Aku terbangun dan kepalaku sedikit pusing. Butuh beberapa saat bagiku untuk benar-benar sadar.
Dan setelah sadar, aku menyadari bahwa aku sedang tidak berada di rumahku.
Aku mencoba berdiri dan berjalan tiba-tiba tanganku terasa sakit. Aku baru menyadari kalau tanganku sedang diinfus.
Aku pun terpaksa memegang tiang infus dan membawanya ke depan pintu untuk mengecek keadaan diluar kamar. Namun saat aku membuka pintu betapa terkejutnya aku melihat wajah Jefri didepanku.
Rasanya seperti mimpi bertemu dengannya sampai aku harus mencubit pipiku sendiri untuk memastikannya. Dan ternyata pipiku terasa sakit.
"Kembalilah ke tempat tidur. Kata dokter lo perlu banyak istirahat" ujarnya sembari masuk ke kamar.
Lalu dia meletakkan nampan berisi makanan dan obat dimeja.
Jefri terlihat sangat dewasa sekarang, penampilannya sangat berbeda dari sebelumnya. Meskipun tatapan dinginnya masih tetap sama.
"Bagaimana bisa gue sampai disini?" aku mencoba untuk terlihat tidak canggung.
"Gue gak sengaja melihat lo di pinggir jalan sedang nangis dan setelah itu lo tiba-tiba pingsan" jelasnya.
"Astaga, pertemuan yang memalukan" batinku.
"Bukannya lo pindah ke Kanada, kenapa mendadak ada di kota ini?"
"Bukan mendadak, gue selalu berkunjung ke kota ini sejak dua tahun lalu"
"Berkunjung untuk apa?" tanyaku heran.
"Papa?" panggil seseorang dibelakangku.
Seorang anak perempuan berlari masuk ke dalam kamar dan memeluk Jefri.
"Papa, aku gak bisa tidur. Mau bobok sama Papa, boleh ya?" ujar anak itu terbata-bata.
"Anak ini memanggil Jefri, Papa? Berarti dia... adalah putrinya?"
Tiba-tiba aku tidak bisa mendengar suara apapun. Pikiranku terasa berputar saat ini dan badanku lemas tak bertenaga.
Hatiku rasanya semakin hancur dalam satu waktu setelah mengetahui Jefri memiliki seorang anak sesaat setelah aku meyadari, bahwa aku adalah anak dari selingkuhan Papaku.
"Darah!" teriak anak itu sambil menunjuk tanganku.
Sontak aku melihat tanganku. Benar saja, darah mengalir dari balik balutan infus ditanganku.
"Tunggu sebentar, aku akan panggil perawat".
Jefri panik sambil membawa putrinya keluar dari kamar.
Aku menatap tanganku yang anehnya tidak terasa sakit sama sekali.
Rasa sesak yang sebelumnya kurasakan di mobil Damian seperti datang lagi. Dan hal itu membuatku ingin keluar dari rumah ini secepat mungkin.
Tanpa menunggu lama aku kabur dari rumah Jefri. Memang tindakanku sekarang sangat tidak sopan tapi aku tidak bisa menahan diriku melihat Jefri bersama putrinya.
Setelah dia pergi aku berusaha melupakannya sebisa mungkin. Tapi nyatanya bayang-bayangnya masih terus melekat diingatanku tanpa pernah bisa pudar.
Sepertinya aku sudah menyimpannya terlalu dalam di hatiku meskipun aku selalu diperlakuan tidak dingin olehnya.
_____
KAMU SEDANG MEMBACA
Stupid Confession
Roman d'amourPernyataan cinta itu meskipun bodoh kelihatannya. Hal itulah yang membuatku menjadi diriku yang sekarang. Terkadang sedikit keberanian untuk mengungkapkan perasaan yang kita miliki pada orang lain tidaklah buruk. Sebab bisa jadi itu menjadi momen pe...
