C I R C U M S T A N C E S (8)

148 18 0
                                    

Tidak ada hal yang lebih membahagiakan dibanding terbebas dari Seokjin selama 3 hari terakhir. Setelah pertengkaran singkat mereka pagi itu-- karena sebungkus es krim. Han Jiwon memilih mengabaikan Seokjin yang terus menghubunginya dan ia bersembunyi di apartemen kecil miliknya. Meski kemungkinan besar Seokjin menyusul, karena kelaki itu tahu alamat apartemen Jiwon. Tapi, Jiwon dapat bernafas lega karena Seokjin ada syuting di Pulau Jeju sampai minggu depan.

"Rasakan! Bagaimana repotnya syuting ditempat jauh tanpa asisten. Memangnya dia fikir hanya dia yang bisa berbuat seenaknya," gerutu Jiwon yang saat ini sedang bersantai di ruang tamu apartemennya. Gadis itu sedang melumuri wajahnya dengan masker bengkoang, sambil membaca novel terbaru Kim Eun Jeong yang dibelinya kemarin sore.

Ah! Betapa menyenangkannya hidup tanpa Kim Seokjin. Jiwon seperti mendapatkan kebebasannya kembali, ia bisa bangun siang, bisa bersantai seharian di rumah, berjalan-jalan keliling Seoul sesuka hati dan tidur nyenyak di malam hari tanpa harus memikirkan bagaimana harinya di esok hari bersama Seokjin.

Jika boleh jujur, sebenarnya Jiwon agak tertekan bekerja pada lelaki itu. Ia seperti tidak pernah memikirkan dirinya sendiri. Bayangkan saja, hari-harinya hanya diisi dengan apa yang diperlukan Seokjin hari ini, apa yang harus dibawa lelaki itu saat bekerja, makanan apa yang disukai dan tidak disukai serta semuanya tentang Seokjin. Bahkan, di dalam tas Jiwon pun penuh dengan barang-barang milik lelaki itu.

Sekarang, bahkan jika mau, Jiwon bisa melompat-lompat dan berguling di lantai saking senangnya.

"Ah! Ternyata seperti ini rasanya hidup bebas," teriak Jiwon sambil merentangkan kedua tangannya.

Tapi kemudian ia mengumpat, karena ia sedang memakai masker wajah.

"Aiiiish!" gadis itu memegang pelan wajahnya.

Hari ke tujuh Jiwon hidup tanpa Seokjin. Pagi ini gadis itu bangun dengan semangat, bahkan ia keluar dari kamar sambil bersenandung. Pasalnya, pagi ini ia ada janji dengan adiknya Jihyun untuk menghadiri pesta pernikahan salah satu pepupunya di Busan. Ah, betapa bahagianya Jiwon akan bertemu dengan keluarganya, apalagi sang ibu. Jiwon sangat merindukan mereka.

Ketika hendak mengambil cangkir warna merah muda untuk menuangkan air minum, tiba-tiba Jiwon teringat dengan Seokjin, bagaimana kabarnya lelaki itu ya? Seokjin sudah tidak meneror Jiwon dengan telepon atau pesan ancaman lagi, mungkin lelaki itu sudah lelah.

"Ah, kenapa juga aku memikirkan lelaki egois sepertinya? Mau dia kembali atau tidak, aku tak peduli. Hatiku sudah sakit karena penghinaan yang terus dia berikan padaku," kesal Jiwon meletakkan kembali cangkir merah muda itu di kabinet-- sedikit membanting. Ia tidak ingin memakai cangkir yang dibelikan Seokjin saat BTS konser di Amerika 2 tahun lalu. Jiwon mengambil cangkir yang lain.

Lagipula, masih ada waktu tiga hari untuk hidup tanpa Seokjin.

Jiwon membasahi kerongkongannya yang kering dengan air mineral, tiba-tiba ia tersedak saat mendengar ucapan seseorang di belakangnya.

"Sepertinya hidupmu bahagia tanpa aku selama seminggu."

Ketika Jiwon sudah berhasil menghentikan batuknya, ia tak segera menoleh. Gadis itu menggigit bibir bawahnya dengan khawatir. Ia terus merapalkan doa dalam hati kalau ia hanya sedang berhalusinasi. Tidak mungkin Seokjin tiba-tiba berada di dalam apartemennya. Memangnya Seokjin hantu yang bisa bergentayangan di mana-mana?

"Hei, Han Jiwon, aku berbicara padamu?" Jiwon terlonjak karena bentakan itu.

Jiwon yakin, ia sedang tidak berhalusinasi sekarang. Perlahan, Jiwon membalikkan tubuhnya. Benar saja, Seokjin berdiri dengan jarak sekitar setengah meter darinya. Lelaki itu sedang memelototinya sambil berkacak pinggang.

"B-bos, bagaimana anda bisa masuk?" ujar Jiwon lirih, hampir tak terdengar.

"Kau lupa aku tahu sandi apartemenmu?"

Aigoooo! Kebodohan macam apa yang ia lakukan 3 tahun lalu dengan memberikan sandi apartemennya pada Seokjin?

"A-ah, iya Bos. Aku lupa. B-bos silakan duduk. Ingin minum teh, kopi atau …"

"Soju!" jawab Seokjin cepat.

"T-tapi aku tidak punya Soju," bohong Jiwon. Padahal, gadis itu menyediakan beberapa botol Soju di lemari pendinginnya.

Plug!

Jiwon menjerit kesakitan saat Seokjin menjitak kepalanya sedikit keras. Gadis itu memberengut. Kenapa sekarang Seokjin senang sekali melakukan kekerasan fisik padanya?

"Tidak usah membohongiku, Gadis Nakal! Kau pikir aku tidak tahu kau gemar sekali mengkonsumsi minuman beralkohol? Dan … oh ya! Kau pikir aku juga tidak tahu apa yang kalu lakukan selama tidak bersamaku?"

Seokjin menaikkan dagunya-- menantang Jiwon.  Lelaki itu bersidekap.

Jiwon berdiri dengan gelisah di tempatnya. Gadis itu baru sadar, statusnya sekarang bukan hanya sebagai asisten lelaki yang sedang mengintimidasinya ini. Tapi, ia adalah istri dari lelaki ini. Meski pernikahan mereka tidak di dasari cinta, tetap saja Jiwon tak pantas melakukan hal-hal yang tidak boleh dilakukan oleh perempuan yang bersuami.

"Kenapa diam? Tidak berani mengakui?" tantang Seokjin. Sedangkan Jiwon masih setia menundukkan kepala. Ia benar-benar ketakutan sekarang. Nada bicara Seokjin sudah memperjelas seberapa banyak kadar emosi yang melanda lelaki itu.

Tak disangka, tiba-tiba Seokjin mengangkat dagu Jiwon dengan telunjuknyaㅡ supaya gadis itu membalas tatapannya.

"Biar kuatanya padamu, Kim Jiwon," gumam Seokjin. Lagi-lagi hati Jiwon menghangat ketika Seokjin memanggil namanya dengan marga Kim.  Seolah Seokjin tengah mengklaim Jiwon sebagai miliknya.

"Apa yang kau perbuat selama tak bersamaku?"

"Menikmati kebebasan," jujur Jiwon. "Jalan-jalan keliling Seoul, pergi ke toko buku dan membeli banyak novel, menonton drama, pergi ke kedai Naengmyeon langganan anda setiap hari, membaca novel sambil memakai masker," Jiwon membeberkan kegiatannya selama tak bersama Seokjin dengan jantung yang melompat-lompat di dalam dadanya. Pasalnya, jaraknya dengan Seokji saat ini sangat dekat. Bahkan, Jiwon dapat merasakan nafas hangat dan harum lelaki itu.

"Selain itu?"

Jiwon terdiam. Gadis itu susah payah menelan salivanya. Haruskah ia mengatakannya pada Seokjin-- suaminya sendiri?

"Tidak ada," jawab Jiwon mantab.

"Sepertinya kau memang lupa. Kalau begitu biar kuingatkan, Kim Jiwon," ujar Seokjin semakin mendekatkan wajahnya ke wajah sang istri. Sama dengan Jiwon, jantung Seokjin pun saat ini sedang melompat-lompat dengan cepat. Namun lelaki itu berhasil menyamarkannya.

"Mungkin kau lupa dengan hari dimana kau menghabiskan waktu bersama Namjoon, Pergi ke taman dan ke toko buku bersama. Wow!" Seokjin bertepuk tangan sebanyak 2 kali. "Lalu malamnya, kalian berdua pergi ke kelab malam dan minum bersama, bahkan Namjoon nyaris menciummu andai kau tidak berbuat ulah dan menggagalkan aksinya."

Mendadak Jiwon tidak bisa memikirkan apapun. Otaknya seperti meleleh begitu saja. Bagaimana bisa?

Gunungkidul, 10 April 2020

CIRCUMSTANCESTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang