Halo! Gimana kabar kalian semua? I hope you guys are doing okay. :D
Setelah sekian tahun lamanya menulis cerita ini, saya baru ingat saya pernah bikin sebuah storyboard tentang adegan Sweet Mileva yang diculik. Saya pun akhirnya memutuskan untuk memublikasikannya di sini.
Bab di bawah ini sama sekali enggak ada yang saya ubah, jadi emang asli tanpa edit tanpa tambahan dkk. Nanti alasan kenapa saya enggak jadi memasukkan adegan ini ke dalam cerita bisa kalian lihat di bawah.
Oya, Happy Garrix Day! :)
===
Aku membuka mata ketika kesadaranku perlahan pulih. Di saat yang sama, kepalaku berdenyut kencang. Perih mendera beberapa bagian tubuhku. Aku mencoba memahami apa yang terjadi sambil mengedarkan pandangan ke penjuru ruangan.
Di mana aku?
Tempat itu berpencahayaan minim, dengan dinding penuh noda berwarna kelabu. Aku mencoba bergerak lagi tetapi tangan dan kakiku terikat. Beberapa meter di seberangku, seorang pria sedang tiarap, tangannya juga terikat. Aku mengamatinya yang bergelimang cairan kental bewarna merah, mulai dari rambut, wajah, hingga pakaian. Lantai di sekitarnya berubah menjadi kolam darah. Napasnya berat, kelopak matanya yang membiru berusaha mati-matian untuk tetap terbuka.
Itu Martijn!
Aku tak sanggup melihatnya. Ia rupanya telah dihujani banyak pukulan. Mungkin dia sedang sekarat saat ini. Air mataku mengalir perlahan, tak sanggup menyaksikan kematian yang hampir menjelang di depanku. Kalau mereka saja memperlakukan Martijn seperti itu, bagaimana dengan Nils? Apakah saat ini ia sudah mati?
"Hei," katanya kemudian. Suaranya setengah berbisik. "Jangan menangis."
Aku malah menangis semakin keras.
"Uh, dasar," gerutunya. "Pantas saja Nils menyebutmu merepotkan ... kau malah menangis ... saat aku menyuruhmu ... untuk tidak menangis ...."
"Menurutmu siapa yang tidak menangis saat mendengar ucapan seperti itu dari orang yang sebentar lagi akan mati?"
Martijn malah terkikik. "Jadi kau pikir aku akan mati?"
Aku hanya mengamatinya, masih menangis.
"Aku seperti kucing ... punya sembilan nyawa ...." Ia terbatuk.
"Diamlah! Melihatmu yang hampir mati membuatku menderita!"
"Aku akan diam ... kalau kau juga ... diam," ujarnya. "Dengar. Kau akan mati sebentar lagi."
"Bagaimana kau bisa menyuruhku diam dengan ucapan seperti itu?"
"Aku belum ... selesai .... Kau akan mati kalau kau hanya menangis di situ ... tapi bila kau ... melakukan sesuatu, kau tidak akan ... mati."
[narasi]
"Jadi apa yang harus kulakukan?"
"Mendekatlah."
Aku beringsut menghampiri Martijn. Dia menyuruhku berbalik. Ajaibnya, walau kelihatan sudah tak sanggup hidup, dia mampu bergerak dan duduk membelakangiku.
"Mereka mengikatmu dengan tali, sedangkan mereka merantaiku," kata Martijn. Kurasakan ikatan di tanganku melonggar perlahan saat Martijn mulai mengutak-atiknya. "Mereka pikir kau begitu bodoh sampai tidak bisa menyelamatkan diri."
Ini pertama kalinya aku merasa bersyukur dianggap bodoh. Dan stigma itu menempel padaku semenjak Nils sering mengataiku demikian di depan Jim. Oh, aku harus berterima kasih pada Nils nanti! Tentunya setelah menyelamatkannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear Mr. Rondhuis
FanfictionDear Mr. Rondhuis, Sehubungan dengan beredarnya lowongan pekerjaan sebagai sekretaris di perusahaan Anda, saya, Sweet Mileva Buchenwald, sangat tertarik dengan lowongan yang perusahaan Anda tawarkan. Untuk itu, dengan datangnya surat elektronik ini...
