SKY CORNER - If She Sleeps In Front of Him

2.4K 336 621
                                        

Sky Corner: pojok langit; sudut langit

Reaksi cowok-cowok kalau pairnya ketiduran di depan mereka?

1. Vampix

Vampix terlalu keasyikan mengurus dokumen-dokumen OSISnya, sampai-sampai lupa bahwa Yanda telah menunggu agak lama di kursi tinggi. 

Ketika diperiksa, Yanda sudah tertidur lelap dalam posisi terduduk. 

"Nah, kan. Sudah dibilang, tidak perlu menungguku." 

Vampix menghela napas, lalu berjalan mendekati sofa dan berdiri di depan Yanda. 

"Yanda, bangun." 

Baru saja Vampix menepuk pelan bahu Yanda, kepala Yanda jatuh ke arah punggung kursi yang terbuat dari kayu. Vampix yang menyadari itu buru-buru menahan kepala Yanda dengan telapak tangan. Karena ingin Yanda tetap nyaman, Vampix membiarkan saja tangannya terjepit antara kursi dan kepala Yanda.

"...Oh iya, kenapa aku bisa lupa kalau Yanda sangat sulit bangun pagi?" gumam Vampix seorang diri. 

Tanpa menjauhkan tangannya dari kepala Yanda, Vampix memeriksa arloji dengan memiringkan kepala. Daripada leher Yanda yang sakit, lebih baik lehernya. 

Sebentar lagi bangunan cadangan akan segera tutup. Vampix sebaiknya memang membangunkan Yanda sekarang, sebelum mereka berdua terjebak di dalam ruang OSIS tanpa makan malam. 

Tapi pertanyaan sekarang; bagaimana cara membangunkan Yanda? 

Vampix lagi-lagi menghela napas. Dia harus mencari akal. 

Tiba-tiba saja kepala Yanda bergerak pelan. Vampix pikir itu adalah waktunya Yanda untuk bangun, tapi ternyata Yanda tidak juga terbangun. 

"Ya sudah, deh." 

...Vampix pasrah. 

Kalau nanti mereka berdua terjebak di ruang OSIS tanpa makanan, Vampix harus memikirkan cara untuk membawakan makanan untuk Yanda.

Dia masih berdiri. Kalau Yanda tidak bangun sampai besok, itu berarti dia harus berdiri sampai besok. 

Vampix memperhatikan Yanda yang terlelap dengan damai, lalu pelan-pelan mengusap kepala Yanda yang memang sudah ada di tangannya sedaritadi. 

"...Sekarang tidur senyenyaknya, bangun nanti pasti panik sendiri." 

Sudut bibir Vampix terangkat naik tanpa disadarinya, "...Pantas saja banyak yang suka." 

Tiba-tiba nyamuk datang mengibarkan bendera peperangan. Dengan amat berani, nyamuk itu mendarat di pipi Yanda. 

Vampix mengibas-ngibaskan tangan, berharap nyamuk itu tahu diri dan segera pergi. 

TAPI, TIDAK! NYAMUK ITU TETAP MENDARAT DI SANA DAN DIAM, SEOLAH MENANTANG VAMPIX. 

"...Kau hisap darah Yanda setetes, kuhabisi semua keluargamu." Vampix menatap nyamuk itu dengan tatapan dingin. 

Tentu saja, enak saja nyamuk itu seenaknya sendiri. Vampix saja tidak pernah mencoba darah Yanda. Tapi Vampix tidak mau mencoba-coba, walau aroma darah Yanda memang sangat--

"Manusia. Kau itu manusia, Kaito. Tidak boleh tidak tahu diri seperti nyamuk ini." Vampix menenangkan diri sambil menatap tajam nyamuk yang tidak kunjung pergi itu.

Tiba-tiba saja Vampix mendapat ide. Langsung saja dibukanya sayap kelelawarnya dengan ukuran paling besar. Bagian atas sayapnya nyaris menyentuh langit-langit, agak berat tapi Vampix optimis nyamuk itu akan pergi. Lalu Vampix mulai mengepak pelan agar semua udara di ruangan memihak kepadanya. 

DAYDREAM [Random Book]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang