Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Extra Chapter 2: Dear Mr. Rondhuis 2?

1.3K 117 30
                                        

Plis baca dulu yang ditulis tebel sebelum kalian baca extra chapter di bawah.

Jadi dulu saya sempat kepikiran ngebikin Dear Mr. Rondhuis 2. Saya nyoba bikin bab pertamanya, yang bisa kalian tebak, adalah cerita yang saya tulis di bawah ini. Lucunya, pas saya bongkar-bongkar folder, rupanya saya udah nulis outline buat Dear Mr. Rondhuis 2 sebanyak 10 bab, yang saya aja lupa kapan saya buatnya. Saya mau aja sih nulisnya, tapi masalahnya saya belum tau apa ending ceritanya dan apa tujuan Yellow Claw Company di DMR 2. Makanya saya baru buat bab satunya.

Enjoy!

---

"Nascha!" Nils berjongkok mengamati dinding ruang makan yang penuh dengan coretan krayon. "Apa yang Ayah bilang soal mencoret di dinding lain selain kamar tidurmu?"

"Seni?"

Rahang Nils mengeras. "Rochelle!" teriaknya.

Bagai pelari maraton, Rochelle muncul sambil membawa pengocok telur. "Ya, Sir?"

Nils menoleh, menunjuk coretan krayon dengan wajah seperti ingin mendepak asisten rumah tangganya itu dari Galaksi Bimasakti.

"I-itu, Sir, sejujurnya aku tidak tahu kalau ia menggambar di sana," ungkap Rochelle gugup. "Chace yang sepertinya lebih tahu."

"Mencoret," ujar Nils mengoreksi. "Bukannya aku sudah bilang kalau Nascha hanya boleh mencoret-coret di kamar tidurnya? Cat dinding ruang makan ini tidak sama dengan cat yang ada di kamarnya! Dan itu artinya tidak bisa dihapus!"

"Aku akan memberitahu tukang kebun untuk mengecatnya nanti, Sir," ujar Rochelle. "Dan Chace."

Wanita berambut oranye itu pun berlalu—aku yakin sebenarnya ia kesal juga, tetapi lebih memilih untuk cepat-cepat pergi demi menghindari omelan Nils bagian kedua.

Masih tidak puas dengan jawaban pembantunya, Nils pun berseru lagi, "Chace!"

Lelaki muda bermata sipit itu muncul tak lama kemudian. "Iya, Sir?"

Nils menunjuk coretan krayon dengan wajah seperti ingin menyingkirkan lelaki Asia itu ke alam baka.

Chace terperangah. "S-sir, i-itu—"

"Jangan memberiku ekspresi seolah kau terkejut begitu. Kau tahu soal ini, bukan?"

"Aku tidak tahu kalau Nascha menggambar di sana!"

Nils memutar bola mata. "Tidak adakah satu makhluk hidup di rumah ini yang mau mengakui bahwa ia melihat Nascha mencoret-coret dinding dengan brutal?"

Aku tertawa.

Nils menoleh. "Kenapa kau tertawa, Mils? Apa kau yang membiarkan Nascha mencoret-coret dinding?"

"Itu namanya menggambar, Nils Sayang."

"Oke, sekarang aku tahu kaulah yang memang membiarkan Nascha melakukan itu." Nils memberengut, bangkit dari tempat ia berjongkok dan menyuruh Chace mengambil cat—meskipun lelaki itu berdalih ia sedang membereskan mainan Nascha di lantai dua.

Nils menyukai semua yang dilakukan Nascha kecuali satu hal: menggambar di dinding. Entah mengapa Nils tidak bisa memberi toleransi sedikit pun untuk hal yang satu itu, meskipun orangtuanya sudah menjelaskan bahwa lumrah saja bagi anak kecil menggambar di dinding. Aku pun sudah menjelaskan bahwa itu kenakalan kecil, dan ia tidak perlu semarah itu hingga ingin melenyapkan semua orang di rumah.

Meski demikian, ia sengaja mengatur kamar tidur putrinya itu agar memiliki dinding dengan cat yang bisa dihapus bila dicoret-coret. Ia juga telah melatih Nascha untuk hanya mencoret di kamarnya. Padahal, gambaran yang disebut Nils coretan itu tidak seburuk kelihatannya.

Dear Mr. RondhuisCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang