Pagi hari ini terasa dingin dan langit terlihat mendung seperti tak lama lagi akan turun hujan. Sama seperti suasana hati Jefri dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya dia merasa resah. Dan orang yang bertanggung jawab akan hal itu adalah perempuan yang tak pernah disangkanya mampu melakukan itu. Siapa lagi kalau bukan City.
Penjelasan City saat ditemuinya waktu itu tidak membuatnya puas dan malah membuat dirinya sangat konyol. Semua dugaan yang dia utarakan dibantah dengan begitu santai oleh perempuan itu. Ia mengatakan bahwa ia sama sekali tidak pernah mengikutinya apalagi berniat balas dendam padanya. Padahal kejadian itu benar-benar nyata dan masih melekat di pikirannya hingga membuatnya resah setiap saat.
(Flashback)
"Gue gak bisa nafas, lepasin!" ujarnya mulai sesak.
"Lo mau bunuh gue kan?" teriak Jefri.
Sangking kerasnya suara Jefri, pengunjung yang tak jauh dari mereka dapat mendengar ucapannya dan memandang sinis padanya. Jefri menyadari hal itu memutuskan berbicara di luar Cafe. Namun dia tidak melakukannya dengan baik-baik pada City. Dia menarik tangannya dengan kasar hingga meninggalkan bekas merah.
"Kamu udah gila? Kamu yang teriak dan malu tapi malah aku yang kena. Kamu tahu gak tanganku yang sakit sampai merah begini? ujar City sambil menunjukkan tangannya yang hanya dilirik dengan penuh ketidakpedulian.
"Kalau lo gak mau tangan lo lebih parah lagi. Sekarang jelaskan apa maksud semua petaka itu?" tanyanya dingin.
"Petaka apa? Aku gak ngerti yang kamu bahas sekarang itu apa?"
Jefri mendorong badan City dengan keras hingga membuat punggungnya menabrak dinding dibelakangnya.
"Gak usah sok gak tau, gue udah hampir celaka dan hampir gila gara-gara kelakuan lo. Tapi lo masih sempat-sempatnya sok polos? Sialan" ujarnya sambil tersenyum sinis.
City mendadak menangis bukan hanya karena kesakitan di tangan dan punggungnya. Melainkan ketidakmampuannya memahami perkataan Jefri dan perlakuan tidak adil yang diterimanya.
"Luar biasa akting lo" ujar Jefri yang membuatnya emosi.
Plakkk
Tamparan keras mendarat di pipi Jefri. City benar-benar kecewa dengan cinta pertamanya itu sampai tangannya bergetar.
"Akting? Badanku sakit, tidak. Otakku sekarang mau pecah karena aku gak tahu salahku apa tapi diperlakukan seolah-olah aku penjahat. Kamu masih berani bilang akting?"
"Lo itu emang benar stalker dan lagi mana ada maling yang mau ngaku maling" sindir Jefri.
"Jangan suka ambil kesimpulan, kamu bahkan gak punya bukti yang kuat untuk menuduhku. Itu hanya asumsi kamu semata. Dan satu hal lagi kalau kamu menuduh aku stalker lagi, aku gak akan tinggal diam" ujarnya kesal.
City beranjak pergi dari situ dan membuat Jefri terdiam. Baru kali ini dia merasa diabaikan.
"Gue belum selesai bicara!" Jefri menarik kuat lengan City.
"Mau saya teriak supaya orang lain gebukin kamu? Saya dari tahan untuk gak ngelakuin itu karena saya masih pakai sisa perasaan suka saya sama kamu" ujarnya sambil menatap sinis.
"Gadis ini tidak sebodoh yang kubayangkan. Sepertinya dia benar-benar sangat marah sampai gaya bicaranya sangat berbeda" batin Jefri.
Dia akhirnya menahan amarahnya dan melepaskan tangannya dari gadis itu.
"Kalau dari tadi kamu gak kasar dan mengajak bicara baik-baik hal ini gak bakal terjadi. Jangan pikir karena saya suka sama kamu hal itu buat kamu bisa ngelakuin apa saja sama saya semena-mena."
Jefri mencoba untuk tenang seperti saran City padanya. Padahal yang sebelumnya tak biasanya dia mendengar ucapan orang lain.
"Lo dendam sama gue?" tanyanya mulai lembut.
"Kenapa kamu mikir gitu?"
"Surat-surat yang gue terima yang penuh dengan caci-maki seolah-olah gue orang paling buruk di dunia. Itu semua dari lo kan?"
"Kenapa lo bisa seyakin itu kalau itu dari gue?"
"Karena dari semua cewek yang pernah gue buat patah hati. Gue gak pernah sekalipun dapat surat kayak gitu. Dan perempuan terakhir yang gue hadapin itu cuma lo, apa alasan itu gak cukup jelas lagi?" tuturnya yang membuat City termangu.
"Teror lain seperti pot bunga yang jatuh didepan gue waktu gue jalan dan handphone gue yang gue temuin di meja lo. Semua kejadian itu terjadi setelah gue permalukan lo didepan teman-teman gue. Terus setiap gue papasan atau lihat lo di sekolah, anehnya lo selalu ngelirik aneh kearah gue seolah-olah lo mau hancurin hidup gue. Sama gue lihat lo pegang pisau diparkiran waktu itu. Apa jangan-jangan itu pisau yang mau lo pakai buat bunuh gue nanti?" sambungnya.
"Imajinasimu benar-benar luar biasa" ujar City sambil tepuk tangan.
Pisau seolah-olah tertusuk di jantung Jefri. Dia merasa dipermalukan oleh perempuan yang IQ-nya bahkan jauh dibawah dirinya.
"Berani-beraninya lo bilang itu imajinasi? Kalau gitu sekarang lakukan pembelaan lo terhadap semua kejadian itu" ucapnya sambil melipat tangannya.
"Saya sama sekali gak lakuin hal yang kamu utarakan barusan, jadi buat apa saya melakukan pembelaan? Lagian pisau yang kamu lihat itu punya pak Dion yang saya pinjam untuk motong tali pembungkus buku karena gak ada gunting waktu itu. Dan ngelihat kamu diparkiran itu sambil pegang pisau hanya sebuah kebetulan, bukan saya mau bunuh kamu atau semacamnya, paham?"
"Kalau sisanya saya gak tau karena sekali lagi itu bukan saya. Surat, pot bunga, hp hilang itu gak ada urusannya sama saya. Kalau kamu mau anggap ini pembelaan terserah saya gak perduli. Jadi sekarang berhenti ganggu saya dengan tuduhan gak masuk akal kamu" lanjut City lalu beranjak pergi dari situ.
"Oh, satu lagi. Aku memang bukan perempuan yang pintar tapi aku gak akan melakukan hal semacam itu untuk balas dendam" ujar City sebelum menutup pintu untuk kembali masuk kedalam Cafe.
Ia dengan berani meninggalkan Jefri yang masih terdiam tidak percaya. Dia benar-benar tidak menyangka akan seperti ini jawaban yang diterimanya padahal dia sudah sangat yakin dengan dirinya.
Sudah berhari-hari dia dihantui oleh teror-teror itu namun nyatanya semua yang dialaminya itu seperti hal konyol setelah mendengar penjelasan City.
(Flashback Off)
Setelah berpikir keras semalaman Jefri yang masih dihantui kegelisahannya memutuskan menemui City kembali. Dia masih tidak terima dengan semua jawaban yang diterimanya. Dia merasa bahwa dia tidak sebodoh itu untuk mempercayai semua kejadian yang dialaminya adalah lelucon.
Dia pun mencoba menemui City sebelum bel masuk berbunyi. Dia mencari dari Perpustakaan, Kantin hingga UKS namun tidak terlihat batang hidungnya disana. Untungnya dia tidak menyerah karena akhirnya dia menemukannya di aula sekolah sedang berdiri diatas panggung.
"Apa yang sedang dilakukan gadis aneh ini diatas sana?" batinnya.
.
.
.
.
.
.
Next?
KAMU SEDANG MEMBACA
Stupid Confession
RomancePernyataan cinta itu meskipun bodoh kelihatannya. Hal itulah yang membuatku menjadi diriku yang sekarang. Terkadang sedikit keberanian untuk mengungkapkan perasaan yang kita miliki pada orang lain tidaklah buruk. Sebab bisa jadi itu menjadi momen pe...
