Twenty Two

670 84 51
                                    

"Hei."

Ryan menoleh kaget. "Sarah, loh udah beres kelasnya?"

Sarah mengangguk sambil tersenyum. "Udah, dosen aku gak masuk jadi aku langsung aja kesini."

"Yaudah mau kemana sekarang?"

"Makan yuk aku laper."

"Oke." Jawab Ryan sambil merangkul Sarah.

"Oiya Serina belum keluar? Tadinya biar ajak aja sekalian makan siang bareng kita." Ujar Sarah sambil mendongak.

Ryan hanya mengedikkan bahunya. "Belum kali, biasanya kalo udah beres fakultas dia rame kok." Sarah hanya mengangguk mengerti.

Setelah keduanya sudah di mobil, Ryan segera melajukan mobilnya dan mencari cafe and resto. Tidak butuh lama untuk Ryan dan Sarah memesan makanan sesaat setelah mereka sampai di tempat tujuannya.

Sarah tersenyum dan segera mengeluarkan handphone dari tasnya kemudian membidik objek di depannya dengan kamera handphone beberapa kali. Bayangkan bagaimana bisa laki-laki di depannya begitu tampan hanya sekedar sedang menoleh ke arah jendela?

 Bayangkan bagaimana bisa laki-laki di depannya begitu tampan hanya sekedar sedang menoleh ke arah jendela?

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Sarah melihat beberapa hasil jepretannya. Senyumnya perlahan hilang kemudian digantikan oleh kerutan tidak suka diwajahnya. "Kamu pake anting?" Celetuk Sarah masih menunjukan kerutan diwajahnya.

"Hah?"

"Ck kamu ngapain pake anting hah?!"

"O-oh astaga aku lupa tadi si Reno temen sekelas nitip tapi malah di pakein ke aku." Jawab Ryan dan Sarah bersandar di kursi dengan bersedekap tangan.

"A-ku gak di anting kok apalagi sampe di piercing sayang." Lanjut Ryan meyakinkan.

"Buka."

"Hah?"

"Buka! Copotin antingnya sekarang!" Tekan Sarah.

Ryan mengangguk cepat kemudian mencoba melepaskan antingnya. Ia melotot kaget karena ternyata cukup susah. "Susah Yang." Cicitnya membuat Sarah berdecak.

"Sini maju badan sama kepalanya." Menurut, Ryan memajukan tubuh dan kepalanya.

"Aaa-aaa sakit ampun jangan di jewer."

"Suruh siapa dianting hah?!"

"Kan aku udah bilang si Reno, aaaw." Ryan meringis ketika anting ditelinganya ditarik tanpa perasaan.

"Motivasi kamu apaan pake anting? Mau cari perhatian dari cewek lain?"

"Enggak ada itu beneran si Reno yang pasang di telinga aku." Jelas Ryan. Dalam hati ia merutuki teman sekelasnya itu, lagi pula mau-maunya dia dipasangkan anting.

Sarah kembali berdecak dan memperhatikan anting yang sudah berada di tangannya. "Ini bukan anting cewek atau dari cewek lain kan?"

"Bukan, bukan, bukan."

Sebelah Mata ✔️Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang