau Sarah mendelik padanya. Tapi ia kadang merasa bingung juga karena sesekali perempuan itu diam-diam memperhatikannya.

"A udah janji ya mau ikut taekwondo sama Adek nanti pulang sekolah." Peringat Papinya.

"Iya ah iya." Ujar ya malas.

Jadi tadi malam Ryan setuju untuk mencoba ikut taekwondo dengan adiknya, Stella. Sebenarnya itu bujukan Ayahnya yang terus memaksa. Dan untung saja pelatih adiknya ini berlatih dirumah lebih tepatnya di halaman belakang rumahnya. Kalau ia harus pergi ke luar Ryan sudah pasti menolak. Ia tidak mau kalau harus menyesuaikan dengan orang lain.

"Ah tapi Aa takut Mi." Keluhnya pada Mami sambil cemberut.

"Gak apa-apa sayang kan bertahap, lagian gak akan di apa-apain juga sama pelatihnya."

"Bukan sama pelatih tapi sama dia nih." Tunjuk Ryan pada Stella.

"Apa nyalahin Adek?"

"Iya Aa suka ditendangin sama Adek."

"Kapan? Wah play victim padahal Aa suka mukul dan jitak kepala Adek."

"Kamu yang play victim, kapan Aa suka mukul?" Pekik Ryan kesal.

Ryan dan Stella saling betatapan tajam satu sama lain, hingga deheman Papi mengalihkan keduanya. "Udah berantemnya? Atau masih mau lanjut?"

"Udah." Cicit keduanya sambil menunduk.

"Sok kalau masih mau lanjut." Keduanya menggeleng takut.

"Udah udah makan aja sekarang." Lerai Mami membuat kedua anaknya mengangguk.

Ryan menjulurkan lidahnya hendak mengejek. "Awwww liat kaki Aa ditendang Adek."

"Apasih enggaaak." Elak Stella.

"Stella." Tegur Papi.

"Enggak ih Adek gak nendang."

"Lama-lama Papi lempar kalian berdua ke planet ya."

Sebelah Mata ✔️Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang