CHAPTER 22a
Senin pagi yang tak biasa bagi Prilly, yang biasanya ia selalu disiapkan sarapan oleh para pelayan di rumahnya, kali ini ia sibuk di dapur memotong sayuran untuk sup asparagus kesukaan Ali. Ia lihat tadi Ali sedang bergegas mandi karena seperti hari biasanya ia harus memantau kinerja dari pekerjanya untuk menyelesaikan halaman belakang rumah Prilly.
"Hei, lagi ngapain?" Tanya Ali yang baru saja turun dari lantai atas dan langsung meletakkan tangannya seperti memagari tubuh Prilly.
"Eh, kamu udah selesai mandinya?aku lagi masak sup buat sarapan kamu, tante Ully tadi udah berangkat pagi-pagi banget" ucao Prilly sambil memotong jamur.
"Ooh, mama udah pergi nih" ucap Ali yang terdengar senang.
"Kenapa emangnya?"
"Berarti kita cuma berdua"
"Truuussss"
"Terusss..."ucap Ali meraih pisau dari tangan Prilly dan menyingkirkannya, lalu meraih pinggangnya untuk menghadapnya. Prilly merangkulkan lengannya di leher Ali, mereka terlibat saling pandang dan tersenyum penuh arti.
"Terus apa?" Tanya Prilly mendongakkan wajahnya ke arah Ali.
"Ga perlu aku bilang" bisik Ali sambil mendekatkan wajahnya meraih bibir Prilly dan menciumnya sangat mesra.
Mengangkat tubuh mungil Prilly dan mendudukkannya di meja dapur tersebut.
Prilly tak mau melepaskan ciumannya, ciuman Ali terlalu nikmat membuatnya mabuk kepayang. Satu-satunya pria yang pernah menciumnya dan diciumnya, seperti tak ada jarak lagi, meskipun Ali belum mengingatnya, tapi ciumannya masih sama, tak ada yang berubah.
Kali ini nafas Ali terdengar sudah memburu, ia mengangkat tubuh Prilly dan menggendongnya dengan posisi masih menciumnya, berjalan ke ruang TV dan merebahkan tubuh Prilly di sofa dan perlahan menindihnya.
Baru kali ini pula Prilly melihat Ali sangat berbeda dengan Ali yang biasanya, sangat macho dan menggairahkan, tanpa sadar Prilly menarik baju Ali dan membantu melepaskannya. Ia bisa melihat jelas otot kekar pria itu, mencium pundak dan dadanya berkali-kali saat Ali perlahan melepaskan kancing kemeja yang ia gunakan.
Hingga saat di kancing terakhir Ali mulai mencumbunya liar dari leher perlahan turun ke bagian atas dadanya, Ali melepaskan kaitan branya dan terkagum saat melihat bagian atas tersensitif milik Prilly yang mulus dan kencang dengan ukuran yang menurut Ali sangat pas, ia mulai mengulumnya penuh gairah hingga sesekali membuat Prilly mendesah.
Ciuman Ali pun perlahan turun ke bawah, dan berhenti di atas perutnya yang kecil, lalu kembali mencium bibir Prilly dengan penuh penekanan sambil mencoba melepaskan kancing celana jeans yang dikenakan Prilly.
Tiba-tiba terdengar dering telepon milik Prilly, panggilan masuk untuknya.
"Ali, handphoneku" ucapnya mendorong tubuh Ali agar berhenti. Ali memasang wajah kecewa namun akhirnya beranjak mengambil telepon genggam Prilly dan memberikannya pada gadis itu.
"Halo, hai, apa kabar, iya, oh....." Prilly menjawab telepon tersebut.
Ali berjalan ke arah kulkas dan mengisi gelasnya dengan air dingin dan perlahan meneguknya. Hasratnya sudah diubun-ubun tapi akhirnya harus tertahan karena telepon yang mengganggu itu.
"Siapa?" Tanya Ali dengan nada sedikit ketus.
"Pasienku, dia ngajakin ketemuan, mau curhat" jawab Prilly memegangi kemejanya yang tak terkancing lagi.
"Cewe apa cowo?"
"Cowo"
"Ngajakin ketemuan dimana?kapan?berdua aja?"tanya Ali.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cutest Cupid
Fanfictionenjadi anak seorang dewa cinta ternyata tak seenak yang dibayangkan manusia, Phirily satu-satunya putri dari dewa cinta Eros (Amor) dan istrinya Phsike harus mendapatkan hukuman karena sudah membuat ayahnya salah menembakkan anak panah pada salah sa...
