Pernyataan cinta itu meskipun bodoh kelihatannya. Hal itulah yang membuatku menjadi diriku yang sekarang. Terkadang sedikit keberanian untuk mengungkapkan perasaan yang kita miliki pada orang lain tidaklah buruk. Sebab bisa jadi itu menjadi momen pe...
Aku berlari ke balik pohon di taman belakang sambil lanjut menangis. Aku bingung mengapa aku selalu berakhir ketempat ini padahal ada banyak tempat di sekolah yang bisa kudatangi. Sepertinya tempat ini memiliki magnet tersendiri bagi pengunjung yang melewatinya.
Jantungku tiba-tiba berdegup kencang dan kepalaku terasa sangat sakit. Suatu kilasan memori terlintas dikepalaku tentang ingatan akan seorang anak laki-laki dan perempuan sedang tertawa bersama. Mereka terlihat bermain dengan bahagia yang membuatku cemburu. Sayangnya wajah mereka tidak bisa terlihat dengan jelas olehku sebab ingatanku terlalu samar. Ketika kupaksa untuk mengingat, yang ada malah kepalaku terasa mau pecah.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Dasar cengeng!"
Aku mendengar suara dari orang yang tidak kuharapkan kedatangannya. Sontak aku langsung tersadar dari lamunanku setelah mendengar suara Jefri yang baru saja mengataiku.
Saat aku membuka mata hampir saja aku jatuh karena posisinya yanh berdiri sangat dekat denganku. Hampir tidak ada jarak antara kami saat ini.
"Depan gue sok kuat ternyata cengeng juga aslinya. Kalau lo gak bisa ngelawan orang jangan sok kuat. Jangan sok jadi pahlawan kalau lo gak tahu orang itu butuh pertolongan atau gak" ujarnya saat aku sedang mencoba menjaga jarak darinya.
"Ikut campur urusan orang lain hanya semakin memperburuk masalah hidup kita. Seharusnya lo belajar itu supaya bertahan hidup di dunia egois ini" sambungnya.
Baru kali ini dia bicara banyak padaku. Walau ucapannya barusan sangat dingin tapi dibalik itu, secara tidak langsung dia sedang memberikan saran bukan atau ini hanya perasaanku saja?
"Lo udah ketemu cara lain selain jadi pacar gue?" tanyanya tiba-tiba.
Dia sepertinya sudah mencurigai bahwa aku menghindar darinya karena aku belum menemukan ide lain untuk memutihkan namaku.
"Sepertinya belum ada, kalau begitu sekarang mau gak mau lo harus setuju sama ide gue" ucapnya sambil mendekatkan wajahnya.
Wajahku pasti sudah memerah sekarang. Semoga saja dia tidak menyadarinya. Tapi bagaimana dengan suara degup jantungku yang sedang menggila, apa dia mendengarnya?
"Kalau lo takut akan reaksi orang ke lo setelah setuju dengan ide gue. Lo gak perlu khawatir, karena gue bakalan buat hubungan ini senatural mungkin sampai orang gak bakal curiga sama sekali kalau kita hanya pura-pura" jelasnya sambil menjauhkan kembali wajahnya dariku.
"Kenapa sih lo ngotot sama ide ini?" tanyaku penasaran.
"Gue udah bilang kalau ide ini satu-satunya cara buat gue yakin lo bukan penguntit itu. Setiap hari pikiran gue gak tenang sebelum gue dapat dalang dibalik teror yang gue alami. Lo mungkin anggap reaksi gue berlebihan, tapi itu gak akan ngubah apapun dari keputusan gue."
Aku terdiam setelah kehabisan kata-kata dari penjelasannya barusan. Sebenarnya aku tidak bisa paham persis perasaannya tapi mendengar ucapan dan mengingat hal yang dialaminya, seharusnya semua itu cukup meninggalkan trauma.
"Menurut lo gue ambil resiko besar seperti ini hanya main-main dan tanpa pertimbangan apa? Bisa gak lo bayangin betapa berbahayanya ide ini buat gue?" tanyanya yang sekali membuatku tertegun.
Dia benar. Melakukan ide ini sebenaranya bisa saja membahayakannya. Meskipun bukan aku penguntitnya namun jika diibaratkan akulah penguntitnya, maka akan semakin mudah bagiku menyakitinya karena tidak ada lagi batasan antara kami.
"Gue gak bisa janji, gak bakal bikin lo nangis dan kecewa nantinya kalau memang itu yang lo khawatirkan. Gue juga gak bakal janji jadi pacar yang sempurna. Tapi pastinya perlakuan yang gue kasih ke lo nanti adalah usaha gue yang semaksimal mungkin".
Aku terdiam dan anehnya air mataku mendadak keluar tepat setelah mendengar ucapannya barusan. Aku sangat bodoh tidak bisa mengontrol diri dan reaksiku pada ucapannya yang sama sekali tidak romantis. Padahal jelas-jelas dia berjanji akan menyakitiku tapi aku malah terharu mendengarnya.
"Lo sadar gak muka lo itu jelek waktu nangis?" ledeknya sambil tertawa.
Dia mengambil ponsel dari kantongnya lalu menyalakan kamera. Dia memotretku yang sedang berdiri penuh air mata di pipiku. Bahkan dengan tidak ada akhlaknya, dia masih bisa menunjukan hasilnya padaku.
Aku tidak lagi mendengar ucapannya padaku saat menunjukkan foto itu padaku. Perasaan aneh dalam diriku tiba-tiba keluar melihat tawanya dengan foto wajahku. Id memintaku untuk melakukan hal yang tidak masuk akal dimana super egoku tidak mampu menahannya.
Aku mendekat diri padanya. Tanganku tanpa aba-aba merangkul badannya yang tinggi dan bersandar dengan nyaman disana. Walau pelukan ini hanya sesaat saja tapi aku benar-benar ingin melakukannya.
Dia sadar bahwa aku sedang melakukan hal yang tidak seharusnya terjadi diantara kami. Dengan sigap dia melepas pelukanku denngan mendorong ku pelan. Aku tidak marah padanya karena tindakanku barusan memang sulit dipahami logika.
"Sepertinya lo salah paham sama maksud perkataan gue. Yang gue maksud adalah kalau lo setuju sama idenya, gue bakal tetap jadi diri gue yang lo biasa lihat dan gue gak mau lo terbawa perasaan sama gue contohnya kayak tadi" tuturnya sambil menatapku serius.
"Gue sadar sama apa yang gue lakuin dan yang tadi itu gak bakal terjadi lagi. Gue salah" ujarku sambil menunduk malu.
"Baguslah kalau lo ambil keputusan karena gue gak mau ada salah paham. Jadi, dari tindakan lo barusan bisa gue artikan lo setuju sama ide gue kan?"
Aku berpikir sejenak mengenai ide ini dan kuputuskan untuk membersihkan namaku dari semua tuduhannya. Walaupun aku tidak tahu jalannya kedepan seperti apa diantara kami. Tapi aku berusaha untuk tidak menaruh harapan tinggi padanya untuk jatuh cinta padaku. Sebab dia tidak akan pernah perduli padaku apalagi jatuh cinta.
Lihat saja, saat ini dia sama sekali tidak ada rasa khawatir atau perasaan iba melihat keadaanku yang terluka parah. Bahkan sekedar menutupi kemejaku yang koyak dia tidak mau, apalagi harapan dia akan menumbuhkan rasa padaku. Harapan itu sama saja dengan menunggu ayam beranak atau burung berenang dengan insang.
"Bagaimana?" tanyanya lagi.
"Baiklah, aku setuju tapi dengan syarat, kalau aku sudah terbukti atau tidak hubungan ini harus berakhir tanpa ada satupun yang tahu kalau kita cuma pura-pura, mengerti?"
"Tenang saja, aku tidak akan melakukan hal bodoh yang merusak reputasi ku" katanya dengan santai.
Aku tidak percaya menyetujui ide gila ini. Dimana aku akan berpacaran dengan pria paling dingin yang punya mulut tanpa filter seperti Jefri. Semoga saja aku tidak babak belur seperti hari ini setelah berpacaran dengannya karena aku yakin ada banyak hati yang akan terluka saat tahu aku pacaran dengannya.